Menemukanmu seperti menemukan jarum di tengah tumpukan jerami.
Menemukanmu seperti pecah bisul yang selama ini menggangguku.
Menemukanmu seperti menemukan kunang-kunang di tengah sawah, menenangkan.
Menemukanmu seperti menatap langit biru dipenuhi gumpalan awan, membahagiakan.
Menantimu seperti menunggu tanggal dua puluh sembilan di bulan Februari.
Menantimu seperti menunggu hujan ditengah kemarau.
Menunggumu seperti berharap sejuk di tengah panas.
Memilihmu seperti menentukan mau surabi yang di mana? Kemudian di kedai yang mana? Kemudian rasa apa? Kemudian pedas atau asin? Kemudian kering atau setengah matang?
Dipilih olehmu seperti apa, ya? Bahagia, itu saja. Sebab bahagia sudah mencakup segalanya. Atas syukur, atas ni'matNya, atas semuanya.
.
.
.
KY. Hari kedua di tahun yang baru.
Tampilkan postingan dengan label Tentang Aku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Aku. Tampilkan semua postingan
Senin, 02 Januari 2017
Minggu, 28 September 2014
Realistis?
"Mi, gini, ya. Hidup ini harus realistis. Jangan sampai, keidealisme-an kamu itu jadi penghalang kamu untuk menggapai masa depan kamu."
Realistis? Bukankah aku benar? Ralat, aku memang tidak sepenuhnya benar. Tapi, setiap orang kan mempunyai caranya masing-masing untuk melakukan sesuatu hal. Contohnya, aku. Menyayanginya dengan cara berdiam diri, mendoakan yang terbaik baginya. Saat yang lain sibuk memberi perhatian pada si 'pacar', aku hanya bisa menitipkan rinduku padaNYA. Karena aku menyadari, aku tak bisa berada di sampingnya untuk saat ini. Apalah arti rindu dan cinta, jika Allaah akan murka padaku, terlebih padanya. Bukankah "Hasbunallaah wa ni'mal wakiil" ? Lantas mengapa semua seakan memojokkanku? Hanya karena aku tak ingin mempunyai status terlarang itu? Aku memang kaum minoritas. Bukan karena aku tak bisa mencintai, bukan karena aku tak menyayanginya. Sama sekali bukan! Justru inilah caraku untuk mencintainya. Lewat lantunan doa yang terselip di setiap sujud panjang itu.
Ya, mengapa aku harus khawatir? Bukankah Allaah telah menyiapkan yang terbaik untuk yang terbaik pula? Yang aku tahu, lelaki senakal apapun, pasti menginginkan wanita yang baik. Bukan begitu, wahai kaum Adam?? Lantas mengapa seolah aku ini fanatik sekali terhadap 'anti pacaran'?? Memang benar kata Imam Syafi'i, "Perkataanku benar tapi ada titik salahnya, dan perkataan orang lain salah tapi ada titik benarnya", tapi, apa dalam masalah kegiatan berdua-duaan dengan non mahram itu benar?
Bukan aku sok benar, aku juga sedang dan akan selalu mencintai seseorang. Dan kerap kali memikirkannya ketika hendak tidur. Kata siapa aku shalihah? Jauh dari kata itu. Tapi, aku ingin memperbaiki status yang Allaah beri, sebagai 'Hamba'. Apakah layak, seorang hamba, selalu mengingkari aturan Rabb-nya? Apakah layak, seorang hamba, tidak taat pada Rabb-nya? Sungguh, tidak layak sama sekali.
Jadi? Siapa yang harus realistis? Tak melulu soal cinta pada lawan jenis, kan? Cukuplah kini Allaah dulu, Allaah terus, dan Allaah lagi. Coba melakukan pendekatan dengan-Nya. Berkhalwat dengan-Nya. Silakan tafakuri kalimat ini, "Satu cobaan yang Allaah beri, sejuta kebaikan yang Allaah ganti."
KURANG BAIK APA? :'( *Ngomong depan cermin*
Ya, biarkan aku dengan caraku sendiri, dengan keREALISTISanku. Hasbiyallaah~
Realistis? Bukankah aku benar? Ralat, aku memang tidak sepenuhnya benar. Tapi, setiap orang kan mempunyai caranya masing-masing untuk melakukan sesuatu hal. Contohnya, aku. Menyayanginya dengan cara berdiam diri, mendoakan yang terbaik baginya. Saat yang lain sibuk memberi perhatian pada si 'pacar', aku hanya bisa menitipkan rinduku padaNYA. Karena aku menyadari, aku tak bisa berada di sampingnya untuk saat ini. Apalah arti rindu dan cinta, jika Allaah akan murka padaku, terlebih padanya. Bukankah "Hasbunallaah wa ni'mal wakiil" ? Lantas mengapa semua seakan memojokkanku? Hanya karena aku tak ingin mempunyai status terlarang itu? Aku memang kaum minoritas. Bukan karena aku tak bisa mencintai, bukan karena aku tak menyayanginya. Sama sekali bukan! Justru inilah caraku untuk mencintainya. Lewat lantunan doa yang terselip di setiap sujud panjang itu.
Ya, mengapa aku harus khawatir? Bukankah Allaah telah menyiapkan yang terbaik untuk yang terbaik pula? Yang aku tahu, lelaki senakal apapun, pasti menginginkan wanita yang baik. Bukan begitu, wahai kaum Adam?? Lantas mengapa seolah aku ini fanatik sekali terhadap 'anti pacaran'?? Memang benar kata Imam Syafi'i, "Perkataanku benar tapi ada titik salahnya, dan perkataan orang lain salah tapi ada titik benarnya", tapi, apa dalam masalah kegiatan berdua-duaan dengan non mahram itu benar?
Bukan aku sok benar, aku juga sedang dan akan selalu mencintai seseorang. Dan kerap kali memikirkannya ketika hendak tidur. Kata siapa aku shalihah? Jauh dari kata itu. Tapi, aku ingin memperbaiki status yang Allaah beri, sebagai 'Hamba'. Apakah layak, seorang hamba, selalu mengingkari aturan Rabb-nya? Apakah layak, seorang hamba, tidak taat pada Rabb-nya? Sungguh, tidak layak sama sekali.
Jadi? Siapa yang harus realistis? Tak melulu soal cinta pada lawan jenis, kan? Cukuplah kini Allaah dulu, Allaah terus, dan Allaah lagi. Coba melakukan pendekatan dengan-Nya. Berkhalwat dengan-Nya. Silakan tafakuri kalimat ini, "Satu cobaan yang Allaah beri, sejuta kebaikan yang Allaah ganti."
KURANG BAIK APA? :'( *Ngomong depan cermin*
Ya, biarkan aku dengan caraku sendiri, dengan keREALISTISanku. Hasbiyallaah~
Minggu, 24 Agustus 2014
Surat Abstrak dibalut Rindu
Bismillah
Assalamu'alaikum, Yaa Habibi.
Bagaimana kabarmu di sana? Maafkan aku, karena aku merindukanmu.
Kau tahu? Air mataku tak sengaja jatuh karena mengingatmu.
Ya, aku tahu, kau pasti tidak ingin melihatku menangis. Tapi apalah dayaku, Sayang? Rindu ini sungguh sangat menyesakkan. Aku juga tidak ingin noktah-noktah rindu itu mengotori hatiku yang seharusnya hanya untuk-Nya, HANYA UNTUK-NYA...
Tapi sungguh, aku tak bisa menyembunyikan gemuruh rindu ini.
Kucoba mengambil air wudu, lalu menghadap-Nya. Berharap rindu ini sedikit mereda, tapi tangis karena rindu itu malah semakin menjadi. Maafkan aku...
Siapalah yang harus bertanggung jawab atas rindu ini. Untuk bertemu saja, kita belum mampu, belum cukup kuat.
Kupupuk rindu ini dengan doa-doa yang selalu kusampaikan pada-Nya, untukmu, Sayang. Apa kau juga begitu? Apa kau juga selalu mendoakanku? Apa kau juga selalu merindukanku?
Ana musytaq ilaika, Yaa Habibi :'(
Aku tak bisa mengatakannya langsung, maka kutulislah kalimat demi kalimat untuk mengungkapkan rasa rindu ini. Karena hanya inilah yang dapat kulakukan untuk meminimalisir rasa rinduku.
