Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Maret 2014

Dia

             Angin malam yang berembus lembut, basahnya genting yang kuinjak, langit malam yang menawan mata dengan titik-titiknya yang bercahaya, membuatku semakin nyaman dengan suasana malam ini. Inilah kebiasaan yang sering kulakukan, untuk menghilangkan beban yang membuat pikiran dan hatiku tak keruan. Aku pergi keluar kamar lalu bergegas menuju lantai atas. Aku duduk di atas genting sambil menikmati malam yang begitu tenang. Tak peduli sedingin apapun malam ini, asalkan langit penuh dengan cahaya bintang. Angin malam pun serasa menjadi hangat bagiku. Mengenang seseorang yang telah pergi. Seseorang yang sangat berarti untukku, dan membuatku lemah akan cinta.
***
Malam ini adalah malam yang agung bagi seluruh umat islam. Pergantian tahun hijriyah telah tiba, dan semua umat muslim merayakannya dengan kesederhanaan. ‘Pawai obor’. Ya, perayaan itulah yang sering dilakukan di daerahku, untuk memperingatinya. Aku dan Agus tak ingin melewatkan perayaan ini. Aku berangkat pukul 5 sore bersama Agus. Kami pergi menggunakan sepeda motor agar lebih cepat menuju masjid tujuan kami.
“Bisa sambil ngeceng nih, Mad,” canda Agus sesampainya di masjid yang mulai dipadati oleh santri-santri pesantren lain.
“Hahaha.. dasar kamu, Gus, paling sigap kalau masalah perempuan,“ ucapku.
“Hehe..kan menyelam sambil minum air, Mad,” katanya lagi.
“Iya iya, Gus, terserah kamu saja.”
Aku hanya menanggapinya dengan wajar, karena sebagai lelaki normal, pasti akan ada niat seperti itu. Kami pun berjalan menuju masjid sambil memperhatikan orang-orang di sekeliling kami. Kami pun sampai di depan pintu masjid.
“Mad! Perempuan itu, Mad! Cantiknya…” Agus menepuk pundakku dan menunjuk seorang wanita yang berada tak jauh dari kami.
“Mana, Gus, yang mana?” tanyaku yang kebingungan dengan sikap Agus.
“Itu yang memakai kerudung ungu, pakaiannya juga berwarna ungu. Cantik, kan, Mad?”
“Hmm.. biasa aja ah, Gus, haha...” kataku setengah meledek.
“Ah, Ahmad Ahmad.. dari dulu kau itu tak pandai kalau masalah perempuan,” Agus hanya menggelengkan kepalanya.
“Memang tidak. Kalau aku pandainya tentang pelajaran, Gus,” godaku. “Udah ah, Gus. Yuk masuk, acaranya udah dimulai,” ajakku pada Agus.
Di dalam masjid, ternyata sudah banyak masyarakat yang begitu antusias dalam acara pawai obor ini. Kami mulai mencari tempat duduk yang tampaknya sudah penuh oleh yang lain. Beberapa lama kemudian, akhirnya ada panitia yang membantu mencarikan tempat duduk untuk kami berdua. Tempat duduk yang sudah diatur, terpisah antara laki-laki dan perempuan, menandakan acara ini bukan acara yang biasa.
Setelah menemukan tempat duduk, kami mulai menyimak acara yang sebentar lagi akan dimulai. Acaranya terdiri dari pembukaan, sambutan, tausiyah, sesi tanya jawab berhadiah, do’a akhir tahun dan acara puncak, yaitu pawai obor. Saat aku memperhatikan tausiyah, tak sengaja aku melihat seorang wanita. Sepertinya ia wanita muslimah. Ia berpenampilan serba biru. Kulihat sebuah kamera terkalung di lehernya, tak lupa nametag yang juga ia kenakan. Pasti ia panitia di sini, dan mungkin ia yang mendokumentasikan acara ini, pikirku. Tapi, entah mengapa ia begitu memikatku, yang biasanya sulit tertarik dengan wanita manapun.
“Gus, kau lihat tidak perempuan yang pakaiannya serba biru itu?” tanyaku kepada Agus.
“Perempuan yang mana, Mad?” tanya Agus sambil menengok ke kanan dan ke kiri.
“Eehh.. itu tuh yang di depan, yang membawa kamera,” tunjukku mengalihkan pandangan Agus pada wanita tersebut.
“Oh, iya, emang kenapa, Mad? Kamu suka, ya?” goda Agus sambil tersenyum simpul.
“Hmm, gak apa-apa, aku cuma bertanya saja,” jawabku malas.
“Ah, cie Ahmad, kasmaran, haha…” ia terkekeh melihatku.
“Hahaha, iya terus kenapa, Gus? Gak boleh, ya,”
“Haha ya boleh, malah bagus. Biar kamu gak murung terus gara-gara masa lalu kamu itu, Mad,” kata Agus dengan mimik muka serius.
“Hmmm… kamu, masa lalu dibicarakan lagi. Udah ah, fokus lagi sama acaranya,” Agus hanya mengangguk dan tersenyum kecil.
Aku berusaha untuk fokus, tapi sebenarnya pikiranku sudah kacau akibat dari memikirkan wanita serba biru tadi. Parasnya yang anggun, senyum tipis yang manis, matanya yang sipit semakin membuatku tak ingin berhenti memandanginya. Andai saja aku bisa berkenalan dengannya, bertanya siapa namanya, dan bisa lebih dekat dengannya. Walau kini dia sudah tak berada di hadapanku, tapi pikiran dan hatiku seperti sudah terkunci untuk membayangkan perempuan itu. Tak terasa, waktu pun berlalu. Kami akan menutup tausiyah ini dengan berdoa di akhir tahun. Aku harus fokus! bisikku dalam hati. Setelah itu, kami bersiap-siap untuk shalat maghrib berjamaah.
“Hey, Mad, jangan banyak dilamunin tapi action, dong! Deketin dia, ajak ngobrol, tanyain namanya, kalau bisa minta saja nomornya, hehe..” tiba-tiba Agus membuyarkan lamunanku yang baru selesai berwudhu. Ya karena wanita serba biru itu, dalam sekejap telah membuatku terus memikirkannya.
“Apa sih, Gus, kayak yang tidak tahu aku saja. Mengajaknya berbicara? Mendekati perempuan saja, aku gemetaran, apalagi mengajaknya berbicara, bisa-bisa pingsan aku, Gus. Memangnya kamu mau, menggendongku kalau aku pingsan?” candaku pada Agus.
“Ya.. gak maulah.. tapi sampe segitunya sih, Mad, kamu sama perempuan yang kamu suka! Parah nih si Ahmad,” Agus mendecak kesal.
“Hahaha.. iyaa itulah aku gus.. lagi pula belum tentu kan, aku suka sama perempuan itu. Sudah, aku mau shalat dulu,” kataku sambil berlalu darinya menuju masjid.
