Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Oktober 2014

Ada apa dengan LISAN

          Bismillah
          Assalaamu'alaikum wr wb.
          Akhirnya, setelah beberapa minggu tidak muncul di blog, sore ini saya ingin berbagi seperti biasanya. Kali ini tentang "Lisan".
Memang benar, ya, lidah itu tidak bertulang. Dan yang paling tajam di dunia ini bukanlah pedang, pisau, atau yang lainnya, tapi lidah. Coba, saking bahayanya, lidah dipagari gigi, lalu dilem pula oleh bibir. Memangnya ada apa dengan si "Lidah" ini?
Ternyata, si Lidah ini meski kecil dan di tempat tersembunyi, bisa melukai hati atau perasaan yang letaknya pun tak terlihat. Ish ish...
Saya pernah membaca kalimat, "Berpikir dulu sebelum berbicara", secara tidak langsung, kalimat ini telah menyimpulkan, lidah kita harus disinkronkan dengan otak. Karena, salah-salah, kita bisa menyakiti orang lain. Ibarat kertas yang sudah dicoreti pensil, meski dihapus pasti akan ada bekasnya. Begitu pun dengan hati dan lisan. Meskipun sudah meminta maaf, rasa sakit hati itu belum tentu sepenuhnya hilang.
         Dalam peribahasa sunda pun dikatakan, "Basa mah teu kudu meuli". Maksudnya, kita harus bisa menempatkan tata cara bicara kita, pada teman, orang tua, adik, guru, dan yang lainnya. Tidak sulit, kok.
         Jika kita mau, kita bisa berusaha untuk menjaga lisan. Bagaimana caranya? Ya yang pertama, pikiran dan hati harus disambungkan terlebih dahulu, harus seimbang. Lihat lawan bicara kita. Kepada orang tua kita harus sopan, kepada teman pun begitu, dan adik juga harus sama rata. Orang yang bahasanya baik, pasti akan mendapat perlakuan baik pula dari siapapun. "Hade tata hade basa".
        Marah. Nah, ini, jaga lisannya kalau marah. Diikat kalau bisa, hehe. Karena tak jarang si "Lidah" berulah saat marah. Daripada melukai orang lain, lebih baik diam. Seperlunya. Tak usah bicara banyak-banyak. Beristighfarlah sebanyak-banyaknya. Minta perlindungan dari Alloh dari marah tersebut. Tak jarang pula, dari marah, lalu bertengkar, adu mulut lalu terjadi hal yang tidak diinginkan (semoga Alloh melindungi dari hal tersebut). Itu karena hatinya diisi, dibisiki dan dikelitiki oleh hawa nafsu yang sifatnya sudah manusiawi. Tergantung bagaimana kita menghadapi si Lidah tersebut.
Semoga saya, anda, dan kita semua dapat menjaga lisan, merawat lisan dan menghiasi lisan dengan yang baik-baik. Insyaa Alloh.

*yang benar datangnya dari Alloh, yang salahnya murni dari saya sendiri.
Semoga bermanfaat.
Wassalamu'alaikum ^_^

28 Oktober 2014
16.51
Kamelia Yuniar

Minggu, 28 September 2014

Realistis?

"Mi, gini, ya. Hidup ini harus realistis. Jangan sampai, keidealisme-an kamu itu jadi penghalang kamu untuk menggapai masa depan kamu."
  
      Realistis? Bukankah aku benar? Ralat, aku memang tidak sepenuhnya benar. Tapi, setiap orang kan mempunyai caranya masing-masing untuk melakukan sesuatu hal. Contohnya, aku. Menyayanginya dengan cara berdiam diri, mendoakan yang terbaik baginya. Saat yang lain sibuk memberi perhatian pada si 'pacar', aku hanya bisa menitipkan rinduku padaNYA. Karena aku menyadari, aku tak bisa berada di sampingnya untuk saat ini. Apalah arti rindu dan cinta, jika Allaah akan murka padaku, terlebih padanya. Bukankah "Hasbunallaah wa ni'mal wakiil" ? Lantas mengapa semua seakan memojokkanku? Hanya karena aku tak ingin mempunyai status terlarang itu? Aku memang kaum minoritas. Bukan karena aku tak bisa mencintai, bukan karena aku tak menyayanginya. Sama sekali bukan! Justru inilah caraku untuk mencintainya. Lewat lantunan doa yang terselip di setiap sujud panjang itu.
      Ya, mengapa aku harus khawatir? Bukankah Allaah telah menyiapkan yang terbaik untuk yang terbaik pula? Yang aku tahu, lelaki senakal apapun, pasti menginginkan wanita yang baik. Bukan begitu, wahai kaum Adam?? Lantas mengapa seolah aku ini fanatik sekali terhadap 'anti pacaran'?? Memang benar kata Imam Syafi'i, "Perkataanku benar tapi ada titik salahnya, dan perkataan orang lain salah tapi ada titik benarnya", tapi, apa dalam masalah kegiatan berdua-duaan dengan non mahram itu benar?
      Bukan aku sok benar, aku juga sedang dan akan selalu mencintai seseorang. Dan kerap kali memikirkannya ketika hendak tidur. Kata siapa aku shalihah? Jauh dari kata itu. Tapi, aku ingin memperbaiki status yang Allaah beri, sebagai 'Hamba'. Apakah layak, seorang hamba, selalu mengingkari aturan Rabb-nya? Apakah layak, seorang hamba, tidak taat pada Rabb-nya? Sungguh, tidak layak sama sekali.
      Jadi? Siapa yang harus realistis? Tak melulu soal cinta pada lawan jenis, kan? Cukuplah kini Allaah dulu, Allaah terus, dan Allaah lagi. Coba melakukan pendekatan dengan-Nya. Berkhalwat dengan-Nya. Silakan tafakuri kalimat ini, "Satu cobaan yang Allaah beri, sejuta kebaikan yang Allaah ganti."
      KURANG BAIK APA? :'( *Ngomong depan cermin*
      Ya, biarkan aku dengan caraku sendiri, dengan keREALISTISanku. Hasbiyallaah~