Untukmu yang entah di mana, semoga Allaah selalu menjagamu, meridhai segala urusanmu, dan semoga dirimu selalu mengingat-Nya.
Jangan lupakan aku, perjuangkan aku. Kunantikan dirimu di batas waktu.
Salam rindu, dariku, masa depanmu.
Wassalamu'alaikum. <3
Assalamu'alaikum, Yaa Habibi.
Bagaimana kabarmu di sana? Maafkan aku, karena aku merindukanmu.
Kau tahu? Air mataku tak sengaja jatuh karena mengingatmu.
Ya, aku tahu, kau pasti tidak ingin melihatku menangis. Tapi apalah dayaku, Sayang? Rindu ini sungguh sangat menyesakkan. Aku juga tidak ingin noktah-noktah rindu itu mengotori hatiku yang seharusnya hanya untuk-Nya, HANYA UNTUK-NYA...
Tapi sungguh, aku tak bisa menyembunyikan gemuruh rindu ini.
Kucoba mengambil air wudu, lalu menghadap-Nya. Berharap rindu ini sedikit mereda, tapi tangis karena rindu itu malah semakin menjadi. Maafkan aku...
Siapalah yang harus bertanggung jawab atas rindu ini. Untuk bertemu saja, kita belum mampu, belum cukup kuat.
Kupupuk rindu ini dengan doa-doa yang selalu kusampaikan pada-Nya, untukmu, Sayang. Apa kau juga begitu? Apa kau juga selalu mendoakanku? Apa kau juga selalu merindukanku?
Ana musytaq ilaika, Yaa Habibi :'(
Aku tak bisa mengatakannya langsung, maka kutulislah kalimat demi kalimat untuk mengungkapkan rasa rindu ini. Karena hanya inilah yang dapat kulakukan untuk meminimalisir rasa rinduku.
Untukmu yang entah di mana, semoga Allaah selalu menjagamu, meridhai segala urusanmu, dan semoga dirimu selalu mengingat-Nya.
Jangan lupakan aku, perjuangkan aku. Kunantikan dirimu di batas waktu.
Salam rindu, dariku, masa depanmu.
Wassalamu'alaikum. <3
Rabu, 13 Agustus 2014
Namanya juga Hidup
Assalamu'alaikum Wr Wb.
Bismillaah
Puji syukur atas kehadirat Allaah SWT karena atas ni'matnya, saya bisa menyelesaikan tulisan ini dan Anda dapat membaca tulisan saya.
Kali ini, saya ingin menuangkan semua yang ada dalam pikiran saya. Sesuai dengan judulnya, "Namanya juga Hidup".
Ya! Hari ini saya ingin membahas itu. Alasannya? Karena saya sedang galau. *curhatdikit*
Baiklah, kita mulai. . .
Hidup...
Hidup bagaikan roda berputar. Ada kalanya di atas, lalu seiring berjalannya roda tersebut, akan berpindah ke bawah. Ya, seperti itulah kira-kira gambaran tentang hidup.
Ketika di atas, kita dipuja dan dipuji, dipupusti (baca:dihormati), diakui keberadaannya. Seperti pejabat-pejabat tinggi, dosen-dosen terkemuka, orang yang kaya, dan masih banyak lagi. Namun, bukankah itu ujian? Silakan renungkan sendiri.
Lalu, ketika sedang di bawah, jangankan untuk menyapa, melirik pun rasanya enggan. Orang-orang merasa diri tak ada pentingnya, tak ada gunanya.
Ya, kejam memang. Namanya juga hidup...
Ada saatnya kita di atas, merasakan indahnya menjadi 'orang penting' yang dikagumi banyak orang, merasakan kasih sayang orang-orang yang 'mungkin' memegang prinsip "Ada gula ada semut". Yap, tak ada yang tahu, kan? :)
Jika yang dulunya dibenci, mungkin kini tengah dicintai. Jika dulu sempat memberi, mungkin kini sedang mengharapkan pemberian orang. Mungkin yang dulu sempat dicintai, kini telah ditinggal pergi. Dan mungkin yang dulu selalu meminta, kini selalu memberi. Satu lagi, agar anak mudanya konek niiihh, mungkin yang dulu menjadi objek yang dilupakan, kini menjadi objek yang selalu diingat. Tak ada yang tahu rencana-Nya. :')
Yaaa, namanya juga hidup! Nikmatilah setiap episodenya. Syukurilah apapun skenario yang telah Allaah rencanakan untukmu. Kelak, semuanya akan indah. Kau akan ceritakan semuanya pada anak dan cucumu. Menjadi cerita yang membuat dadamu membusung, akibat bahagia yang tercipta. Buah dari rasa syukurmu. Buah dari kesabaranmu.
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Quran Surah An-Nahl [16]: ayat 18)
Namanya juga hidup, kadang menangis, kadang ditangisi. Kadang bersuka cita, kadang berduka cita. Dan tentunya, di balik semua itu, selalu ada makna yang membuatmu tak henti-hentinya untuk bersyukur. Percayalah.
Jangan terus diratapi, tapi teruslah berbenah diri. Jangan terus jatuh, tapi bangun dan bangkit! Dekatilah Allaah, dekatilah Dia yang memberimu hidup. Biarkan Dia memelukmu dengan erat, biarkan Dia mendekapmu di setiap sujudmu, biarkan Dia hapus air matamu di atas sajadah panjang itu. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Namanya juga hidup, kadang asin, kadang manis, kadang pahit, yaaa campur-campur. Karena hidup banyak rasa :v
Dan hidup tak akan selamanya mulus. Life is never flat :D *maapiklanteroooss*
Semangatlah!! Hadapi lika-liku hidup ini! Kamu bisa, KAMU PASTI BISAAAA!!!
Alhamdulillaah, semoga bermanfaat bagi diri dan bagi setiap orang yang membaca postingan in.
Ana uhibbukum fillah~
Wassalamu'alaikum Wr Wb.
Cimahi, 13 Agustus 2014.
Kamelia Yuniar.
Bismillaah
Puji syukur atas kehadirat Allaah SWT karena atas ni'matnya, saya bisa menyelesaikan tulisan ini dan Anda dapat membaca tulisan saya.
Kali ini, saya ingin menuangkan semua yang ada dalam pikiran saya. Sesuai dengan judulnya, "Namanya juga Hidup".
Ya! Hari ini saya ingin membahas itu. Alasannya? Karena saya sedang galau. *curhatdikit*
Baiklah, kita mulai. . .
Hidup...
Hidup bagaikan roda berputar. Ada kalanya di atas, lalu seiring berjalannya roda tersebut, akan berpindah ke bawah. Ya, seperti itulah kira-kira gambaran tentang hidup.
Ketika di atas, kita dipuja dan dipuji, dipupusti (baca:dihormati), diakui keberadaannya. Seperti pejabat-pejabat tinggi, dosen-dosen terkemuka, orang yang kaya, dan masih banyak lagi. Namun, bukankah itu ujian? Silakan renungkan sendiri.
Lalu, ketika sedang di bawah, jangankan untuk menyapa, melirik pun rasanya enggan. Orang-orang merasa diri tak ada pentingnya, tak ada gunanya.
Ya, kejam memang. Namanya juga hidup...
Ada saatnya kita di atas, merasakan indahnya menjadi 'orang penting' yang dikagumi banyak orang, merasakan kasih sayang orang-orang yang 'mungkin' memegang prinsip "Ada gula ada semut". Yap, tak ada yang tahu, kan? :)
Jika yang dulunya dibenci, mungkin kini tengah dicintai. Jika dulu sempat memberi, mungkin kini sedang mengharapkan pemberian orang. Mungkin yang dulu sempat dicintai, kini telah ditinggal pergi. Dan mungkin yang dulu selalu meminta, kini selalu memberi. Satu lagi, agar anak mudanya konek niiihh, mungkin yang dulu menjadi objek yang dilupakan, kini menjadi objek yang selalu diingat. Tak ada yang tahu rencana-Nya. :')
Yaaa, namanya juga hidup! Nikmatilah setiap episodenya. Syukurilah apapun skenario yang telah Allaah rencanakan untukmu. Kelak, semuanya akan indah. Kau akan ceritakan semuanya pada anak dan cucumu. Menjadi cerita yang membuat dadamu membusung, akibat bahagia yang tercipta. Buah dari rasa syukurmu. Buah dari kesabaranmu.