Seusai sholat, semua rombongan yang mengikuti pawai obor, dipersilakan untuk segera menuju halaman masjid. Pembagian obor pun dilakukan dan kami diberi pengarahan oleh salah seorang panitia. Mereka sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Ada yang sedang membagikan obor, ada yang sibuk memberi pengarahan, dan ada juga yang sibuk mendokumentasi. Dokumentasi? Aku teringat pada wanita yang mengalungkan kameranya itu. Kupicingkan mataku, lalu kubiarkan pandanganku berkeliling mencari seseorang yang sedang mengisi pikiranku saat ini. Ya perempuan itu!
“Ehem! Pasti lagi nyari perempuan yang bawa kamera itu ya, Mad. Hahaha… Ahmad jatuh cinta di malam tahun baru,” lontar Agus tiba-tiba.
“Apaan sih, Gus. Nggak ko, cuman lagi nyari toilet,” kataku yang membohongi Agus.
“Alaahh, kau jago sekali kalau soal ngeles, Mad, jujurlah! Aku kenal kamu bukan 1 atau 2 hari, aku kan teman SMP dan SMA mu, sudah hampir 6 tahun kita bersama. Aku tahu sifat dan sikap kamu seperti apa, termasuk saat kamu berbohong. Kamu suka, kan, pada perempuan yang berkerudung biru itu?” tanya Agus yang masih penasaran. Aku menghela napas panjang.
“Hmm.. iya, Gus,” akhirnya aku mengakui perasaanku.
“Naahh gitu, dong. Lagi pula aku setuju kok. Kalau kamu mau berusaha, pasti kamu bisa,” ucap Agus yang menyemangatiku.
“Tapi, Gus, apa aku bisa? Kamu tahu kan, bagaimana aku jika menyangkut masalah perempuan,”
“Aduh, Ahmad..Ahmad, menyerah sebelum berperang. Kau sendiri yang bilang padaku waktu itu. Cinta itu adalah salah satu sumber kekuatan, yang membuat manusia bisa melakukan apa yang sebelumnya tidak dapat dilakukan. Ayolah, Mad, buktikan kata-kata teguhmu itu. Jangan jadi kata-kata yang terbuang sia-sia,” tegas Agus. Ya aku ingat, aku pernah berkata itu pada agus.
“Alaahh.. ya sudah jangan terlalu dipikirkan, nanti kamu pingsan, terus bisa-bisa aku yang repot,” canda Agus padaku yang terus membisu. Aku pun langsung tertawa bersamanya.
Selang beberapa lama, semua rombongan telah mendapatkan obor bambunya, lalu panitia membantu menyalakan obor, satu persatu. Setelah semua menyala, kami dan rombongan yang lainnya mulai berjalan, dipimpin panitia yang berada di depan.
Malam yang indah membuat kami semakin bersemangat, seperti obor yang kami pegang, berapi-api. Kami berjalan dengan diiringi sholawat dan puji-pujian, yang kami tujukan pada Allah dan Rasulullah, membuat kami tak memikirkan rasa lelah yang kian mendera. Ketika aku ikut bersholawat, wanita yang memikatku tadi datang dengan kameranya, dan kini ia berada di depanku. Dia sedang sibuk mendokumentasikan, tapi tak mengarahkan kameranya kepadaku. Ketika ia sedang memotret, aku bertingkah so’ akrab padanya.
“Hey foto di sininya juga, dong!!” teriakku kepada perempuan serba biru itu.
Dia mengalihkan pandangannya ke arahku, lalu ia tersenyum. Ia langsung mengarahkan kameranya,  menandakan ia akan memotretku. Aku bingung harus bergaya seperti apa, kuajaklah Agus agar aku bisa lebih percaya diri. Blitz kamera berkali-kali menyala, membuatku tahu jika ia memotretku beberapa kali. Merasa cukup, ia melihat ke arahku. Ia pun tersenyum kembali, lalu sibuk memotret yang lain. Aku sangat bersyukur, malam yang agung ini aku dipertemukan dengan seorang kaum hawa, yang sekejap mengalihkan pikiranku.
“Cie disenyumin..” Agus menggodaku.
“Iya, Gus, kelepek-kelepek aku, Gus,” aku pun tertawa.
“Bisa lebay juga kamu, Mad, haha”
Tak terasa kami sudah berkeliling jauh dan kami sudah sampai di tempat semula, masjid. Obor-obor kami pun dipadamkan, dibantu juga oleh para panitia. Semua rombongan tampak lelah. Panitia mulai membagikan konsumsi. Aku dan Agus duduk di halaman dekat masjid. Saat kami sedang menyantap konsumsi, seseorang memanggilku.
“Kang Ahmad!” Aku langsung mencari seseorang yang memanggilku. Ternyata dia Azis, adik kelas di sekolahku.
“Hei, Zis.. kamu ikut pawai obor juga?” tanyaku karena tak melihatnya saat pawai berlangsung.
“Tidak, Kang. Saya sebagai panitia, saya ditugaskan untuk mengatur rombongan di depan,” jelasnya.
“Oh, pantesan, tadi gak keliatan,” kataku. Tak sengaja, aku melihat wanita serba biru itu lagi, aku langsung bertanya pada Azis.
“Hmm.. Zis, akang mau nanya, kamu kenal perempuan yang pake kerudung biru itu?” tunjukku pada wanita itu.
“Oh, kenal dong, Kang. Namanya Mia, seksi dokumentasi di acara ini. Dia juga temen sekelas saya, Kang. Memang kenapa, Kang?” ia balik bertanya.
“Oh, Mia. Hehe tidak, Zis. Cuma nanya aja, makasih, ya,” aku pun tersenyum. Azis pun pamit untuk meninggalkan kami karena ia akan bertugas kembali.
Aahh ya Tuhan ternyata namanya Mia, dan dia satu sekolah denganku, dia juga adik kelasku! Bahagianya aku bisa mengetahui namanya, walau tak bertanya langsung padanya. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Selesai beristirahat, sampailah di acara penutupan. Agus pamit untuk pulang lebih dulu, karena mendapat tugas dari ibunya. Saat aku siap-siap untuk pulang, aku berpapasan dengan wanita serba biru itu.
“Kang, nanti fotonya saya tandain, ya, di facebook,” katanya sambil tersenyum padaku.
Aku salah tingkah. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman dan mengangguk setuju. Lalu ia pun pergi dengan senyuman manis di bibirnya. Bahagianya aku malam ini, ternyata ia mengenalku. Aku tak mengerti bagaimana dia bisa mengenalku sedangkan aku sendiri baru melihatnya sekarang? Perasaan bahagia, bingung dan tak mengerti pun bersatu. Bayangan wanita itu terus memenuhi pikiranku saat aku di perjalanan untuk pulang. Semoga aku bisa bertemu dengannya nanti. Ya, bertemu dengannya, yang akan menambah keindahan hidupku ini. Wanita bernama Mia. Ya, Mia.