Rabu, 03 September 2014

Daun-daun Berguguran



Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu’alaikum wr wb.
Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘alaa ali sayyidina Muhammad. Allahumma yassir wa laa tuassir. Aamiin.
Alhamdulillah, salah satu catatan saya untuk memenuhi blog ini pun rampung sudah. Selamat membaca ^^
***
     “Satu-satu, daun-daun, berguguran tinggalkan tangkainya…”
Sepenggal lirik lagu lawas yang saya tuliskan ini, sudah lama tak terdengar. Tiba-tiba saja, saya teringat lagu ini. Bukan hanya karena saya rindu masa kecil saya, tetapi, karena perlahan, sahabat-sahabat saya mulai berguguran. Ambigu, ya? Berguguran di sini bukan berguguran mati karena perang seperti Israel dan Palestina, tapi, mereka berguguran mati karena kalah perang melawan nafsunya. Mungkin dalam tulisan saya ini akan ada yang tersinggung. Maafkan saya.
     Dulu, kami –saya dan sahabat-sahabat saya— mempunyai prinsip yang sama. Kalau zaman sekarang sih biasa dibilang “Jomblo Sampai Sah dan Halal” atau biasa disingkat “JOSSH”. Kami memupuk perasaan ini dan meluruskannya agar tidak menjadi salah. Tak ubahnya seperti remaja lain. Meski berprinsip seperti itu, kami juga manusia, bisa jatuh cinta. Hanya saja, kami tak menyalurkan cinta ini ke jalan yang “mungkin” Allaah tak suka (baca: pacaran).
     Bukan satu atau dua cara yang syetan lakukan untuk membujuk kami. Dimulai dari cara yang lumrah, sampai cara yang islami seperti membangunkan untuk sahur, tahajjud, mengingatkan shalat, dan masih banyak lagi. Ternyata syetan pun terselip di sana. Ada debar rasa dalam hati, menganggap dirinyalah yang paling shalih/shalihah. Tak sadar, hal itu dapat mengurangi niat beribadah karena Allaah, juga dapat mengotori hati. Ya mungkin harus disapu, dipel atau direnovasi hatinya… -_- Salah fokus. Oke maaf, ini bukan rumah, ya?
     Tak sedikit aktivis-aktivis dakwah yang dulunya menolak PACARAN, pada akhirnya termakan oleh kata-katanya sendiri. Tidak! Mereka bukan munafik! Saya tekankan, BUKAN MUNAFIK! Mereka sedang diuji, dan rekan seperjuangan mereka pun sedang diuji. Bukan maksud saya untuk membela mereka. Karena jujur, saya sendiri tak rela melihat sobat karib dunia akhirat saya harus masuk ke dalam jurang kemaksiatan.
     Saya merasa gagal menjadi seorang teman. Saya memang ada hak untuk marah, tapi, siapalah saya? Perkataan orang yang munafik seperti saya ini, jarang ada yang mau mendengarkan. Saya hanya bisa mengajak, mengajak dan mengajak orang lain. Diri sendiri saja masih berjalan merangkak untuk kembali ke jalan-Nya. Tapi, biarlah. Biarlah ajakan ini menjadi motivasi untuk diri saya juga.
     Satu persatu sobat saya, menghalalkan aktivitas itu. “Daun-daun berguguran tinggalkan tangkainya.” Manusia-manusia itu diibaratkan sebagai sehelai daun, dan prinsip mereka adalah tangkainya. Maka, benarlah lagu tersebut, daun-daun itu berguguran tinggalkan tangkainya. Manusia-manusia itu tak kuat, belum cukup mampu mempertahankan prinsipnya.
     GALAU. Hanya kata itulah yang mampu mengekspresikan hati saya saat ini. Bagaimana nanti jika Allaah bertanya di Yaumul Hisab? Apa yang akan saya jawab? Bagaimana nasib laporan pertanggungjawaban saya kelak, jika saya asyik beribadah, sedangkan teman saya dibiarkan melakukan maksiat? Dibiarkan bersentuhan tangan dengan non-mahramnya, menatapnya dengan penuh nafsu, dan aaahh masih banyak lagilah. Jahat sekali saya ini, Yaa Robb L Ampuni diri ini….
     Apalah yang bisa kulakukan selain memohon pada-Nya? Memohon untuk kesadaran rekan-rekan saya. Karena apapun yang saya katakan, apapun yang saya lakukan, jika Allaah tak ingin memberi hidayah, sekuat apapun dalil dan alasan saya, tak akanlah hati mereka bergerak untuk kembali memperbaiki diri.
     Meski begitu, saya tak ingin menyerah. Terkadang saya menyelinap di balik hubungan mereka. Saat mereka bertengkar dengan ‘kekasih belum halal’nya, saya hadir untuk menjadi pendengar setia. Terkadang sakit sekali, sakit yang menyayat hati, jiwa, dan raga *okeinilebay*. Dan disitulah saya beraksi. Ujung-ujungnya saya katakan, “Tuhkaaaan, cowok mah emang gitu. Itutuh kode ingin putus, bosen sama kamu. Udah, udahan aja,” meski kata-kata itu hanya masuk ke telinga kanan lalu keluar telinga kiri, yaa tak apalah. Yang penting saya sudah mengingatkan. Karena yang salah itu adalah membiarkan suatu kemaksiatan tetap berjalan, dengan sepengetahuan kita. Bisa dibilang pura-pura buta, pura-pura tuli, pura-pura gagu, dan masih banyak kepura-puraan itu. Tanpa disadari, kita sudah bersikap apatis terhadap orang-orang terkasih. Bukankah indah, jika kita nanti dapat berkumpul di Jannah-Nya?
     Hmm…ternyata bukan hanya teman penulis blog ini saja yang mengalami hal yang serupa. Penulisnya –saya sendiri— pun sering terkena demam cinta, akibat virus merah jambu yang seringkali menyerang daya tahan iman saya. Namanya juga manusia. Setingkat ulama, ustadz, dan tokoh agama terkemuka pun, pasti pernah berbuat kesalahan. Dan setiap harinya harus dibasmi oleh nasihat-nasihat dari Yang Maha Segalanya, dengan cara membaca kalimat-kalimat indah-Nya. Semua termaktub dalam Al-Qur’anul kariim. Insya Allaah, hati merasa lebih tenang.
     Ingat, kalau ada apa-apa, bilang sama Allaah, ngadu sama Allaah. Kalau mau apa-apa, mintanya sama Allaah, berdoa sama Allaah, nanti Allaah beri jalan, Allaah beri perantara. Seperti mendapatkan sesuatu dari seseorang, uang dari orang tua, udara yang bebas dan gratis di bumi, matahari yang bersinar menghangatkan badan,  kalau bukan Allaah yang memberi semua ini, lantas siapa lagi? Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
     Jadi, saat saya kecewa pada hati saya, pada rekan saya, daripada terus menyimpan kecewa, apalagi yang lebih baik daripada mendoakannya dengan tulus dan ikhlas? Karena hanya Allaah lah Maha Pembolak-balik hati. Maka, janganlah men-judge seseorang dari masa lalunya yang kelam. Siapa yang tahu bila suatu saat nanti orang tersebut akan menjadi kekasih Allaah? Kekasih yang dirindukan syurga, dan kekasih yang dicari-cari oleh para malaikat.
  Tetap doakan rekan yang sedang diuji. Semoga Allaah menggerakkan hatinya untuk segera bertaubat, taubatan nasuha. Dan doakan juga untuk saya, semoga Allaah selalu melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya, dan semoga prinsip saya ini dapat saya pertahankan. Aamiin, semoga doa kalian untuk saya, dapat sekaligus mendoakan anda juga, insyaa Allaah. Maafkan saya jika dalam tulisan ini terdapat banyak kesalahan yang membuat kalian tak nyaman. Saya hanya manusia yang masih dan akan terus belajar. Terima kasih telah menyempatkan untuk membaca tulisan ini.
Barakallaahu fiikum. Wallahu a’lam bisshawaab.
Wassalamu’alaikum wr wb.