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Quran Surah An-Nahl [16]: ayat 18)
Namanya juga hidup, kadang menangis, kadang ditangisi. Kadang bersuka cita, kadang berduka cita. Dan tentunya, di balik semua itu, selalu ada makna yang membuatmu tak henti-hentinya untuk bersyukur. Percayalah.
Jangan terus diratapi, tapi teruslah berbenah diri. Jangan terus jatuh, tapi bangun dan bangkit! Dekatilah Allaah, dekatilah Dia yang memberimu hidup. Biarkan Dia memelukmu dengan erat, biarkan Dia mendekapmu di setiap sujudmu, biarkan Dia hapus air matamu di atas sajadah panjang itu. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Namanya juga hidup, kadang asin, kadang manis, kadang pahit, yaaa campur-campur. Karena hidup banyak rasa :v
Dan hidup tak akan selamanya mulus. Life is never flat :D *maapiklanteroooss*
Semangatlah!! Hadapi lika-liku hidup ini! Kamu bisa, KAMU PASTI BISAAAA!!!
Alhamdulillaah, semoga bermanfaat bagi diri dan bagi setiap orang yang membaca postingan in.
Ana uhibbukum fillah~
Wassalamu'alaikum Wr Wb.
Cimahi, 13 Agustus 2014.
Kamelia Yuniar.
Kamis, 07 Agustus 2014
Untukmu yang Entah Dimana
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Alhamdulillahirabbil'alamiin, dengan penuh rasa syukur, kutuliskan rasa yang tertata rapi dalam relung hati *ciyeee*.
Kala malam menyapa bintang, rasanya aku ingin terus menatap langit. Berharap tatapanmu dan tatapanku beradu satu di sana. Di belahan bumi lain, aku tahu, kau tengah merindukanku. Begitu juga aku. Hingga nanti kita akan dipertemukan, biarlah rindu ini tetap memuncak, hingga kita dipersatukan di Jannah-Nya.
Ingin rasanya kusebut namamu, yang disusun dari dua puluh enam abjad. Hati ini selalu berdesir lembut kala mengingatmu. Namun, Allaah melarangku untuk merindukanmu saat ini. Maka, kini aku hanya berani merindukan-Nya dan merindukan kekasih-Nya, Baginda Rasulullaah SAW. Aku takut Dia cemburu padaku. Aku takut Dia alihkan pandangan-Nya dariku. Aku takut Dia tak peduli lagi, meski sebenarnya, ketakutan itu tak akan kunjung nyata, kecuali saat hari pembalasan nanti.
Jiwa ini bergetar hebat, kala fatamorgana masa depan hadir membayangiku.
Bukan aku tak ingin mengkhayalkanmu, bukan. Aku hanya tak ingin noktah-noktah rindu perlahan mengotori hatiku. Aku hanya bisa berdiam diri. Mengagumimu, mendoakanmu, dan mendekapmu dalam setiap sujudku.
Entah, bertemu pun belum pernah, apalagi untuk bertegur sapa?
Siapalah diri ini, berani-beraninya mengagumi sosokmu, idaman wanita-wanita shalihah sepanjang masa.
Tapi..... aku hanyalah manusia. Wanita akhir zaman yang mempunyai sejuta harapan. Tak apalah, biarkan Allaah yang memilihkan yang terbaik.
Untukmu yang di sana, maafkan aku. Aku pun tak mengerti, alasan apa yang membuatku begitu yakin padamu. Meski aku tahu, kecil dan tipis harapan kita dapat bersua. Namun aku percaya janji-Nya, dalam Al-Qur'an surat An-Nuur ayat 26.
Dan aku sangat yakin, tak ada yang sulit bagi-Nya untuk mempertemukan dua insan yang saling berjauhan. Seperti aku dan dirimu.
Allaah pasti mengetahui rindu ini, Allaah pasti menghitung setiap doa yang sungguh-sungguh kita panjatkan, demi kebaikan bersama. Aku yakin, sayang. Allaah pasti akan mempertemukan kita, juga mempersatukan kita. Yakinlah, sayang...
Aku selalu menunggu kau datang.
Aaaaa, pasti langsung deg-deg serrrrr deh bacanyaaaaa!!!! ^_^
Niatnya sih untuk memenuhi postingan blog ini saja. Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :)
Barakallaahu fiikum...
Cimahi, 7Agustus2014.
Alhamdulillahirabbil'alamiin, dengan penuh rasa syukur, kutuliskan rasa yang tertata rapi dalam relung hati *ciyeee*.
Kala malam menyapa bintang, rasanya aku ingin terus menatap langit. Berharap tatapanmu dan tatapanku beradu satu di sana. Di belahan bumi lain, aku tahu, kau tengah merindukanku. Begitu juga aku. Hingga nanti kita akan dipertemukan, biarlah rindu ini tetap memuncak, hingga kita dipersatukan di Jannah-Nya.
Ingin rasanya kusebut namamu, yang disusun dari dua puluh enam abjad. Hati ini selalu berdesir lembut kala mengingatmu. Namun, Allaah melarangku untuk merindukanmu saat ini. Maka, kini aku hanya berani merindukan-Nya dan merindukan kekasih-Nya, Baginda Rasulullaah SAW. Aku takut Dia cemburu padaku. Aku takut Dia alihkan pandangan-Nya dariku. Aku takut Dia tak peduli lagi, meski sebenarnya, ketakutan itu tak akan kunjung nyata, kecuali saat hari pembalasan nanti.
Jiwa ini bergetar hebat, kala fatamorgana masa depan hadir membayangiku.
Bukan aku tak ingin mengkhayalkanmu, bukan. Aku hanya tak ingin noktah-noktah rindu perlahan mengotori hatiku. Aku hanya bisa berdiam diri. Mengagumimu, mendoakanmu, dan mendekapmu dalam setiap sujudku.
Entah, bertemu pun belum pernah, apalagi untuk bertegur sapa?
Siapalah diri ini, berani-beraninya mengagumi sosokmu, idaman wanita-wanita shalihah sepanjang masa.
Tapi..... aku hanyalah manusia. Wanita akhir zaman yang mempunyai sejuta harapan. Tak apalah, biarkan Allaah yang memilihkan yang terbaik.
Untukmu yang di sana, maafkan aku. Aku pun tak mengerti, alasan apa yang membuatku begitu yakin padamu. Meski aku tahu, kecil dan tipis harapan kita dapat bersua. Namun aku percaya janji-Nya, dalam Al-Qur'an surat An-Nuur ayat 26.
Dan aku sangat yakin, tak ada yang sulit bagi-Nya untuk mempertemukan dua insan yang saling berjauhan. Seperti aku dan dirimu.
Allaah pasti mengetahui rindu ini, Allaah pasti menghitung setiap doa yang sungguh-sungguh kita panjatkan, demi kebaikan bersama. Aku yakin, sayang. Allaah pasti akan mempertemukan kita, juga mempersatukan kita. Yakinlah, sayang...
Aku selalu menunggu kau datang.
Aaaaa, pasti langsung deg-deg serrrrr deh bacanyaaaaa!!!! ^_^
Niatnya sih untuk memenuhi postingan blog ini saja. Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :)
Barakallaahu fiikum...
Cimahi, 7Agustus2014.
Rabu, 06 Agustus 2014
APALAGI
Bismillaah
Kata, kalimat, narasi, puisi, telah kutuangkan semuanya.
Dan kau masih belum mengerti juga? Aku harus berbuat apalagi?
Tlah kujelaskan huruf A, huruf B, C hingga Z. Kurang jelaskah maksudku? Baik, kuredam dulu emosiku...
--------WAIT--------
Untuk saat ini, aku tak ingin mengotori hati. Aku sudah muak, lelah, tak ingin lagi mengenal semua virus yang perlahan mematikanku. Ya, bagiku itu virus. Penyakit yang mungkin hanya satu obatnya, yaitu, kepastian.
Penyakit virus merah jambu itu sudah kuderita sejak lama. Jauh sebelum kau datang, jauh sebelum kau katakan "Aku menyayangimu" padaku. Kini, aku menyerah. Kuulang kembali, A-K-U M-E-N-Y-E-R-A-H !