Untuknya
Cinta itu membahagiakan
Tergantung cara kita memunculkanya
Perasaan tidak akan membohongi hati
Dan tak bisa ku pungkiri bahwa hatiku ini telah terjatuh
Sesosok bidadari biru yang langsung menggodaku
Merubah hidup ku yang keluh dengan masa lalu
Berubah sekejap menjadi sebuah anugerah yang indah untuk ku
Memutarbalikan semua kenangan buruk tentang rasa dan hati
Menghilangkan lamunan ku tentang masa lalu yang gelap menjadi masa depan yang terang
Kau muncul dengan kesederhanaanmu yang indah
Bayangan mu yang terus berputar
Membuat ukiran yang perlahan muncul di hati dan pikiranku
Walau ku tahu ku tak akan bisa memilikimu
Tapi aku manusia…
Manusia yang berhak berharap dengan harapan yang tak pasti
Karena aku tahu Tuhanlah yang maha tahu
Dan Dia lah yang paling tahu apa yang terbaik untuk hambanya
Termasuk aku…

By: M Sirod M

Jumat, 07 Maret 2014

Jejak Kenangan


Sumber cahaya terbesar mulai menampakkan sinarnya. Rerumputan dipenuhi dengan embun yang memantulkan sinar mentari, membuat kilaunya terlihat indah. Pagi yang cerah menyambut hari istimewaku. Hari ini merupakan hari ulang tahunku yang ke-17. Orang-orang biasa menyebutnya dengan ‘Sweet Seventeen’. Aku berharap, ada seseorang yang bisa membuat hari ini begitu istimewa. Mungkinkah dia tahu hari ini? tanyaku pada diri sendiri.
            Kutunggu dengan debar yang tak biasa. Sesekali kupandangi ponsel yang kusimpan di atas meja belajar. Berharap ‘dia’ menjadi orang pertama yang mengucapkannya. Namun harapan hanya tinggal harapan, kutunggu dari pukul dua belas malam hingga pukul enam pagi, tapi ia tak mengucapkannya sama sekali.  Aku tersenyum kecut. Ya sudahlah, dia kan bukan siapa-siapaku. Aku langsung bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Ayah dan ibuku memberi ucapan selamat. Setidaknya, mereka masih ingat dengan hari ini, meskipun tidak akan ada perayaan mewah seperti teman-teman pada umumnya.
***
“Hai, Mia! Selamat ulang tahun, ya!” tiba-tiba Via ---sahabatku--- mencubit dan menampar pipiku di depan pintu kelas. Ternyata, dia sudah menungguku dari tadi. Aku langsung memeluknya, dan berterima kasih padanya karena ia telah ingat dengan hari jadiku. Teman-teman yang mendengar langsung menoleh pada kami, lalu mereka pun bergantian mengucapkan ‘Selamat Ulang Tahun’ padaku. Tapi, tidak dengan lelaki yang sedang duduk di bangku itu. Ia terkesan tak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya.
“Ri, kamu gak akan ngucapin tuh ke Mia? Lihat deh, dari tadi dia melihat ke arahmu terus!” tanya Via yang suaranya terdengar sampai ke telingaku.
“Ah, nanti saja. Hmmm, dia kan punya mata. Ya biarkan saja dia melihat kemanapun yang ia suka,” jawab Fahri ketus. Aku sungguh kecewa dengan jawabannya. Tapi, untuk apa aku marah? Aku kan bukan siapa-siapanya, aku hanya pengagum rahasia yang belum bisa berkata jujur padanya. Biarkan sajalah, yang penting, hari ini harus menjadi hari yang paling menyenangkan! Aku kembali tersenyum.
Via datang menghampiriku. Ketika ia akan berbicara, aku langsung membuka mulut, “Sudahlah, aku sudah tahu apa yang akan kamu bicarakan,” kataku seraya mengembangkan senyum termanisku. Via tak menjawab apapun, yang ia lakukan hanyalah mengusap punggungku. “Aku tidak apa-apa, Vi. Serius deh,” nadaku meyakinkan. Via mengangguk dan tak membahasnya lagi.
***
Malam telah tiba, dan Fahri masih membungkam mulutnya. Ah, lebih baik aku tidur saja, ucapku dalam hati. Aku langsung menutup badanku dengan selimut. Satu jam kemudian, ponselku bergetar, dan akupun terbangun. Ternyata ada satu pesan dari Fahri. Ia sengaja memilih menjadi orang yang terakhir untuk mengucapkan selamat padaku. Aku hanya tersenyum membaca pesannya, lalu kembali memejamkan mata tanpa membalasnya. Tiba-tiba ponselku bergetar cukup lama. Setelah kulihat, ternyata Fahri meneleponku. Ketika kuangkat, ia mematikan secara sepihak. Kenapa dia ini? Lalu ada lagi yang meneleponku, hanya saja, yang ini disembunyikan nomornya.
“Mi, pesanku sampai?” suaranya terdengar khas di telingaku. “Aku minta maaf, ya, baru mengucapkannya sekarang,” lanjutnya
“Fahri, ya? Tidak apa-apa, kok. Terima kasih, ya. Maaf, ini sudah malam, tadi aku sudah tidur, jadi pesanmu tidak sempat kubalas,” kataku panjang lebar.
“Eh, iya, harusnya aku yang meminta maaf. Aku telah mengganggu waktu istirahatmu. Ya sudah, sampai jumpa besok di sekolah, ya. Maaf aku tidak bisa memberikan apa-apa padamu, assalamu’alaikum,” aku hanya menjawab salamnya saja, karena takut ayah dan ibuku terbangun mendengar percakapanku dengan Fahri.
            Keesokan harinya, aku belajar dengan giat, karena hari Senin adalah hari pertamaku melaksanakan ujian kenaikan kelas.