Di kamar, 2-3 September 2014.

Rabu, 13 Agustus 2014

Namanya juga Hidup

Assalamu'alaikum Wr Wb.

Bismillaah
      Puji syukur atas kehadirat Allaah SWT karena atas ni'matnya, saya bisa menyelesaikan tulisan ini dan Anda dapat membaca tulisan saya.
      Kali ini, saya ingin menuangkan semua yang ada dalam pikiran saya. Sesuai dengan judulnya, "Namanya juga Hidup".
Ya! Hari ini saya ingin membahas itu. Alasannya? Karena saya sedang galau. *curhatdikit*
      Baiklah, kita mulai. . .
Hidup...
      Hidup bagaikan roda berputar. Ada kalanya di atas, lalu seiring berjalannya roda tersebut, akan berpindah ke bawah. Ya, seperti itulah kira-kira gambaran tentang hidup.
Ketika di atas, kita dipuja dan dipuji, dipupusti (baca:dihormati), diakui keberadaannya. Seperti pejabat-pejabat tinggi, dosen-dosen terkemuka, orang yang kaya, dan masih banyak lagi. Namun, bukankah itu ujian? Silakan renungkan sendiri.
Lalu, ketika sedang di bawah, jangankan untuk menyapa, melirik pun rasanya enggan. Orang-orang merasa diri tak ada pentingnya, tak ada gunanya.
     Ya, kejam memang. Namanya juga hidup...
     Ada saatnya kita di atas, merasakan indahnya menjadi 'orang penting' yang dikagumi banyak orang, merasakan kasih sayang orang-orang yang 'mungkin' memegang prinsip "Ada gula ada semut". Yap, tak ada yang tahu, kan? :)
    
     Jika yang dulunya dibenci, mungkin kini tengah dicintai. Jika dulu sempat memberi, mungkin kini sedang mengharapkan pemberian orang. Mungkin yang dulu sempat dicintai, kini telah ditinggal pergi. Dan mungkin yang dulu selalu meminta, kini selalu memberi. Satu lagi, agar anak mudanya konek niiihh, mungkin yang dulu menjadi objek yang dilupakan, kini menjadi objek yang selalu diingat. Tak ada yang tahu rencana-Nya. :')
Yaaa, namanya juga hidup! Nikmatilah setiap episodenya. Syukurilah apapun skenario yang telah Allaah rencanakan untukmu. Kelak, semuanya akan indah. Kau akan ceritakan semuanya pada anak dan cucumu. Menjadi cerita yang membuat dadamu membusung, akibat bahagia yang tercipta. Buah dari rasa syukurmu. Buah dari kesabaranmu.
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Quran Surah An-Nahl [16]: ayat 18)