Seringkali aku dicap labil, seringkali aku dijudge plinplan. Sekali aku diam, dua kali aku tak bisa apa-apa, tiga, empat, bahkan lebih dari lima. Kupingku pun panas, sesak, penuh!
Astaghfirullaah...
Maafkan aku, Yaa Rabb...
Tak usah datang sekarang. Bahkan, jika nanti AKU datang, kuperingatkan, SAKITI SAJA! Agar aku tak datang lagi.
Kau pikir aku benang layang-layang? Yang dapat kau tarik ulur???
Kini pikirkanlah kembali. Maaf, jika kalimat yang ini tak pantas untuk kuposting. Sudah terlanjur, mati, rasa ini.
Hanya A-Z yang mampu kutuliskan. Berucap saja tak mampu, lantas harus apalagi untuk menjelaskan semua padamu??????
Kata, kalimat, narasi, puisi, telah kutuangkan semuanya.
Dan kau masih belum mengerti juga? Aku harus berbuat apalagi?
Tlah kujelaskan huruf A, huruf B, C hingga Z. Kurang jelaskah maksudku? Baik, kuredam dulu emosiku...
--------WAIT--------
Untuk saat ini, aku tak ingin mengotori hati. Aku sudah muak, lelah, tak ingin lagi mengenal semua virus yang perlahan mematikanku. Ya, bagiku itu virus. Penyakit yang mungkin hanya satu obatnya, yaitu, kepastian.
Penyakit virus merah jambu itu sudah kuderita sejak lama. Jauh sebelum kau datang, jauh sebelum kau katakan "Aku menyayangimu" padaku. Kini, aku menyerah. Kuulang kembali, A-K-U M-E-N-Y-E-R-A-H !
Seringkali aku dicap labil, seringkali aku dijudge plinplan. Sekali aku diam, dua kali aku tak bisa apa-apa, tiga, empat, bahkan lebih dari lima. Kupingku pun panas, sesak, penuh!
Astaghfirullaah...
Maafkan aku, Yaa Rabb...
Tak usah datang sekarang. Bahkan, jika nanti AKU datang, kuperingatkan, SAKITI SAJA! Agar aku tak datang lagi.
Kau pikir aku benang layang-layang? Yang dapat kau tarik ulur???
Kini pikirkanlah kembali. Maaf, jika kalimat yang ini tak pantas untuk kuposting. Sudah terlanjur, mati, rasa ini.
Hanya A-Z yang mampu kutuliskan. Berucap saja tak mampu, lantas harus apalagi untuk menjelaskan semua padamu??????
Jumat, 25 Juli 2014
Untuk Mamah dan Bapak Tercinta
Bismillah
Yaa Robb, kau titipkan aku rasa cinta yang begitu indah. UntukMu, dan untuk kedua orang tuaku. Kau telah memberiku nikmat tanpa batas. Kau beri aku kasih sayang orang tua yang tak terhingga. Mereka rela bekerja banting tulang demi menyekolahkanku. Demi kehidupanku di masa yang akan datang.
Tapi apa aku ini, Ya Robb? Sering aku membuat cairan kristal itu menetes dari pelupuk matanya..
Sering aku menyakiti hatinya. Anak macam apa aku ini, Ya Robb?
Apa yang bisa kuperbuat agar mereka bahagia? Setitik saja kebahagiaan itu rasanya sulit sekali kuberikan pada mereka. Padahal mereka begitu bersemangat membuatku bahagia...
Mamah, yang sering berusaha menjadi penggemar setiaku. Tak jarang, ia selalu mengagumi karya-karyaku. Meski dengan kalimat yang tak halus untuk kudengar. Tapi aku tahu, ia ingin aku menjadi lebih baik. Beliau rela bangun pagi untuk menyiapkan semuanya, lantas pergi mencari pundi-pundi uang untuk kami --aku dan adikku--.
Bapak, yang kesabarannya membuatku kagum. Jarang mengeluh, meski dalam hatinya aku tahu, ia ingin sekali membahagiakanku seperti ayah-ayah yang lainnya.
Tapi itulah mereka, kesederhanaannya mampu membuatku merasa nyaman. Mampu membuatku merasa dicintai, ketika yang lain tak mau mendengar.
Aku bisa apa, Ya Robb? Ucapan maaf pun rasanya takkan mampu mengganti rasa sakit yang telah mereka rasakan.
Rasanya ingin sekali tangan ini memeluk erat tubuhnya, dan berkata, "Aku bangga menjadi anak mamah dan bapak," lalu ku kecup tangannya yang mulai berkeriput.
Ingin rasanya menggantikan rutinitas mereka yang begitu menguras tenaga. Kemudian menukarnya dengan beberapa lembar uang.
Apa aku telah menzholimi mereka, Ya Robb? Tangan ini sama sekali belum pernah menyeka air mata mereka.
Bibir ini sungguh kelu, saat ingin meminta maaf.
Ya Robb, muliakan kedua orang tuaku. Sayangilah mereka melebihi sayangku untuknya.
Sungguh, aku sangat menyayangi mereka. Aku hanya bisa berbicara lewat kata, lewat narasi. Selebihnya, aku hanya bisa diam. Aku diam karena aku sayang, aku tak ingin lisanku menyakiti mereka lebih banyak lagi.
Ya Robb, izinkan aku membahagiakan mereka, mengangkat derajat mereka di sisiMu. Kumohon permudahkanlah...
Aamiin..
Yaa Robb, kau titipkan aku rasa cinta yang begitu indah. UntukMu, dan untuk kedua orang tuaku. Kau telah memberiku nikmat tanpa batas. Kau beri aku kasih sayang orang tua yang tak terhingga. Mereka rela bekerja banting tulang demi menyekolahkanku. Demi kehidupanku di masa yang akan datang.
Tapi apa aku ini, Ya Robb? Sering aku membuat cairan kristal itu menetes dari pelupuk matanya..
Sering aku menyakiti hatinya. Anak macam apa aku ini, Ya Robb?
Apa yang bisa kuperbuat agar mereka bahagia? Setitik saja kebahagiaan itu rasanya sulit sekali kuberikan pada mereka. Padahal mereka begitu bersemangat membuatku bahagia...
Mamah, yang sering berusaha menjadi penggemar setiaku. Tak jarang, ia selalu mengagumi karya-karyaku. Meski dengan kalimat yang tak halus untuk kudengar. Tapi aku tahu, ia ingin aku menjadi lebih baik. Beliau rela bangun pagi untuk menyiapkan semuanya, lantas pergi mencari pundi-pundi uang untuk kami --aku dan adikku--.
Bapak, yang kesabarannya membuatku kagum. Jarang mengeluh, meski dalam hatinya aku tahu, ia ingin sekali membahagiakanku seperti ayah-ayah yang lainnya.
Tapi itulah mereka, kesederhanaannya mampu membuatku merasa nyaman. Mampu membuatku merasa dicintai, ketika yang lain tak mau mendengar.
Aku bisa apa, Ya Robb? Ucapan maaf pun rasanya takkan mampu mengganti rasa sakit yang telah mereka rasakan.
Rasanya ingin sekali tangan ini memeluk erat tubuhnya, dan berkata, "Aku bangga menjadi anak mamah dan bapak," lalu ku kecup tangannya yang mulai berkeriput.
Ingin rasanya menggantikan rutinitas mereka yang begitu menguras tenaga. Kemudian menukarnya dengan beberapa lembar uang.
Apa aku telah menzholimi mereka, Ya Robb? Tangan ini sama sekali belum pernah menyeka air mata mereka.
Bibir ini sungguh kelu, saat ingin meminta maaf.
Ya Robb, muliakan kedua orang tuaku. Sayangilah mereka melebihi sayangku untuknya.
Sungguh, aku sangat menyayangi mereka. Aku hanya bisa berbicara lewat kata, lewat narasi. Selebihnya, aku hanya bisa diam. Aku diam karena aku sayang, aku tak ingin lisanku menyakiti mereka lebih banyak lagi.
Ya Robb, izinkan aku membahagiakan mereka, mengangkat derajat mereka di sisiMu. Kumohon permudahkanlah...
Aamiin..