            Hari pertama ujian, aku bisa mengerjakannya dengan baik. Meskipun aku sendiri tidak tahu, jawabanku benar atau tidak. Tiba-tiba saja, sikap Fahri padaku menjadi berbeda. Setiap ia melihatku, senyum simpul selalu merekah di bibirnya. Ah, jangan geer maksimal, Mi! Dalam perjalanan pulang, ponselku mati karena habis baterai, padahal sebelumnya kulihat ada satu pesan dari Fahri. Aku berjalan tergesa-gesa menuju rumah. Penasaran dengan isi pesan yang dikirim Fahri lima belas menit yang lalu.
“Mi, aku memang bukan seseorang yang pandai merangkai kata sepertimu. Namun, ternyata perasaan ini semakin mendesakku, agar segera berbicara padamu. Aku menyukaimu. Entah sejak kapan, entah apa penyebabnya, yang jelas aku menyukaimu, Mi. Aku siap dengan jawaban apapun. Yang terpenting, aku sudah memberanikan diri untuk mengungkapkan semua ini.”
            Aku terkejut dengan isi pesan tersebut. Tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku belum siap untuk menjalin kasih lagi. Akhirnya kuputuskan untuk menjadi sahabat spesial saja. Mungkin ini aneh, karena aku juga menyukai Fahri. Tapi, separuh hatiku masih tertinggal di kekasih lamaku. Fahri harus berjuang keras untuk merebutnya.
***
            Semenjak terkirimnya pesan itu, aku dan Fahri lebih dekat dari sebelumnya. Meskipun kami tidak berpacaran. Kami sering bertukar cerita dan berbagi ilmu. Itulah yang kusuka dari Fahri. Ilmu yang ia punya begitu luas, dan membuatku terkagum-kagum. Apalagi dengan ilmu agamanya. Selain menjadi seorang siswa di sekolah, ia juga seorang santri di pesantren dekat sekolahku. Karena itulah, aku tidak mengiyakan, ketika diajak berpacaran.
            Dua minggu kemudian, aku berencana untuk pergi ke bioskop dengan Fahri. Namun gagal, karena tak ada satupun film yang membuatku tertarik. Akhirnya, kami pergi ke toko buku. Setelah sampai di sana, kamipun membaca buku yang kami inginkan.
“Mi, ini ceritanya bagus, tentang seorang ibu dan anaknya,” ucap Fahri sambil menyodorkan sebuah buku.
“Emang kamu ngerti, buku yang bagus itu yang kayak gimana?” jawabku setengah meledek. Fahri menatapku sinis. Aku terkekeh melihatnya, ia pun ikut tersenyum. Beberapa jam kemudian, cacing di perutku mulai berteriak, “Lapaaar….” Aku langsung mengajak Fahri untuk mencari makan.
“Kamu lapar? Mmm, aku tahu tempat makanan yang enak, tapi murah! Ayo, naik ke motor!” ajaknya.
***
            Kami langsung makan dengan lahap. Saat aku sedang makan, ada sekumpulan lelaki yang melihatku. Aku risih dan langsung berkata pada Fahri. Fahri menatap balik ke arah mereka, dan akhirnya mereka pun pergi. Setelah selesai, kami pergi ke masjid untuk beribadah. Kemudian, kami bergegas untuk pulang ke rumah.
“Kamu sih enak, uangnya habis tapi jelas barangnya. Membeli buku, dan kerupuk untuk kakakmu. Lah aku? Habis hanya untuk membayar parkir,” kata Fahri di perjalanan pulang.
“Aduh, maaf, ya. Aku ganti uangmu, berapa semuanya?” kataku sambil merogoh saku jaketku.
“Hahaha….aku hanya becanda, Mi, tenang saja. Tidak apa-apa ko, lagian kan tidak seberapa. Aku minta maaf, ya? Aku tidak bisa membelikanmu apa-apa. Bahkan, makan saja, kita harus bayar masing-masing. Harusnya aku yang bayar semuanya, termasuk makanan kamu,” ujarnya dengan nada pelan di akhir kalimat. Aku hanya tersenyum saja tanpa menjawab kata-katanya.
            Setengah jam kemudian, kami sampai ke depan rumahku. Kakakku sedang berdiri tepat di halaman rumah yang cukup luas. Aku dan Fahri segera turun dari motor. Lalu Fahri mencium tangan kakakku. Ah, ia sopan sekali! gumamku dalam hati.
“Fahri, ya? Mia sering bercerita pada kakak tentangmu,” ucap kakak sambil mendelik ke arahku. Aku memukul bahunya. Fahri menggaruk kepala yang tak gatal. “Sini masuk dulu, Fahri. Tidak usah malu-malu padaku,” lanjutnya.
            Kakak perempuanku yang hanya satu-satunya ini memang sangat cerewet. Banyak hal yang ia perbincangkan dengan Fahri. Kakak membuat aku malu saja! Setelah satu jam, Fahri berpamitan pulang. Aku mengantarnya sampai ke depan rumah, dan melambaikan tangan padanya.
“Cieee, manis juga tuh, Mi,” goda kakakku.
“Apaan sih, Kak?” wajahku seketika memerah. Akupun tersenyum.
***
            Dua bulan berlalu. Ada yang berbeda dengan Fahri. Akhir-akhir ini, ia lebih banyak menghindar. Ada apa, ya? tanyaku pada diri sendiri.
“Vi, kata kamu, ada yang berubah gak dari Fahri?” tanyaku pada Via yang baru muncul di balik pintu kelas.
“Ada! Jadi sering bareng kamu, kan?” jawabnya setengah tersenyum.
“Ih, bukan itu! Kerasa gak sih, kalau dia akhir-akhir ini kayak yang menjauh dari aku,” Via hanya menggelengkan kepalanya. Ia sama sekali tak merasakan perubahan apapun dari Fahri. Aku pun berhenti memikirkannya, karena kupikir itu tak ada gunanya.
            Bel pulang berbunyi. Semua siswa begitu gembira ketika mendengarnya. Aku dan yang lain cepat-cepat pulang, untuk mengerjakan tugas yang telah diberikan oleh guru kimia.