      Namanya juga hidup, kadang menangis, kadang ditangisi. Kadang bersuka cita, kadang berduka cita. Dan tentunya, di balik semua itu, selalu ada makna yang membuatmu tak henti-hentinya untuk bersyukur. Percayalah.
Jangan terus diratapi, tapi teruslah berbenah diri. Jangan terus jatuh, tapi bangun dan bangkit! Dekatilah Allaah, dekatilah Dia yang memberimu hidup. Biarkan Dia memelukmu dengan erat, biarkan Dia mendekapmu di setiap sujudmu, biarkan Dia hapus air matamu di atas sajadah panjang itu. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
      Namanya juga hidup, kadang asin, kadang manis, kadang pahit, yaaa campur-campur. Karena hidup banyak rasa :v
Dan hidup tak akan selamanya mulus. Life is never flat :D *maapiklanteroooss*
Semangatlah!! Hadapi lika-liku hidup ini! Kamu bisa, KAMU PASTI BISAAAA!!!
Alhamdulillaah, semoga bermanfaat bagi diri dan bagi setiap orang yang membaca postingan in.
Ana uhibbukum fillah~

Wassalamu'alaikum Wr Wb.


Cimahi, 13 Agustus 2014.
Kamelia Yuniar.

Sabtu, 02 Agustus 2014

Bersyukur dalam Kecewa

Bismillahirrahmaanirrahiim...

Kau pernah merasakan kecewa? Ketika harapanmu tak sejalan dengan kenyataan, ketika keinginan tak sama dengan kesanggupan, ketika impian harus hancur begitu saja di tengah jalan.
Lantas, apa yang bisa kau lakukan? Meratap? Menangis? Mengurung diri? Putus asa? Atau sampai BOSAN HIDUP?
Membiarkan hatimu mati dibunuh mimpi...

Astaghfirullaah.
Inikah diri yang selalu mengaku sebagai hamba? Inikah diri yang selalu berkata cinta pada Rabbnya? Tapi hanya karena takdir, hanya karena kenyataan, diri ini menyiksa diri, terus meratapi nasib yang memang sudah qada dan qadarnya?
Allaahu akbar...
Biarkanlah kecewa itu ada dalam hatimu, setelah kau menikmatinya, kuburlah jauh dalam hatimu. Enyahkan dalam pikiranmu. Aku tahu, itu tak semudah membalikkan kedua telapak tangan. Tak semudah aku mengatakannya, karena aku pun sama, aku pun manusia yang pernah merasakan perihnya dikecewakan. Namun apalah daya...
Mungkin di balik rasa kecewa itu, terdapat kekuatan yang begitu besar agar kita bisa lebih hati-hati. Dalam hal apa?? Jelas, dalam segala hal.

Kecewa karena memilih yang salah, kecewa karena tak bisa menggapai harapan, kecewa karena seseorang, dan masih banyak lagi cabang kecewa yang mungkin kau rasakan. Aku paham, sakit, sangaaat sakit.
Apa kecewa itu harus berjamur dalam hati? Ketika dikecewakan orang-orang tersayang (baca: sahabat, keluarga, kekasih), rasanya... seperti luka yang dibasuh oleh air cuka, lalu ditaburi garam (oke ini lebay). Kau bisa apa??

Waktu telah berputar, bukan?
Kau akan terus berkutat dengan rasa kecewamu? Kau rela hidupmu terus dibayangi oleh rasa kecewa?
BANGKITLAH! Aku tahu, ini cukup sulit. Hidup memang tak semudah kata-kata bijak para motivator yang menjamur di muka bumi ini, tapi kalimat-kalimat mereka ada benarnya.
Dan cobalah, buka Al-Qur'an (bagi yang muslim) surat Al-Baqarah ayat 216
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allaah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui,"
lalu ayat 286
"Allaah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."

Allaahu akbar!!
Dalam surat-surat cintaNya (baca: Al-Qur'an) pun, sudah jelas. Kalau tidak sanggup, Allaah pun tak akan memberi rasa kecewa itu. Tapi karena kau sanggup, jadi Allaah berikan perasaan tersebut.
Sakit itu hanya secuil, dibandingkan dengan nikmat-nikmat yang Allaah berikan pada kita semua.
"Lalu nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" (Ar-Rahmaan:13)

Sudahkah engkau bersyukur hari ini? Boleh jadi, karena kurangnya rasa syukur kita, rasa kecewa itu diturunkan.
Tamparan bagiku dan bagi yang membaca tulisanku. Apapun yang Allaah berikan, entah itu perasaan, barang, dan sebagainya, ingatlah bersyukur. Ingatkan pula pada yang lain.
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih." (Q.S Ibrahim:7)
Alhamdulillaahirabbil'alamiin.
Masih dirundung rasa kecewa? Sudah, lupakanlah. Masih banyak yang harus kau bahagiakan, masih banyak orang yang ingin membahagiakanmu. Waktumu terlalu berharga. Doakanlah selalu orang-orang yang telah membuatmu kecewa. Semoga mereka selalu dilindungi-Nya. Doakan yang baik, ya :)

Mohon maaf jika tulisanku ada yang tak berkenan di hati. Ini hanya ungkapan hati yang tak terucapkan.
Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca. Semoga bermanfaat :)


Cimahi, 2 Agustus 2014
Kamelia Yuniar.
(Perwakilan hati-hati yang telah dikecewakan) :') ^^

Minggu, 13 Juli 2014

Bongkahan kalimat yang terpendam

Beberapa bulan terakhir ini, aku merasa istimewa. Dicintai seseorang yang terlihat tulus. Aku tak pernah tahu bagaimana perasaannya. Aku tak pernah tahu apakah lisannya sejalan dengan hatinya? Dan aku tak mau tahu.
Perlahan, cinta itu mulai tumbuh. Puluhan bahkan ratusan kali aku mengelak atas perasaan ini, tapi memang benar. Usahanya untuk membuatku jatuh hati pun berhasil. Aku jatuh cinta lagi. Setelah beberapa tahun lamanya aku tak merasakan dicintai oleh seorang lelaki selain ayah dan adikku.