Selasa, 22 Juli 2014
Harapan Kecil yang Besar
Beberapa kali kucoba mengingatnya
Tak paham
Ingatan itu telah rapuh
Bak sarang laba-laba
Terkoyak lalu hancur
Atau mungkin aku terlalu menikmati
Hingga sakit itu sudah tak kuanggap lagi
Bagai debu yang tersapu angin
Lenyap
Kau tak pernah menyadari
Aku sering mengintai duniamu
Dunia nyata
Ataupun dunia mayamu
Hingga aku merasa bahagia
Meski kadang terluka
Aku tak apa-apa
Sungguh
Melihat satu garis senyummu saja
Aku sudah (sangat) bahagia
Kau, yang mampu mengalihkan duniaku
Hanya sekejap saja
Sayangnya, aku hanya seorang wanita
Tak bisa apa-apa
Hanya bisa menanti
Menatap dari jauh
Berdoa dalam sujudku
Meminta yang terbaik pada-Nya
Jika namamu yang tertulis di buku (Lauhul Mahfudz) itu
Semoga Allah mengindahkan kita dalam hati masing-masing
Meski mungkin, hatimu sempat dipinjam yang lain
Namun ku percaya
Kau adalah pria yang setia
Yang akan mencintaiku seutuhnya
Mencintaiku karena-Nya
Dan selalu berusaha agar aku selalu dekat dengan-Nya
Terima kasih
Aku mencintaimu yang mencintaiku karena-Nya~
Tak paham
Ingatan itu telah rapuh
Bak sarang laba-laba
Terkoyak lalu hancur
Atau mungkin aku terlalu menikmati
Hingga sakit itu sudah tak kuanggap lagi
Bagai debu yang tersapu angin
Lenyap
Kau tak pernah menyadari
Aku sering mengintai duniamu
Dunia nyata
Ataupun dunia mayamu
Hingga aku merasa bahagia
Meski kadang terluka
Aku tak apa-apa
Sungguh
Melihat satu garis senyummu saja
Aku sudah (sangat) bahagia
Kau, yang mampu mengalihkan duniaku
Hanya sekejap saja
Sayangnya, aku hanya seorang wanita
Tak bisa apa-apa
Hanya bisa menanti
Menatap dari jauh
Berdoa dalam sujudku
Meminta yang terbaik pada-Nya
Jika namamu yang tertulis di buku (Lauhul Mahfudz) itu
Semoga Allah mengindahkan kita dalam hati masing-masing
Meski mungkin, hatimu sempat dipinjam yang lain
Namun ku percaya
Kau adalah pria yang setia
Yang akan mencintaiku seutuhnya
Mencintaiku karena-Nya
Dan selalu berusaha agar aku selalu dekat dengan-Nya
Terima kasih
Aku mencintaimu yang mencintaiku karena-Nya~
Minggu, 13 Juli 2014
Bongkahan kalimat yang terpendam
Beberapa bulan terakhir ini, aku merasa istimewa. Dicintai seseorang yang terlihat tulus. Aku tak pernah tahu bagaimana perasaannya. Aku tak pernah tahu apakah lisannya sejalan dengan hatinya? Dan aku tak mau tahu.
Perlahan, cinta itu mulai tumbuh. Puluhan bahkan ratusan kali aku mengelak atas perasaan ini, tapi memang benar. Usahanya untuk membuatku jatuh hati pun berhasil. Aku jatuh cinta lagi. Setelah beberapa tahun lamanya aku tak merasakan dicintai oleh seorang lelaki selain ayah dan adikku.
Kebahagiaan menyelimutiku. Meski terkadang aku harus merasakan bimbang akibat perasaanku sendiri. Aku gagal fokus. Cinta memang tak bisa dipaksakan, tidak bisa langsung datang hanya beberapa minggu atau bulan.
Aku terus berusaha mencintainya. Berharap perasaan itu setara dengan apa yang ia berikan. Namun, semakin kupaksakan, yang kurasa bukan lagi cinta, tapi kasihan. Ya, aku memang jahat. Tapi apa daya, aku tak bisa berbuat apa-apa.
Menjauh. Memang ini terdengar sakit, bahkan sangat sakit. Tapi, lebih sakit mana dengan mencintainya dengan penuh keraguan? Kegamangan? Kepalsuan dan dusta-dusta yang aku tampakkan padanya?
LEBIH JAHAT MANA? Maka aku putuskan agar dia membenciku. Aku tak peduli apa yang akan orang-orang katakan padaku. Jahat? Tak punya hati? Atau apapun. Aku sungguh TAK PEDULI!
Lelah. Aku selalu dihantui perasaan bersalah. Aku belum bisa mencintainya. Maka aku putuskan untuk mencintaiNYA. Agar aku dapat mencintai seseorang karenaNYA.
JanjiNYA itu pasti. Terdapat dalam QS AN-NUR ayat 26.
Jika dia akan membenciku dan melupakanku, aku tak apa. Memang seharusnya begitu, aku lebih pantas diperlakukan seperti itu. Tapi, tak ada sedikitpun niat untuk menyakitinya. Aku menyayanginya sebagai seorang muslim, sebagai saudara seiman. Apa daya, dia menyayangiku lebih dari itu. Aku tak meminta, aku tak pernah mengemis.
Aku hanya ingin kebahagiaan sebagai wanita pada usiaku. Biarlah aku rubah semua sifat burukku.
Jika ia akan datang kembali, hatinya pasti Allah gerakkan untuk menuju diriku kembali. Namun jika ia sudah terlampau benci, ia pasti tak akan datang kembali. Akan ada yang datang nanti. Entah siapa...
Aku tak ingin mengkhianati pasanganku di masa depan. Maka dari itu, aku ingin menyendiri. Biarlah keluarga dan sahabat yang menemaniku. Tak terkecuali, Allah dan Al-Qur'an. Itulah yang akan menemaniku kelak. Nanti, jika waktunya tiba, seseorang akan datang untuk segera mengkhitbah lalu menikahiku. Jika tidak, biarkanlah aku menjadi bidadari di syurga. Bertemu dengan jodohku di sana. Aamiin Yaa Robbal 'alamiin.
Meski terkesan dewasa, tak apalah. Sudah saatnya aku berpikir seperti ini.
Biarkan ini menjadi pengalaman yang menjadi guru terbaik di masa depanku.
Terima kasih telah datang ke kehidupanku dan memberiku kasih sayang yang tulus, yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Barakallah...
Perlahan, cinta itu mulai tumbuh. Puluhan bahkan ratusan kali aku mengelak atas perasaan ini, tapi memang benar. Usahanya untuk membuatku jatuh hati pun berhasil. Aku jatuh cinta lagi. Setelah beberapa tahun lamanya aku tak merasakan dicintai oleh seorang lelaki selain ayah dan adikku.
Kebahagiaan menyelimutiku. Meski terkadang aku harus merasakan bimbang akibat perasaanku sendiri. Aku gagal fokus. Cinta memang tak bisa dipaksakan, tidak bisa langsung datang hanya beberapa minggu atau bulan.
Aku terus berusaha mencintainya. Berharap perasaan itu setara dengan apa yang ia berikan. Namun, semakin kupaksakan, yang kurasa bukan lagi cinta, tapi kasihan. Ya, aku memang jahat. Tapi apa daya, aku tak bisa berbuat apa-apa.
Menjauh. Memang ini terdengar sakit, bahkan sangat sakit. Tapi, lebih sakit mana dengan mencintainya dengan penuh keraguan? Kegamangan? Kepalsuan dan dusta-dusta yang aku tampakkan padanya?
LEBIH JAHAT MANA? Maka aku putuskan agar dia membenciku. Aku tak peduli apa yang akan orang-orang katakan padaku. Jahat? Tak punya hati? Atau apapun. Aku sungguh TAK PEDULI!
Lelah. Aku selalu dihantui perasaan bersalah. Aku belum bisa mencintainya. Maka aku putuskan untuk mencintaiNYA. Agar aku dapat mencintai seseorang karenaNYA.
JanjiNYA itu pasti. Terdapat dalam QS AN-NUR ayat 26.
Jika dia akan membenciku dan melupakanku, aku tak apa. Memang seharusnya begitu, aku lebih pantas diperlakukan seperti itu. Tapi, tak ada sedikitpun niat untuk menyakitinya. Aku menyayanginya sebagai seorang muslim, sebagai saudara seiman. Apa daya, dia menyayangiku lebih dari itu. Aku tak meminta, aku tak pernah mengemis.