***
            Malam pun tiba. Ketika aku sedang berkonsentrasi mengerjakan soal, ponselku bergetar. Ternyata ada pesan masuk dari Fahri. Setelah kubaca pesannya, tak terasa cairan bening dari mataku meleleh dan membasahi boneka beruangku.
Maaf aku tidak bisa bersamamu lagi, Mi. Aku takut menyakitimu lebih banyak. Aku kasihan dengan orang-orang yang dekat denganku, khususnya kamu. Pasti aku sering menjadi penyebabmu sakit hati. Intinya aku minta maaf, jika aku sering menyakitimu, juga perasaanmu. Mungkin, dan semoga saja ini yang terakhir kalinya aku menyakitimu.
            Aku cepat-cepat menghapus air mataku dan membalas pesan Fahri. Dia hanya berargumen, “Aku tak ingin menyakitimu, Mi.” Aku semakin bingung. Yang kulakukan hanyalah menangis. Saat akan kutelepon, ponselnya sudah tak aktif. Tangisku malah semakin menjadi. Aku menyumpal mulutku dengan selimut, agar suara tangisku tak terdengar sampai keluar kamar.
            Keesokan harinya, mataku sembab dan sedikit membengkak. Mungkin karena menangis semalaman. Di kelas, aku tak berani berbicara sepatah katapun.
“Mi, are you okay?” tanya Via padaku. Aku tak menjawab apa-apa. “Mi, kenapa? Ada masalah? Cerita, dong, Mi!” Via mengulang pertanyaannya dengan nada meninggi.
“Aku baik-baik saja, Vi. Biasa aja kali nanyanya, gak usah sewot gitu,” jawabku setengah tertawa.
“Kamu gak akan bisa bohong sama aku, Mi. Kamu ada masalah apa? Mungkin aku bisa bantu,” ucapnya dengan nada direndahkan. Akhirnya, aku bercerita pada Via. Tentang Fahri, tentang tadi malam, dan tentang pesan-pesan yang ia kirimkan padaku. Aku menangis sejadi-jadinya. Via langsung memelukku dengan erat. Pelukan sahabat memang obat yang paling tepat bagiku saat ini.
“Mi, kamu sudah bertanya langsung pada Fahri?” tanya Via. Aku mengangguk pelan. Dengan cepat, aku menghapus air mata yang membanjiri kedua pipiku. “Sudah, jangan menangis lagi. Ada Fahri, tuh. Sabar, ya, Mi. I know that feel,” sambung Via.
            Semenjak itu, aku menjadi pemurung. Berbeda dengan yang kemarin-kemarin. Setelah pulang sekolah, aku langsung berlari ke kamar. Mengunci pintu dan menyumpal mulutku lagi dengan selimut. Dan untuk yang kesekian kalinya, aku menangis. Tak peduli dimana dan kapan, aku selalu menangis jika mengingat pesan yang dikirim Fahri. Dua hari penuh, air mataku selalu terjatuh. Mataku semakin sayu.
            Kupikir-pikir lagi, rasanya ini berlebihan. Aku mencoba menata hatiku yang berantakan. Memulai hari yang baru, meskipun hubunganku dengan Fahri tidak senyaman dulu lagi. Memang sejak itu, kami tidak pernah bertegur sapa. Kami seperti orang yang belum pernah bertemu. Tapi, aku selalu berusaha agar hubungan kami bisa seperti dulu lagi.
***
            Tiga bulan berlalu. Aku mulai terbiasa dengan keadaan ini. Sesekali, aku menjenguk akun jejaring sosialnya. Sekadar mencari tahu, dengan siapakah ia sekarang. Sampai suatu hari, kulihat percakapannya dengan seorang wanita yang tak kukenal. Aku langsung membaca percakapan mereka di timeline milik Fahri. Dan ternyata, wanita itu adalah kakak kelas Fahri ketika di SMP, dan mereka membicarakan mantan kekasih Fahri.
            Semakin jauh kubaca, kutemukan kebenaran di sana. Ternyata cinta lama Fahri bersemi kembali. Wajahku terasa panas. Aku berusaha untuk menahan kecemburuanku. Namun, aku gagal. Dadaku semakin sesak dibuatnya. Tenggorokanku semakin sakit akibat menahan tangis. Aku memberanikan diri untuk bertanya pada Fahri melalui pesan singkat. Namun, tak ada balasan. Keesokan harinya, Fahri memanggilku dan menjawab pertanyaanku yang tadi malam. Ternyata benar, dia memang kembali pada masa lalunya. Dia mengakui hal yang tak pernah kuduga, dia menyayangiku , tapi ia juga masih menyayanginya. Seketika tubuh ini terasa ringan. Aku hampir terjatuh mendengarnya.
            Butiran kristal bening itu kembali meleleh. Aku langsung berlari menuju toilet. Mencuci muka agar mataku tidak terlihat merah. Setelah mampu menenangkan diri, aku kembali ke kelas dengan membubuhkan sedikit senyuman di bibirku. Via langsung mendekatiku. Entah mengapa, ia selalu tahu dengan apa yang kurasakan, meskipun aku belum menceritakannya.
***
            Aku pulang ke rumah dengan keadaan sendu. Ternyata dia penyebabnya, penyebab Fahri meninggalkanku. Kubuka laptopku dan membuka jejak kenangan masa lalu, yang pernah kulukiskan bersama Fahri, ditemani dengan lagu kenangan kami berdua. Kutengok lagi foto-foto yang merekam kebersamaan kami, membuatku harus menitikkan air mata, entah untuk yang kesekian kalinya.
            Rasanya ini lebih sakit daripada masa laluku. Ketika aku sudah berhasil menyayanginya, ia malah pergi meninggalkanku. Menyisakan sejuta kenangan indah yang telah dilalui bersama. Aku benci diriku sendiri! Aku sulit menetralkan perasaanku pada Fahri. Kepada siapa seharusnya aku akan melabuhkan hatiku?
Fahri…kuharap engkaulah pelabuhan cinta terakhirku… bisikku lirih.