Kebahagiaan menyelimutiku. Meski terkadang aku harus merasakan bimbang akibat perasaanku sendiri. Aku gagal fokus. Cinta memang tak bisa dipaksakan, tidak bisa langsung datang hanya beberapa minggu atau bulan.
Aku terus berusaha mencintainya. Berharap perasaan itu setara dengan apa yang ia berikan. Namun, semakin kupaksakan, yang kurasa bukan lagi cinta, tapi kasihan. Ya, aku memang jahat. Tapi apa daya, aku tak bisa berbuat apa-apa.

Menjauh. Memang ini terdengar sakit, bahkan sangat sakit. Tapi, lebih sakit mana dengan mencintainya dengan penuh keraguan? Kegamangan? Kepalsuan dan dusta-dusta yang aku tampakkan padanya?
LEBIH JAHAT MANA? Maka aku putuskan agar dia membenciku. Aku tak peduli apa yang akan orang-orang katakan padaku. Jahat? Tak punya hati? Atau apapun. Aku sungguh TAK PEDULI!

Lelah. Aku selalu dihantui perasaan bersalah. Aku belum bisa mencintainya. Maka aku putuskan untuk mencintaiNYA. Agar aku dapat mencintai seseorang karenaNYA.
JanjiNYA itu pasti. Terdapat dalam QS AN-NUR ayat 26.
Jika dia akan membenciku dan melupakanku, aku tak apa. Memang seharusnya begitu, aku lebih pantas diperlakukan seperti itu. Tapi, tak ada sedikitpun niat untuk menyakitinya. Aku menyayanginya sebagai seorang muslim, sebagai saudara seiman. Apa daya, dia menyayangiku lebih dari itu. Aku tak meminta, aku tak pernah mengemis.
Aku hanya ingin kebahagiaan sebagai wanita pada usiaku. Biarlah aku rubah semua sifat burukku.
Jika ia akan datang kembali, hatinya pasti Allah gerakkan untuk menuju diriku kembali. Namun jika ia sudah terlampau benci, ia pasti tak akan datang kembali. Akan ada yang datang nanti. Entah siapa...

Aku tak ingin mengkhianati pasanganku di masa depan. Maka dari itu, aku ingin menyendiri. Biarlah keluarga dan sahabat yang menemaniku. Tak terkecuali, Allah dan Al-Qur'an. Itulah yang akan menemaniku kelak. Nanti, jika waktunya tiba, seseorang akan datang untuk segera mengkhitbah lalu menikahiku. Jika tidak, biarkanlah aku menjadi bidadari di syurga. Bertemu dengan jodohku di sana. Aamiin Yaa Robbal 'alamiin.

Meski terkesan dewasa, tak apalah. Sudah saatnya aku berpikir seperti ini.
Biarkan ini menjadi pengalaman yang menjadi guru terbaik di masa depanku.
Terima kasih telah datang ke kehidupanku dan memberiku kasih sayang yang tulus, yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Barakallah...

Cinta Sejati itu Menyembuhkan bukan Menyakitkan

Banyak orang mengatakan, "Cinta sejati itu menyembuhkan, bukan menyakitkan."
Aku setuju. Dan jika kau mencintainya, namun hanya derita, resah, dan gelisah yang kau dapat, itu bukan cinta. Menjauhlah. Itu lebih baik daripada harus menyakitinya lebih lama. Kau kira dicintai tanpa mencintai itu perkara 'enak'?
TIDAK! Setiap hari kau harus dihantui perasaan bersalah. Makan pun tak enak, ini lebih dari mencintai tanpa dicintai. Lebih sakit, teramat sakit.

You CAN MOVE ON!

Jangan membuat orang yang kau sayang semakin bersalah atas perasaan yang kau punya. Jika kau sayang, sudahlah, ucapkan dalam hati. Jika kau rindu, ucapkanlah pada pemiliknya, Allah SWT.
Baik, ini bukan perkara mudah, tapi bagi saya ini lebih baik. Ketimbang harus membuat orang lain terluka.
Relakah membuat orang yang kau sayang menangis? Sanggupkah kau untuk menanggung beban kesedihannya?
Cinta takkan egois, Saudaraku.
Semoga menjadi bahan renungan.
Barakallah...

Jumat, 04 Juli 2014

Untuk Separuh Hati

Bismillah

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
Kalian pernah memiliki perasaan yang tak bisa diungkapkan?
Bagaimana rasanya?
Masya Allah, nikmaaaatttttt sekali.
Sementara yang lain sibuk mengungkapkan perasaannya, kau hanya bisa mendoakannya. Hanya bisa memeluknya dalam doamu.
Sesekali kau sapa, meski mungkin sebenarnya itu dapat mengganggu hatinya, atau bahkan imannya. Astaghfirullah. Tapi, rindu memang sudah tak bisa dielakkan lagi, tak bisa ditolerir lagi...