Aku hanya ingin kebahagiaan sebagai wanita pada usiaku. Biarlah aku rubah semua sifat burukku.
Jika ia akan datang kembali, hatinya pasti Allah gerakkan untuk menuju diriku kembali. Namun jika ia sudah terlampau benci, ia pasti tak akan datang kembali. Akan ada yang datang nanti. Entah siapa...
Aku tak ingin mengkhianati pasanganku di masa depan. Maka dari itu, aku ingin menyendiri. Biarlah keluarga dan sahabat yang menemaniku. Tak terkecuali, Allah dan Al-Qur'an. Itulah yang akan menemaniku kelak. Nanti, jika waktunya tiba, seseorang akan datang untuk segera mengkhitbah lalu menikahiku. Jika tidak, biarkanlah aku menjadi bidadari di syurga. Bertemu dengan jodohku di sana. Aamiin Yaa Robbal 'alamiin.
Meski terkesan dewasa, tak apalah. Sudah saatnya aku berpikir seperti ini.
Biarkan ini menjadi pengalaman yang menjadi guru terbaik di masa depanku.
Terima kasih telah datang ke kehidupanku dan memberiku kasih sayang yang tulus, yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Barakallah...
Cinta Sejati itu Menyembuhkan bukan Menyakitkan
Banyak orang mengatakan, "Cinta sejati itu menyembuhkan, bukan menyakitkan."
Aku setuju. Dan jika kau mencintainya, namun hanya derita, resah, dan gelisah yang kau dapat, itu bukan cinta. Menjauhlah. Itu lebih baik daripada harus menyakitinya lebih lama. Kau kira dicintai tanpa mencintai itu perkara 'enak'?
TIDAK! Setiap hari kau harus dihantui perasaan bersalah. Makan pun tak enak, ini lebih dari mencintai tanpa dicintai. Lebih sakit, teramat sakit.
You CAN MOVE ON!
Jangan membuat orang yang kau sayang semakin bersalah atas perasaan yang kau punya. Jika kau sayang, sudahlah, ucapkan dalam hati. Jika kau rindu, ucapkanlah pada pemiliknya, Allah SWT.
Baik, ini bukan perkara mudah, tapi bagi saya ini lebih baik. Ketimbang harus membuat orang lain terluka.
Relakah membuat orang yang kau sayang menangis? Sanggupkah kau untuk menanggung beban kesedihannya?
Cinta takkan egois, Saudaraku.
Semoga menjadi bahan renungan.
Barakallah...
Aku setuju. Dan jika kau mencintainya, namun hanya derita, resah, dan gelisah yang kau dapat, itu bukan cinta. Menjauhlah. Itu lebih baik daripada harus menyakitinya lebih lama. Kau kira dicintai tanpa mencintai itu perkara 'enak'?
TIDAK! Setiap hari kau harus dihantui perasaan bersalah. Makan pun tak enak, ini lebih dari mencintai tanpa dicintai. Lebih sakit, teramat sakit.
You CAN MOVE ON!
Jangan membuat orang yang kau sayang semakin bersalah atas perasaan yang kau punya. Jika kau sayang, sudahlah, ucapkan dalam hati. Jika kau rindu, ucapkanlah pada pemiliknya, Allah SWT.
Baik, ini bukan perkara mudah, tapi bagi saya ini lebih baik. Ketimbang harus membuat orang lain terluka.
Relakah membuat orang yang kau sayang menangis? Sanggupkah kau untuk menanggung beban kesedihannya?
Cinta takkan egois, Saudaraku.
Semoga menjadi bahan renungan.
Barakallah...
Jumat, 11 Juli 2014
Suara yang Tak Tersampaikan
Jika aku menuruti hati kecilku
Sudah sejak lama kukatakan rindu yang bergejolak
Jika aku menuruti bibirku
Sejak awal pun sudah kukatakan sayang padanya
Namun diri
Merasa belum cukup ilmu
Merasa belum cukup pengetahuan
Merasa belum pantas
jika harus bersanding denganmu
Apakah setiap rindu harus diketahui keberadaannya?
Apakah hari itu juga harus kau katakan?
Apakah cinta sama sekali tak bisa terpendam?
Seperti cinta Sayyidina Ali dan Fatimah Az-zahra???
Syetan apa yang membisikkan telingamu?
Hingga kau mengoyak imanku?
Hasutan apalagi yang mereka katakan padamu?
Agar aku pun mengatakan cinta sebelum waktunya?
Aku tak ingin membencimu
Aku pun tak ingin menjauhimu
Aku hanya ingin menegaska
Aku tak seperti mereka
Yang haus akan perhatian dan kasih sayang
Dari kekasih yang entah berjodoh atau tidak
Aku merasa belum cukup
Untuk bersamamu merajut kasih
Aku tahu kau mengerti prinsipku
Tapi tolong, biar aku saja
Biar aku sendiri menikmati perasaan ini
Biar aku saja yang menelan pahit rindu padamu
Saudaraku belum merasakan kasih sayangku
Orang tuaku pun belum sempurna mereguk cinta kasihku
Saudara muslimku pun belum mampu kuperhatikan
Biarlah secara perlahan aku mencintai
Padamu, pada mereka dan padaNYA
Usahlah kau sebut-sebut rindu itu
Aku tahu
Aku merasakan
Aku tak bisa ungkapkan lagi
Aku tak ingin rasa itu hambar nantinya
Bisakah kau mengerti?
Sudah sejak lama kukatakan rindu yang bergejolak
Jika aku menuruti bibirku
Sejak awal pun sudah kukatakan sayang padanya
Namun diri
Merasa belum cukup ilmu
Merasa belum cukup pengetahuan
Merasa belum pantas
jika harus bersanding denganmu
Apakah setiap rindu harus diketahui keberadaannya?
Apakah hari itu juga harus kau katakan?
Apakah cinta sama sekali tak bisa terpendam?
Seperti cinta Sayyidina Ali dan Fatimah Az-zahra???
Syetan apa yang membisikkan telingamu?
Hingga kau mengoyak imanku?
Hasutan apalagi yang mereka katakan padamu?
Agar aku pun mengatakan cinta sebelum waktunya?
Aku tak ingin membencimu
Aku pun tak ingin menjauhimu
Aku hanya ingin menegaska
Aku tak seperti mereka
Yang haus akan perhatian dan kasih sayang
Dari kekasih yang entah berjodoh atau tidak
Aku merasa belum cukup
Untuk bersamamu merajut kasih
Aku tahu kau mengerti prinsipku
Tapi tolong, biar aku saja
Biar aku sendiri menikmati perasaan ini
Biar aku saja yang menelan pahit rindu padamu
Saudaraku belum merasakan kasih sayangku
Orang tuaku pun belum sempurna mereguk cinta kasihku
Saudara muslimku pun belum mampu kuperhatikan
Biarlah secara perlahan aku mencintai
Padamu, pada mereka dan padaNYA
Usahlah kau sebut-sebut rindu itu
Aku tahu
Aku merasakan
Aku tak bisa ungkapkan lagi
Aku tak ingin rasa itu hambar nantinya
Bisakah kau mengerti?
Rabu, 09 Juli 2014
Hijrahku
Jalan hijrah yang berliku
Tak semulus yang ku kira
Tikungan tajam yang kualami
Membuatku harus terjatuh dan terjatuh lagi
Jalan hijrah yang tak mudah
Terkadang harus ada tangisan
Deraian air mata
Harus meninggalkan kebiasaan yang dulu aku kerjakan
Tapi tak diridhoi-Nya
Jalan hijrah yang ku tempuh
Jalannya tak lurus
Jalannya tak mulus
Jalan hijrah
Tak pernah ada yang mudah
Tak ada yang tak tajam
Tak ada yang tak berjurang
Hijrah
Terkadang aku harus menangis
Terkadang aku harus merintih
Meronta-ronta
Mengapa aku harus hijrah?