Rabu, 05 Maret 2014

Haruskah Kami Hancur

      Pertengkaran ini terasa sudah tak asing lagi. Bukan satu atau dua gelas yang terbang tak tentu arah. Terkadang harus ada si kecil nan tajam yang membuahkan cairan berwarna merah kental. Adikku memeluk erat tubuhku. Bibirnya bergetar hebat. Ia menahan tangis, tatkala pertengkaran itu sampai ke puncaknya. Ayah dan ibu memutuskan untuk berpisah. Mungkin benang merah harus putus di tengah jalan. Tetesan air mengetuk pintu sudut kelopak mataku. Aku tak mengerti mengapa harus seperti ini akhirnya. Masa depan kami dipertanyakan. Siapa yang harus bertanggung jawab atas semua ini? Kami korban perceraian diambang kehancuran. Tak tahu harus pulang pada siapa.

Senin, 23 Desember 2013

Tak Sama Denganku


            Hari ini adalah hari ibu. Setiap orang merayakan hari ibu dengan cara yang berbeda-beda, seperti; memberi kado untuk ibunya, membereskan pekerjaan rumah, dan masih banyak lagi. Berbeda denganku, malah aku yang menyusahkan ibu. Boro-boro memberi hadiah, untuk membantu sedikit pekerjaan ibu saja, aku tak bisa. Aku terbaring lemas di tempat tidurku, karena sakit yang menderaku. Sakit yang kuderita sudah berlangsung selama dua minggu. Aku, ayah dan ibu, sudah berusaha mencari obat untuk menyembuhkan penyakitku. Namun, malang yang diraih, penyakitku saja tak diketahui namanya, bagaimana bisa mencari obat tanpa tahu apa yang diderita?
            Sendi-sendiku terasa sakit jika digerakkan, kepalaku pun terasa sakit, suhu badanku selalu melebihi batas normal. Jika aku berjalan, pandanganku gelap, kabur, semua tampak berputar-putar. Dan jika keesokan harinya sakit itu hilang, dua hari kemudian sakit itu datang kembali. Haahh, entah apa yang terjadi padaku. Aku hanya bisa berusaha, berdoa dan bertawakal pada yang telah memberi rasa sakitku ini.
     “Muth, itu buburnya dimakan dulu. Sudah ibu sediakan di atas meja, sudah dengan teh manisnya, Sayang,” teriak ibu dari dapur.
   “Iya, Bu. Nanti Muthma makan buburnya,” jawabku. Setelah lima menit kemudian, Ibu menghampiriku. Entah mengapa, beliau langsung memelukku, erat sekali. Tiba-tiba beliau menangis dan berkata, “Muthma sayang, maafkan Ibu, Nak. Ibu dan Ayah belum bisa mendeteksi penyakitmu, belum bisa menyembuhkan Muthma. Maafkan kami, Muth,” ibu tersedu-sedu.
     “Ibu, yang ada juga Muthma yang minta maaf. Karena selalu menyusahkan ibu. Selamat hari Ibu, ya. Maafkan Muthma yang tidak bisa membantu ibu disaat ibu sibuk, Muthma selalu merepotkan ibu. Terlebih lagi, akhir-akhir ini kondisi Muthma yang tidak memungkinkan untuk beraktifitas seperti biasa.” Balasku dengan senyuman. Ibu memelukku lagi.
            Ibu menyuapiku semangkuk bubur. Aku tahu, sebenarnya ia sedang menangis dalam hatinya. Inilah hebatnya ibuku, tegar, dan jarang sekali menumpahkan air matanya di depanku ataupun ayah. Ya Allah, maafkan Muthma, maafkan Ibu Muthma, lindungi Ibu dan Ayah Muthma, batinku.
***
            Harusnya hari ini aku datang ke sekolah untuk mengambil rapotku. Namun karena kondisiku tidak memungkinkan untuk datang, maka aku hanya bisa berdiam diri di atas pembaringan yang kini menjadi hantu bagiku. Aku bosan, jenuh, ingin pergi keluar rumah, bermain bersama teman-temanku. Ah, tidak mungkin.
     “Muthma, ada Bu Siti ke sini. Bareng sama teman-temanmu juga,” ucap ibu dibalik pintu kamarku. Aku terperanjat. “Hah? Aw…” Sendi-sendiku terasa sakit lagi. Aku langsung mengenakan hijabku. Ibu mengetuk pintu kamar, lalu kupersilakan masuk.
        “Assalamu’alaikum, Muthma,” terdengar suara Bu Siti yang masuk ke kamarku.
     “Wa’alaikumussalam, Bu. Aaaa… Muthma kangen Ibu dan teman-teman,” tak sadar, bulir air mataku menetes.
     “Muthmaaaaaa….Isti rindu Muthmaaaa,” terobos Isti dari luar kamar. Isti merupakan sahabat karibku. Teman terbaik untuk menyimpan cerita dan rahasia-rahasiaku. Ia langsung memelukku dengan erat. Aku pun membalas pelukannya, berusaha menyembunyikan air mata di balik pundaknya.
            Ibu dan Bu Siti terlihat berbincang-bincang di ruang tamu, sedangkan aku, melepas rindu dengan sahabat-sahabat yang ku cintai dan mencintaiku.
      “Bu, Muthmainnah ini adalah anak yang cerdas, kebanggaan saya dan teman-temannya. Ia berhasil mencapai nilai tertinggi di sekolah.” Bu Siti mengelus-elus kepalaku seraya tersenyum.
        “Beneran, Bu? Alhamdulillah,” tangisku meledak. Ibu langsung menghampiriku dan mencium keningku, tak lupa memberi selamat padaku. Ah, bahagianya, terima kasih Yaa Allah.
***
             Setelah beberapa jam kemudian, mereka berpamitan pulang. Rasanya berat sekali melepas mereka. Isti menyemangatiku agar cepat sembuh, yang lainnya pun demikian. Aku tak bisa mengantar mereka sampai depan rumah. Hmmm.
            Tiba-tiba saja, sakit kepalaku mencapai puncaknya. Aku berteriak memanggil ibu. Dengan sigap, ibu berlari ke arah kamarku dan mencari apa yang telah membuatku begini.
     “Bu, kepala Muthma, Bu! Sakiiiiitttt…..” teriakku tak kuasa menahan kesakitan. Ibu terlihat panik. Beliau langsung menelepon rumah sakit untuk mengirim ambulan ke rumahku. Tak lama kemudian, sampailah mobil yang menyeramkan itu, tepat di halaman depan rumahku.
            Aku masih merintih, masih kesakitan. Rasanya kepalaku ingin meledak, dan akan memuntahkan penyakit-penyakit yang absurd itu. Sesampainya di sana, aku langsung dilarikan ke Unit Gawat Darurat (UGD). Terdengar suara ibu memanggil-manggil namaku sambil merogoh sakunya untuk mengambil ponsel miliknya. Ibu segera menelepon ayah. Setelah itu, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi, karena di sini, mulai….gelap.
***
            “Muthmaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, anakku sayang, cantik, sholehah, kenapa pergi mendahului Ibu, Nak?” Ibu Muthma menangis sejadi-jadinya. Ayah Muthma tepat di sampingnya hanya bisa menepuk-nepuk pundaknya dan memeluknya. Betapa tidak? Ibu Muthma kehilangan anak yang begitu dicintainya. Sebelum mengembuskan nafas terakhirnya, Muthma sempat berbisik pada sang Ibu, “Bu, selamat hari Mamah, ya. Muthma sayang Ibu. Ibu sayang Muthma, kan? Maafkan semua kesalahan Muthma. Muthma telah berdosa karena menyusahkan Ibu dan Ayah. Astagfirullahal’adzim,”
            Muthma anak sholehah ini, berhasil mengucapkan kalimat syahadat di akhir hidupnya, dituntun oleh orang terkasih, yakni ayahnya. Begitu banyak teman, sanak saudara, kerabat, bahkan orang yang hanya kenal selewat pun datang untuk mengantarkan Muthma ke tempat peristirahatan terakhirnya. Semua orang kehilangan Muthma, namun, inilah yang terbaik untuk Muthma.
-Sekian- :)