Terkadang ia sisipkan amarahnya karena ketidaktegasanmu, namun apa kau tahu yang sebenarnya? Sungguh, ia benar-benar peduli padamu. Tanpa harus kujelaskan lagi, seseorang yang seperti itu, perasaannya bisa lebih-lebih darimu. Peduli takkan pernah tumbuh tanpa kasih sayang. Peduli merupakan perasaan sayang yang tersembunyi.
Ia mungkin tak tahu bagaimana cara mengungkapkannya, atau mungkin malu pada Rabbnya. Karena ia sendiri belum mampu mencintai-Nya secara sempurna, bagaimana bisa ia mencintaimu?

Untuk separuh hati yang kini tengah gelisah.
Kau tak perlu tahu semuanya, karena tak semua perasaan mampu dikatakan, tak semua lisan fasih untuk mengucapkan. Pun tak semua rindu dapat tersampaikan.

Untuk separuh hati yang kini masih remang.
Pikirkan masa depan, cerahkan hatimu. Isilah dengan tilawah Al-Qur'an, in syaa Allah hati akan tenang, IN SYAA ALLAH...

Untuk separuh hati yang kini kian meradang.
Kuharap, kau tak terlalu memaksa hati. Allah bisa dengan mudahnya mengembalikan hatimu seperti semula.

Yang terlihat dingin, mungkin dalam sujudnya selalu mendoakan.
Atau yang agresif, mungkin menyisipkan yang lain dalam hatinya. Hanya Allah dan diri sendirilah yang tahu.

Mungkin yang terlihat dingin, mencoba menghindar dari rasa sakit yang mungkin juga pernah mengecap hatimu, mencoba melindungimu dari kecewa yang berkepanjangan.
Semoga hatimu dan hatinya saling melindungi. Suatu hari, jawaban dari setiap sujud panjangmu akan terungkap, bersamaan dengan kualitas dirimu. Apakah lebih baik atau sebaliknya...
Wallahu a'lam.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi wabarakaatuh.

Selasa, 01 Juli 2014

Maafkan Kami

Bismillah
(Sebuah catatan untuk para lelaki, dari kami, kaum perempuan yang sedang berusaha untuk berubah)

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Saudaraku, ini hanya kalimat-kalimat singkat yang ingin kami sampaikan. Bacalah hanya lima menit. Ini dari lubuk hati kami yang paling dalam... *ciaelaah*

Saudaraku, maafkan kami yang masih sulit untuk menutup aurat secara sempurna. Maafkan kami yang sering menjadi penyebabmu untuk melakukan dosa.
Saudaraku, kami hanyalah wanita akhir zaman yang butuh bimbingan. Kami masih sering melakukan salah. Pakaian kami masih memperlihatkan lekuk tubuh kami. Jika kalian melihat kami seperti itu, jangan segan-segan, TEGURLAH kami. Bagaimanapun caranya, karena (mungkin) kami tidak tahu bahwa itu salah.
Saudaraku, akhir-akhir ini kami sering mendengar, kau mengeluhkan kami. Yang menggodamu lewat pose-pose di media sosial kami.
Saudaraku, kami tahu, kau juga hanya seorang lelaki di akhir zaman. Namun sekali lagi kami tegaskan, TEGURLAH kami!
Saudaraku, maafkan kami. Lisan kami sering menyakitimu, yang tengah menasihati kami.
Kami susah untuk diberi tahu, kami susah untuk dinasihati, kami sulit menerima pesan baik darimu.
ASTAGHFIRULLAHAL'AZHIIM...
Saudaraku, maafkan kami yang telah mendzolimimu.
Kami harap, kau bisa menjaga diri dari kesalahan kami. Kami harap, imanmu kuat untuk menghadapi kami.
Maafkan atas kesalahan kami.
Jangan pernah takut, jangan segan apalagi ragu untuk MENEGUR kami. Insya Allah kami siap menerima.
Bantulah kami, Saudaraku.
Kami juga ingin membuat kalian tenang hidup di bumi Allah. Kami juga ingin bersama menuju syurgaNya.
Kau mau bantu kami, kan, Saudaraku?
Mungkin hanya itu yang bisa kami sampaikan, walau sebenarnya sejuta kata ingin kutumpahkan di sini.
Terima kasih atas pengertiannya, semoga kami dan dirimu terus bermuhasabah diri. Aamiin.



Tertanda,
Wanita Akhir Zaman

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Minggu, 08 Juni 2014

Mimpi?

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Mimpi, cita-cita, harapan, dan keinginan. Setiap orang pasti memiliki semua itu. Anda pun pasti, kan? Alhamdulillah. Berarti Anda masih peduli dengan masa depan Anda kelak.
Jangan biarkan mimpi Anda menjadi debu atau hanya sekadar mimpi. Tak ada pintu tanpa kunci, dan setiap mimpi, pasti memiliki segudang cara untuk mewujudkannya.
Jika Anda mempunyai sebuah mimpi, berjuanglah! Wujudkanlah mimpimu! Caranya? Berdoalah kepada Allah, Tuhan Semesta Alam. Lalu, berusahalah semaksimal mungkin agar mimpimu menjadi nyata. Dan yang terakhir, bertawakkal padaNYA. Serahkanlah hasilnya pada Allah. Dia melihat proses dari usahamu.
Namun, tak semua mimpi menjadi kenyataan. Bisa saja yang Anda inginkan itu tidak baik untuk Anda. Allah sangat tahu yang terbaik untuk Anda, Dia lebih tahu apa yang Anda butuhkan.
Berjuanglah di jalan yang diridhoiNYA. Insya Allah, kunci yang Anda cari akan segera Anda dapatkan.
Bersabarlah, teruslah berjuang, jangan pernah berputus asa.
Wallahu a'lam..
Alhamdulillaahirobbil 'aalamiin

Sabtu, 07 Juni 2014

Siapa Bilang Pacaran Haram?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Siapa Bilang Pacaran Haram ??