Hijrah
Agar bisa lebih baik
Agar bisa lebih baik
Agar bisa lebih baik
Itulah jawabannya
Agar lebih disayang Dia
Rabb semesta alam
Hijrahku
Memang tak semudah yang kuduga
Jalannya berliku tajam
Penuh onak dan duri
Meski harus meninggalkan aktivitas dunia yang fana
Yang menyenangkan
Asal Allah sayang, aku tak apa...
Allah, bantu aku dan saudara/saudariku untuk berhijrah
Kami rindu padaMU...
Tak semulus yang ku kira
Tikungan tajam yang kualami
Membuatku harus terjatuh dan terjatuh lagi
Jalan hijrah yang tak mudah
Terkadang harus ada tangisan
Deraian air mata
Harus meninggalkan kebiasaan yang dulu aku kerjakan
Tapi tak diridhoi-Nya
Jalan hijrah yang ku tempuh
Jalannya tak lurus
Jalannya tak mulus
Jalan hijrah
Tak pernah ada yang mudah
Tak ada yang tak tajam
Tak ada yang tak berjurang
Hijrah
Terkadang aku harus menangis
Terkadang aku harus merintih
Meronta-ronta
Mengapa aku harus hijrah?
Hijrah
Agar bisa lebih baik
Agar bisa lebih baik
Agar bisa lebih baik
Itulah jawabannya
Agar lebih disayang Dia
Rabb semesta alam
Hijrahku
Memang tak semudah yang kuduga
Jalannya berliku tajam
Penuh onak dan duri
Meski harus meninggalkan aktivitas dunia yang fana
Yang menyenangkan
Asal Allah sayang, aku tak apa...
Allah, bantu aku dan saudara/saudariku untuk berhijrah
Kami rindu padaMU...
Jumat, 04 Juli 2014
Untuk Separuh Hati
Bismillah
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
Kalian pernah memiliki perasaan yang tak bisa diungkapkan?
Bagaimana rasanya?
Masya Allah, nikmaaaatttttt sekali.
Sementara yang lain sibuk mengungkapkan perasaannya, kau hanya bisa mendoakannya. Hanya bisa memeluknya dalam doamu.
Sesekali kau sapa, meski mungkin sebenarnya itu dapat mengganggu hatinya, atau bahkan imannya. Astaghfirullah. Tapi, rindu memang sudah tak bisa dielakkan lagi, tak bisa ditolerir lagi...
Terkadang ia sisipkan amarahnya karena ketidaktegasanmu, namun apa kau tahu yang sebenarnya? Sungguh, ia benar-benar peduli padamu. Tanpa harus kujelaskan lagi, seseorang yang seperti itu, perasaannya bisa lebih-lebih darimu. Peduli takkan pernah tumbuh tanpa kasih sayang. Peduli merupakan perasaan sayang yang tersembunyi.
Ia mungkin tak tahu bagaimana cara mengungkapkannya, atau mungkin malu pada Rabbnya. Karena ia sendiri belum mampu mencintai-Nya secara sempurna, bagaimana bisa ia mencintaimu?
Untuk separuh hati yang kini tengah gelisah.
Kau tak perlu tahu semuanya, karena tak semua perasaan mampu dikatakan, tak semua lisan fasih untuk mengucapkan. Pun tak semua rindu dapat tersampaikan.
Untuk separuh hati yang kini masih remang.
Pikirkan masa depan, cerahkan hatimu. Isilah dengan tilawah Al-Qur'an, in syaa Allah hati akan tenang, IN SYAA ALLAH...
Untuk separuh hati yang kini kian meradang.
Kuharap, kau tak terlalu memaksa hati. Allah bisa dengan mudahnya mengembalikan hatimu seperti semula.
Yang terlihat dingin, mungkin dalam sujudnya selalu mendoakan.
Atau yang agresif, mungkin menyisipkan yang lain dalam hatinya. Hanya Allah dan diri sendirilah yang tahu.
Mungkin yang terlihat dingin, mencoba menghindar dari rasa sakit yang mungkin juga pernah mengecap hatimu, mencoba melindungimu dari kecewa yang berkepanjangan.
Semoga hatimu dan hatinya saling melindungi. Suatu hari, jawaban dari setiap sujud panjangmu akan terungkap, bersamaan dengan kualitas dirimu. Apakah lebih baik atau sebaliknya...
Wallahu a'lam.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi wabarakaatuh.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
Kalian pernah memiliki perasaan yang tak bisa diungkapkan?
Bagaimana rasanya?
Masya Allah, nikmaaaatttttt sekali.
Sementara yang lain sibuk mengungkapkan perasaannya, kau hanya bisa mendoakannya. Hanya bisa memeluknya dalam doamu.
Sesekali kau sapa, meski mungkin sebenarnya itu dapat mengganggu hatinya, atau bahkan imannya. Astaghfirullah. Tapi, rindu memang sudah tak bisa dielakkan lagi, tak bisa ditolerir lagi...
Terkadang ia sisipkan amarahnya karena ketidaktegasanmu, namun apa kau tahu yang sebenarnya? Sungguh, ia benar-benar peduli padamu. Tanpa harus kujelaskan lagi, seseorang yang seperti itu, perasaannya bisa lebih-lebih darimu. Peduli takkan pernah tumbuh tanpa kasih sayang. Peduli merupakan perasaan sayang yang tersembunyi.
Ia mungkin tak tahu bagaimana cara mengungkapkannya, atau mungkin malu pada Rabbnya. Karena ia sendiri belum mampu mencintai-Nya secara sempurna, bagaimana bisa ia mencintaimu?
Untuk separuh hati yang kini tengah gelisah.
Kau tak perlu tahu semuanya, karena tak semua perasaan mampu dikatakan, tak semua lisan fasih untuk mengucapkan. Pun tak semua rindu dapat tersampaikan.
Untuk separuh hati yang kini masih remang.
Pikirkan masa depan, cerahkan hatimu. Isilah dengan tilawah Al-Qur'an, in syaa Allah hati akan tenang, IN SYAA ALLAH...
Untuk separuh hati yang kini kian meradang.
Kuharap, kau tak terlalu memaksa hati. Allah bisa dengan mudahnya mengembalikan hatimu seperti semula.
Yang terlihat dingin, mungkin dalam sujudnya selalu mendoakan.
Atau yang agresif, mungkin menyisipkan yang lain dalam hatinya. Hanya Allah dan diri sendirilah yang tahu.
Mungkin yang terlihat dingin, mencoba menghindar dari rasa sakit yang mungkin juga pernah mengecap hatimu, mencoba melindungimu dari kecewa yang berkepanjangan.
Semoga hatimu dan hatinya saling melindungi. Suatu hari, jawaban dari setiap sujud panjangmu akan terungkap, bersamaan dengan kualitas dirimu. Apakah lebih baik atau sebaliknya...
Wallahu a'lam.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi wabarakaatuh.
Selasa, 01 Juli 2014
Maafkan Kami
(Sebuah catatan untuk para lelaki, dari kami, kaum perempuan yang sedang berusaha untuk berubah)
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.
Saudaraku, ini hanya kalimat-kalimat singkat yang ingin kami sampaikan. Bacalah hanya lima menit. Ini dari lubuk hati kami yang paling dalam... *ciaelaah*
Saudaraku, maafkan kami yang masih sulit untuk menutup aurat secara sempurna. Maafkan kami yang sering menjadi penyebabmu untuk melakukan dosa.
Saudaraku, kami hanyalah wanita akhir zaman yang butuh bimbingan. Kami masih sering melakukan salah. Pakaian kami masih memperlihatkan lekuk tubuh kami. Jika kalian melihat kami seperti itu, jangan segan-segan, TEGURLAH kami. Bagaimanapun caranya, karena (mungkin) kami tidak tahu bahwa itu salah.
Saudaraku, akhir-akhir ini kami sering mendengar, kau mengeluhkan kami. Yang menggodamu lewat pose-pose di media sosial kami.
Saudaraku, kami tahu, kau juga hanya seorang lelaki di akhir zaman. Namun sekali lagi kami tegaskan, TEGURLAH kami!
Saudaraku, maafkan kami. Lisan kami sering menyakitimu, yang tengah menasihati kami.
Kami susah untuk diberi tahu, kami susah untuk dinasihati, kami sulit menerima pesan baik darimu.
ASTAGHFIRULLAHAL'AZHIIM...
Saudaraku, maafkan kami yang telah mendzolimimu.