Jumat, 06 Desember 2013

Satu Hari Bersama Ayah

            Pandanganku mulai kabur. Semua tampak gelap. Aku tak mampu lagi menahan beban di pundakku. Dan akhirnya tubuh ini pun lemas, rapuh, kemudian...terjatuh.

***
            Aku terbangun dari tidur panjangku. Rasanya kenyang sekali aku tidur, gumamku. Aku pun beranjak dari tempat tidur yang biasanya membuatku jengkel dengan suara berisiknya. Terasa sedikit janggal di pagi ini. Ah, apa peduliku?

“Yah, pintu kamar sudah dibenarkan? Ini dicat ulang, ya?” teriakku seraya memegang daun pintu kamarku. Ayah pun menghampiriku.

“Sudah, peri cantikku,” senyum Ayah mengembang, membuat pandanganku tak ingin lepas dari wajahnya.
“Terima kasih, Yah,” pelukku hangat. “Ibu sudah bangun, Yah?” tanyaku sambil berjalan menuju meja makan.

“Sudah. Ibumu sedang menyiapkan air minum di dapur.” Ayah berjalan menuju pintu dapur. Kulihat bayangan Ayah yang sedang mengusap kepala Ibu. Ayah dan Ibu saling menyayangi. Aku tersenyum kecil, melihat fenomena yang sudah sering terjadi di rumah ini. Dari dapur, Ibu berjalan membawa air teh manis hangat. Ah, kesukaanku. Menu hari ini adalah tahu dan tempe goreng, ditambah sambel kecap buatan ibu. Kami bertiga makan dengan lahapnya.

            Aku adalah anak semata wayang. Terkadang aku merasa kesepian. Tak ada teman yang bisa kuajak bermain, karena di sini, mayoritas adalah mahasiswa.

“Yah, nanti siang kita jalan-jalan, yuk?” ajakku pada Ayah.

“Ke mana, Cantik?” tanya Ayah.

“Ke taman saja, Yah,” jawabku. Ayah mengangguk, sepertinya ia setuju dengan ajakanku. Tidak biasanya ia langsung setuju, karena Ayah orang yang tidak terlalu suka dengan jalan-jalan. Jika aku bosan di rumah, ia hanya membuat permainan baru. Tapi, tak apalah. Mungkin untuk kali ini, ia ingin membahagiakanku, pikirku.

            Selesai makan, ibu membereskan sisa makanan yang ada di atas meja. Aku berlari ke kamar dengan senangnya. Menari di atas kasur, karena Ayah menyetujui rencanaku. Aku pun cepat-cepat mandi, lalu siap-siap untuk pergi ke taman, bersama ayah dan ibu.