Oleh : Aditya Budiman
Segala puji hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla. Hanya kepadaNya kita memuji, meminta tolong, memohon ampunan, bertaubat dan memohon perlindungan atas kejelekan-kejelekan diri dan amal-amal yang buruk. Barangsiapa yang diberi Allah petunjuk maka tidak ada yang dapat menyesesatkannya dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang dapat memberikannya hidayah taufik. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan tiada sekutu baginya. Aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hambaNya dan UtusanNya. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya dan para sahabatnya ridwanulloh ‘alaihim jami’an.
Adalah suatu hal yang telah menyebar luas dikalangan masyarakat sebuah kebiasaan yang terlarang dalam islam namun sadar tak sadar telah menjadi suatu hal yang sangat sering kita lihat bahkan sebahagian orang menganggapnya adalah suatu hal yang boleh-boleh saja, kebiasan tersebut adalah apa yang disebut sebagai pacaran. Oleh karena itu maka penulis mencoba untuk memaparkan sedikit tinjauan islam tentang hal ini dengan harapan penulis dan pembaca sekalian dapat memahami bagaimana islam memandang pacaran serta kemudian dapat menjauhinya.
Pacaran yang dikenal secara umum adalah suatu jalinan hubungan cinta kasih antara dua orang yang berbeda jenis yang bukan mahrom dengan anggapan sebagai persiapan untuk saling mengenal sebelum akhirnya menikah[1].
Inilah mungkin definisi pacaran yang banyak tersebar dikalangan muda-mudi. Maka atas dasar inilah kebanyakan orang menganggap bahwa hal ini adalah suatu yang boleh-boleh saja, bahkan lebih parahnya lagi dianggap aneh kalau menikah tanpa pacaran terlebih dahulu –wal ‘iyyadzubillah –. Lalu jika demikian bagaimanakah tinjauan islam tentang hal ini? Berikut penulis coba jelaskan sedikit kepada pembaca –sesuai dengan ilmu yang sampai kepada penulis– bagaimana islam memandang pacaran.
Pacaran adalah suatu yang sudah jelas keharamannya dalam islam, dalil tentang hal ini banyak sekali diantaranya adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla :
وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan seburuk-buruk jalan”. (Al Isra’ [17] : 32).
Ayat ini adalah dalil tegas yang menunjukkan haramnya pacaran.
Berkaitan dengan ayat ini seorang ahli tafsir Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah- mengatakan dalam tafsirnya,
Larangan mendekati suatu perbuatan nilainya lebih daripada semata-mata larangan melakukan suatu perbuatan karena larangan mendekati suatu perbuatan mencakup larangan seluruh hal yang dapat menjadi pembuka/jalan dan dorongan untuk melakukan perbuatan yang dilarang”.
Kemudian Beliau –rahimahullah- menambahkan sebuah kaidah yang penting dalam hal ini,
Barangsiapa yang mendekati suatu perbuatan yang terlarang maka dikhawatirkan dia terjatuh pada suatu yang dilarang[2].
Hal senada juga sebelumnya dikatakan penulis Tafsir Jalalain demikian juga Asy Syaukanirahimahullah- namun Beliau menambahkan, “Jika suatu yang haram itu telah dilarang maka jalan menuju keharaman tersebut juga dilarang dengan melihat maksud pembicaran[3]. Bahkan diakatakan oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaiminrahimahullah-,termasuk dalam ayat ini larangan melihat wanita yang bukan istrinya (yang tidak halal baginya, pen.), mendengarkan suaranya, menyentuhnya, sama saja apakah ketika itu dia sengaja untuk bersenang-senang dengannya ataupun tidak”[4]. Dari penjelasan para ulama ini jelaslah bahwa pacaran dalam islam hukumnya haram karena pacaran termasuk dalam perkara menuju zina yang Allah haramkan ummat nabiNya untuk mendekatinya.
Jika ada yang mengatakan bahwa pacaran belumlah dapat dikatakan sebagai perbuatan menuju zina, maka kita katakan kepadanya bukankah orang yang paling tahu tentang perkara yang dapat mendekatkan ummatnya ke surga dan menjauhkannya dari api neraka telah mengatakan :
وَ احْفَظُوْا فُرُوْجَكُمْ وَ غَضُّوْا أَبْصَارَكُمْ وَ كَفُّوْا أَيْدِيَكُمْ
Jagalah kemaluan kalian, tundukkanlah pandangan-pandangan kalian dan tahanlah tangan-tangan kalian”.[5]
Dalam hadits yang mulia ini terdapat perintah untuk menundukkan pandangan dan
hukum asal dari suatu perintah baik itu perintah Allah ‘Azza wa Jalla ataupun perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah wajib dan adanya tunututan untuk melaksanakan apa yang diperintahkan dengan segera[6].
Maka jelaslah bahwa pacaran adalah suatu yang diharamkan dalam islam.
Kemudian jika ada yang mengatakan kalau seandainya pacaran tidak dibolehkan maka bagaimanakah dua orang insan bisa menikah padahal mereka belum saling kenal?
Maka kita katakan pada orang yang beralasan demikian dengan jawaban yang singkat namun tegas bukankah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik petunjuk? Bukankah Beliau adalah orang yang paling kasih kepada ummatnya tidak memberikan petunjuk yang demikian? Firman Allah ‘Azza wa Jalla,
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, amt berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”. (At Taubah [9] : 128).
Kata حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ pada ayat di atas ditafsirkan oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’dirahimahullah- berarti bahwa, “Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang mencintai kebaikan kepada kita ummatnya, mengerahkan seluruh kesungguhannya dalam rangka menyampaikan kebaikan kepada mereka, bersemangat untuk dapat memberikan hidayah (irsyad, pent.) berupa iman kepada mereka, tidak suka jika kejelekan menimpa mereka dan menegerahkan seluruh usahanya untuk menjauhkan mereka dari kejelekan[7]. Dengan demikian ayat di atas jelas menunjukkan bahwa Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling kasih pada ummatnya dan paling menginginkan kebaikan untuk mereka namun Beliau tidaklah mengajarkan kepada ummatnya yang demikian. Simak pula sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :
إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِىٌّ قَبْلِى إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ
Sesungguhnya tidak ada Nabi sebelumku kecuali wajib baginya menunjukkan kepada umatnya kebaikan yang dia ketahui untuk umatnya, dan mengingatkan semua kejelekan yang dia ketahui bagi umatnya…”.[8]
Maka hendak kemanakah lari orang yang berpendapat kalau seandainya pacaran tidak dibolehkan maka bagaimanakah dua orang insan bisa menikah padahal mereka belum saling kenal? Bukankah Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan dan mempraktekkan bagaimana tatacara menuju pernikahan? Apakah Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajarkan kepada kita  cara mencari pasangan hidup dengan pacaran? Wahai pengikut hawa nafsu hendak kemanakah lagi engkau palingkan sesuatu yang telah jelas dan gamblang ini ??!!!
Kalau seandainya yang demikian dapat mengantarkan kepada kebaikan tentulah Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkannya kepada kita.
Sebagai penutup kami nukilkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang posisi shaf laki-laki dan perempuan dalam sholat, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan :
خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا
Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang pertama, sejelek-jeleknya adalah yang paling akhir dan Sebaik-baik shaf perempuan adalah yang paling akhir, sejelek-jeleknya adalah adalah yang paling awal”.[9]
Maka renungkan wahai saudaraku
apakah lebih layak orang –bukan suami istri­­– yang tidak sedang dalam keadaan beribadah kepada Allah untuk berdekatan, berdua-duan dan bermesra-mesraan serta merasa aman dari perbuatan menuju zina padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia mengatakan yang demikian !!!??
Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyatakan :
ما نَهَيتُكُمْ عَنْهُ ، فاجْتَنِبوهُ
“Semua perkara yang aku larang maka jauhilah[10]
Allahu Ta’ala a’lam bish showaab, mudah-mudahan yang sedikit ini dapat menjadi renungan bagi orang-orang yang masih melakukannya dan bagi kita yang tidak mudah-mudahan Allah jaga anak keturunan kita darinya.