Kami harap, kau bisa menjaga diri dari kesalahan kami. Kami harap, imanmu kuat untuk menghadapi kami.
Maafkan atas kesalahan kami.
Jangan pernah takut, jangan segan apalagi ragu untuk MENEGUR kami. Insya Allah kami siap menerima.
Bantulah kami, Saudaraku.
Kami juga ingin membuat kalian tenang hidup di bumi Allah. Kami juga ingin bersama menuju syurgaNya.
Kau mau bantu kami, kan, Saudaraku?
Mungkin hanya itu yang bisa kami sampaikan, walau sebenarnya sejuta kata ingin kutumpahkan di sini.
Terima kasih atas pengertiannya, semoga kami dan dirimu terus bermuhasabah diri. Aamiin.
Tertanda,
Wanita Akhir Zaman
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.
Kamis, 19 Juni 2014
Sepatah Harapanku
Allah, terima kasih telah Kau titipkan perasaan ini
TanpaMu, aku tak kuasa menahan deburan rasa
TanpaMu, aku tak sanggup menahan rindu
Namun, ayat-ayatMu menguatkanku
Kau mantapkan hati ini
Allah, terima kasih
Kau telah mengirimkan seseorang yang kucintai dan mencintaiku
Allah, aku tak tahu, apakah ini hanya sesaat atau selamanya
Yang kutahu, waktu kan jawab semuanya
Allah, jangan sampai rasa ini membuatku berpaling dariMu
Bantu aku mengokohkan pondasi cinta ini karenaMu
Biarkan aku merasakan rindu dengan wajar
Ridhoi kami Yaa Allah
Tuntun kami menuju JannahMu dengan jalan yang benar
Jangan pertemukan kami jika hanya mendatangkan madharat
Istimewakan kami dalam hati masing-masing
Jika kami tak bisa bersatu, lapangkanlah dada ini
Biarkan kami bersatu dengan yang lain
Tanpa menyimpan dendam dalam hati
Tanpa menyakiti hati yang lain
Bersihkan hati kami, Yaa Rabbana...
Yaa Muqallibal Quluub, tsabbit qalbi 'alaa diinika...
TanpaMu, aku tak kuasa menahan deburan rasa
TanpaMu, aku tak sanggup menahan rindu
Namun, ayat-ayatMu menguatkanku
Kau mantapkan hati ini
Allah, terima kasih
Kau telah mengirimkan seseorang yang kucintai dan mencintaiku
Allah, aku tak tahu, apakah ini hanya sesaat atau selamanya
Yang kutahu, waktu kan jawab semuanya
Allah, jangan sampai rasa ini membuatku berpaling dariMu
Bantu aku mengokohkan pondasi cinta ini karenaMu
Biarkan aku merasakan rindu dengan wajar
Ridhoi kami Yaa Allah
Tuntun kami menuju JannahMu dengan jalan yang benar
Jangan pertemukan kami jika hanya mendatangkan madharat
Istimewakan kami dalam hati masing-masing
Jika kami tak bisa bersatu, lapangkanlah dada ini
Biarkan kami bersatu dengan yang lain
Tanpa menyimpan dendam dalam hati
Tanpa menyakiti hati yang lain
Bersihkan hati kami, Yaa Rabbana...
Yaa Muqallibal Quluub, tsabbit qalbi 'alaa diinika...
Kamis, 29 Mei 2014
Selamat Jalan Masa Lalu
Seringkali kita dibuat gelisah apabila tak sengaja menengok lagi ke belakang. Lebih tepatnya, masa lalu. Usahlah resah dengan kejadian yang sudah lampau. Kau punya masa depan yang indah. Kau harus pandai memilih yang terbaik untuk hidupmu kelak. Dan yang pasti, jadilah yang terbaik. Hidup ini sangat indah, relakah engkau menghabiskan waktumu dengan meng'galau'kannya? Waktu hidup di dunia ini terlalu singkat, relakah engkau menyia-nyiakannya dengan selalu memikirkan masa lalu? Tak sayangkah engkau pada dirimu sendiri? Menelan sakit yang selalu kau buat, menyimpan sedih yang kau pendam. Lihat sekelilingmu, mereka sangat menyayangimu. Orang tuamu, sahabatmu, dan ingat, ada TUHANMU, ALLOH SWT. THINK SMART! You must be moved on! Be the best, and you will get the best! In syaa Alloh :))
Rabu, 08 Mei 2013
Saat Kau Tak Lagi Ada
Senyum sudah enggan lagi menyentuh bibirku
Seakan tak ingin lagi menghampiriku
Sejak itu hanya air mata yang setia menemaniku
Senja tak lagi indah seperti dulu
Semenjak kau pergi dari sisiku
Sejak itulah hanya malam gelap yang mampu temani dukaku
Cinta yang dulu adalah milikku, kini menjadi miliknya
Bumi berputar dan kini aku sedang berada di bawah
Kau menari di atas luka yang tlah kau ciptakan sendiri
Luka yang bersarang di dalam hatiku ini
Aku menunjukmu tapi kau menunjuknya
Aku mencarimu tapi kau mencarinya
Dimanakah letak keadilan cinta itu?
Ini takkan pernah berakhir
Kau dan aku tak pernah menemukan titik temu cinta tiada akhir
Lantas salah siapa? Entahlah
Benang merah belum berpihak pada kau dan aku
Cinta yang salah masih belum lelah berputar pada waktu
Detik hidupku kini seakan kian semu
Haruskah terus seperti itu?
Apakah perlu kulanjutkan kesetiaan ini?
Aku yakin cinta bukanlah kamu dan kamu bukanlah cinta itu
Aku bersalah, aku berkhianat
Aku berdosa pada dia yang lebih tepat
Haruskah kubunuh saja perasaan ini meski menyesakkan diri?
Seakan tak ingin lagi menghampiriku
Sejak itu hanya air mata yang setia menemaniku
Senja tak lagi indah seperti dulu
Semenjak kau pergi dari sisiku
Sejak itulah hanya malam gelap yang mampu temani dukaku
Cinta yang dulu adalah milikku, kini menjadi miliknya
Bumi berputar dan kini aku sedang berada di bawah
Kau menari di atas luka yang tlah kau ciptakan sendiri
Luka yang bersarang di dalam hatiku ini
Aku menunjukmu tapi kau menunjuknya
Aku mencarimu tapi kau mencarinya
Dimanakah letak keadilan cinta itu?
Ini takkan pernah berakhir
Kau dan aku tak pernah menemukan titik temu cinta tiada akhir
Lantas salah siapa? Entahlah
Benang merah belum berpihak pada kau dan aku
Cinta yang salah masih belum lelah berputar pada waktu
Detik hidupku kini seakan kian semu
Haruskah terus seperti itu?
Apakah perlu kulanjutkan kesetiaan ini?
Aku yakin cinta bukanlah kamu dan kamu bukanlah cinta itu
Aku bersalah, aku berkhianat
Aku berdosa pada dia yang lebih tepat
Haruskah kubunuh saja perasaan ini meski menyesakkan diri?
Kamis, 02 Mei 2013
Jangan
Hai, aku hanya ingin memberi tahu. Jika yang kamu cari itu wanita cantik, kamu salah orang karena aku jauh dari cantik dan suatu hari aku akan keriput jauh dari cantik. Jika yang kamu cari itu wanita kaya harta, kamu masih belum tepat karena aku hanya wanita yang dilahirkan sederhana tapi aku mau berusaha untuk mencari rezekiku sendiri dan untuk keluargaku kelak. Jika yang kamu cari itu wanita yang tegar, itu bukan aku karena aku mudah menangis, aku mudah marah dan aku sulit untuk melupakan masa lalu yang suram yang intinya aku ini pendendam. Tapi jika yang kamu cari adalah wanita yang jauh dari sempurna, yang butuh bimbingan darimu itulah aku. Aku masih butuh diperhatikan, masih butuh dinasehati dan butuh motivator terbesar dalam hidupku. Jika kamu bisa lakukan itu dan niat hanya karena Allah, berbicaralah pada orang tuaku. Jangan ajak aku masuk ke dalam cinta yang hanya menyesatkanku. Cukuplah untuk sekarang kita bertemu dalam do'a, aku mencintaimu...
Langganan:
Komentar (Atom)