***

            Sesampainya di taman, Ibu duduk di bangku kayu berwarna putih, menikmati indahnya bunga-bunga cantik yang menyegarkan mata. Sedangkan aku dan ayah, berlari ke sana ke mari. Ayah mengejarku. Meskipun larinya kencang, namun aku tahu, ayah selalu mengalah untukku. Aku berhenti ketika nafas ayah mulai tak beratur.
“Ah, payah nih,” ucapku sambil menjulurkan lidahku. Ayah hanya membalas perkataanku dengan senyuman. Kami pun segera menghampiri Ibu.

             Tepat di hadapan kami, ada dua bunga mawar berwarna putih. Mawar yang satu ini berbeda, tak berduri. Wanginya pun begitu lembut. Tak begitu menusuk hidungku. Ayah memetik kedua mawar tersebut.
“Ini untuk Ibu, dan ini untuk peri cantikku,” kata ayah seraya memberikan kedua mawar cantik itu.
“Ah, terima kasih, Yah,” bulir air mataku terjatuh. Ibu hanya tersenyum. Bahagianya diri ini, pikirku.

             Ketika sedang memetik bunga mawar yang lain, tiba-tiba tanganku berdarah. Padahal tak ada duri di tangkainya. Dengan sigap, ayah segera mengeluarkan tissu dan mengelap darahku. Ah, ayah, aku kan tidak apa-apa, batinku. Saat ayah sedang mengeluarkan obat merah, ada penjual kembang gula. Entah mengapa rasanya ingin sekali membelinya. Warnanya telah menyihir mataku untuk segera membeli kembang gula tersebut.

“Yah, aku ingin itu,” ucapku sambil menunjuk ke arah kembang gula, yang sedari tadi melambai-lambai.

“Nanti gigimu ompong, Sayang,” senyum Ayah merekah kembali. Aku kesal. Lalu ayahku mengelus kepalaku dan memberi uang untuk kubelikan kembang gula.

“Ah, terima kasih, Ayah,” aku melipat mukaku yang semula kesal, dan melahirkan senyuman kecil untuk Ayah.

            Kami sangat menikmati suasana kebersamaan ini. Seingatku, terakhir kami jalan bersama itu ketika aku berumur lima tahun. Hah, sudah sepuluh tahun lamanya kami tak seperti ini. Aku mengabadikan moment ini dengan kamera digitalku. Ketika kami sedang asik menikmati kembang gula, tiba-tiba ada seorang lelaki yang mencurigakan. Ia memakai kemeja putih dan celana putih. Gagah memang, tapi mengapa ia menghampiri kami? Aku mencoba membuang jauh-jauh pikiran jelekku. Perlahan ia mendekati kami dan berbicara pada Ayah. Raut muka ayah tiba-tiba berubah. Aku memperhatikan gerak-gerik bibir ayah.

“Aku belum puas.” Hanya itu gerakan bibir ayah yang dapat kutangkap dengan jelas, karena mereka berbicara jauh dari kami. Lelaki itu pun menjauh dan menunggu di dekat mobil miliknya. Ayah pun menghampiri kami dengan wajah muram.

“Maafkan Ayah, Bu, Ris.” Ayah mulai menitikkan air mata. “Waktu Ayah sudah habis, ayah harus pergi,” lanjut Ayah yang mulai mendekap ibu dengan erat. Ibu tak berbicara sepatah katapun.

“Maksud Ayah apa? Waktu Ayah? Memang kenapa? Ayah mau ke mana?” pertanyaanku kulayangkan bertubi-tubi, mencari kejelasan ucapan ayah. “Ayah harus pergi, Nak.” Ayah meninggalkan aku dan Ibu. Entah bagaimana perasaan Ibu saat ini. Terlihat air muka bingung menghinggapi wajahnya. Ini begitu mendadak. Aku tak tahu apa maksud dari perkataan Ayah. Tapi yang jelas, ayah dibawa pergi orang yang tak dikenal itu. Perlahan butiran air mata menetes dan berjalan di pipiku. Hati ini terasa sakit, amat sakit.

***

            Aku membuka mata. Ternyata ini hanyalah mimpi! Lega rasanya. Ku kira tadi itu kenyataan. Aku menarik nafas panjang tandakan kelegaan. Tapi, mengapa orang-orang mengerumuniku? Memangnya ada apa? Apa yang terjadi padaku? Tiba-tiba saja aku teringat sesuatu. Kulihat ibu yang berada di hadapanku.

“Bu, ada apa ini?” tanyaku pada Ibu. Aku hanya mendengar ucapan syukur yang keluar dari mulut ibu tanpa menjawab pertanyaanku. “Bu, jawab!” Aku mulai kesal dan mulai khawatir.

“Sabar ya, Risti,” ucap salah seorang tetangga seraya menepuk pundakku. Aku semakin bingung.

“Ayah? Bu, ayah mana? Bu, tadi Risti mimpiin Ayah!” ucapku tergesa-gesa. Akupun ke luar kamar dan mencari Ayah. Aku hanya melihat orang-orang yang memakai pakaian yang serba hitam. “Ini ada apa, sih?” tanyaku lagi. Ibu menghampiriku dan mendekapku dengan erat.

“Ayah sudah tidak di sini, sayang. Ayah sudah menghadap Ilahi,” air mata ibu kian meledak. Tubuhku rasanya melayang. Aku lemas, dan akhirnya ambruk dalam dekapan ibu.

“Ibu jangan bohong! Ayah masih ada, Bu!” Aku terus melakukan pembenaran bahwa ayah masih ada di sini. Tapi, di tengah rumah, kulihat seseorang yang telah dibalut kain kafan. Wajahnya tak asing lagi bagiku, dan itu benar-benar ayah, ayahku tercinta. Aku diam, mematung. Tak tahu harus berbuat apa. Memori masa lalu bersama ayah mulai berjalan di otakku.

            Ternyata, mimpiku itu nyata. Satu hari bersama ayah dan bahagia bersamanya. Senyumnya, tutur katanya, dan segala tentang ayah terekam jelas dalam ingatanku. Kurekam semua lewat mataku. Kubiarkan menjadi sebuah cerita yang mengalun indah di dalam hidupku.

Ayah, mengapa secepat ini?” bisikku pelan.