Menjelang malam, 17 Jumadi Tsaniyah 1430/11 Juni 2009.


Abu Halim Budi bin Usman As Sigambali
Yang selalu mengharap ampunan Robbnya

[1] Jika tujuannya seperti ini saja terlarang bagaimana jika tidak dengan tujuan yang demikian semisal hanya ingin berbagi rasa duka dan bahagia ??!! Tentulah hukumnya lebih layak untuk dikatakan haram. [2] Lihat Taisir Karimir Rahman fi Tafsiri Kalaamil Mannan hal. 431 terbitan Dar Ibnu Hazm Beirut, Libanon.
[3] Lihat Fathul Qodhir hal. 258, terbitan Maktabah Syamilah.
[4] Lihat Syarh Al Kabair hal. 60 terbitan Darul Kutub Al Ilmiyah, Beirut, Lebanon.
[5] HR. Ibnu Khuzaimah no. 91/III, Ibnu Hibban no. 107, Al Hakim no. 358-359/IV, Ahmad no. 323/V, Thobroni no. 49/I dan Baihaqi no. 47/II, dan dihasankan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah no. 1525.
[6] Lihat Ushul Min Ilmi Ushul oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin –rahimahullah- hal. 24 terbitan Darul Aqidah Iskandariyah, Mesir.
[7] Lihat Taisir Karimir Rahman fi Tafsiri Kalaamil Mannan hal. 334 terbitan Dar Ibnu Hazm Beirut, Libanon.
[8] HR. Muslim no. 1844 dari jalan Ibnu Amr radhiyallahu ‘anhu.
[9] HR. Muslim no. 132 dan lain-lain.
[10] HR. Bukhori no. 7288, Muslim no. 1337.

 Sumber : http://alhijroh.com/adab-akhlak/siapa-bilang-pacaran-haram/

Kamis, 29 Mei 2014

Selamat Jalan Masa Lalu

            Seringkali kita dibuat gelisah apabila tak sengaja menengok lagi ke belakang. Lebih tepatnya, masa lalu. Usahlah resah dengan kejadian yang sudah lampau. Kau punya masa depan yang indah. Kau harus pandai memilih yang terbaik untuk hidupmu kelak. Dan yang pasti, jadilah yang terbaik. Hidup ini sangat indah, relakah engkau menghabiskan waktumu dengan meng'galau'kannya? Waktu hidup di dunia ini terlalu singkat, relakah engkau menyia-nyiakannya dengan selalu memikirkan masa lalu? Tak sayangkah engkau pada dirimu sendiri? Menelan sakit yang selalu kau buat, menyimpan sedih yang kau pendam. Lihat sekelilingmu, mereka sangat menyayangimu. Orang tuamu, sahabatmu, dan ingat, ada TUHANMU, ALLOH SWT. THINK SMART! You must be moved on! Be the best, and you will get the best! In syaa Alloh :))