Bismillah
Assalamu'alaikum, Yaa Habibi.
Bagaimana kabarmu di sana? Maafkan aku, karena aku merindukanmu.
Kau tahu? Air mataku tak sengaja jatuh karena mengingatmu.
Ya, aku tahu, kau pasti tidak ingin melihatku menangis. Tapi apalah dayaku, Sayang? Rindu ini sungguh sangat menyesakkan. Aku juga tidak ingin noktah-noktah rindu itu mengotori hatiku yang seharusnya hanya untuk-Nya, HANYA UNTUK-NYA...
Tapi sungguh, aku tak bisa menyembunyikan gemuruh rindu ini.
Kucoba mengambil air wudu, lalu menghadap-Nya. Berharap rindu ini sedikit mereda, tapi tangis karena rindu itu malah semakin menjadi. Maafkan aku...
Siapalah yang harus bertanggung jawab atas rindu ini. Untuk bertemu saja, kita belum mampu, belum cukup kuat.
Kupupuk rindu ini dengan doa-doa yang selalu kusampaikan pada-Nya, untukmu, Sayang. Apa kau juga begitu? Apa kau juga selalu mendoakanku? Apa kau juga selalu merindukanku?
Ana musytaq ilaika, Yaa Habibi :'(
Aku tak bisa mengatakannya langsung, maka kutulislah kalimat demi kalimat untuk mengungkapkan rasa rindu ini. Karena hanya inilah yang dapat kulakukan untuk meminimalisir rasa rinduku.
Untukmu yang entah di mana, semoga Allaah selalu menjagamu, meridhai segala urusanmu, dan semoga dirimu selalu mengingat-Nya.
Jangan lupakan aku, perjuangkan aku. Kunantikan dirimu di batas waktu.
Salam rindu, dariku, masa depanmu.
Wassalamu'alaikum. <3
Tampilkan postingan dengan label Do'a untukmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Do'a untukmu. Tampilkan semua postingan
Minggu, 24 Agustus 2014
Kamis, 07 Agustus 2014
Untukmu yang Entah Dimana
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Alhamdulillahirabbil'alamiin, dengan penuh rasa syukur, kutuliskan rasa yang tertata rapi dalam relung hati *ciyeee*.
Kala malam menyapa bintang, rasanya aku ingin terus menatap langit. Berharap tatapanmu dan tatapanku beradu satu di sana. Di belahan bumi lain, aku tahu, kau tengah merindukanku. Begitu juga aku. Hingga nanti kita akan dipertemukan, biarlah rindu ini tetap memuncak, hingga kita dipersatukan di Jannah-Nya.
Ingin rasanya kusebut namamu, yang disusun dari dua puluh enam abjad. Hati ini selalu berdesir lembut kala mengingatmu. Namun, Allaah melarangku untuk merindukanmu saat ini. Maka, kini aku hanya berani merindukan-Nya dan merindukan kekasih-Nya, Baginda Rasulullaah SAW. Aku takut Dia cemburu padaku. Aku takut Dia alihkan pandangan-Nya dariku. Aku takut Dia tak peduli lagi, meski sebenarnya, ketakutan itu tak akan kunjung nyata, kecuali saat hari pembalasan nanti.
Jiwa ini bergetar hebat, kala fatamorgana masa depan hadir membayangiku.
Bukan aku tak ingin mengkhayalkanmu, bukan. Aku hanya tak ingin noktah-noktah rindu perlahan mengotori hatiku. Aku hanya bisa berdiam diri. Mengagumimu, mendoakanmu, dan mendekapmu dalam setiap sujudku.
Entah, bertemu pun belum pernah, apalagi untuk bertegur sapa?
Siapalah diri ini, berani-beraninya mengagumi sosokmu, idaman wanita-wanita shalihah sepanjang masa.
Tapi..... aku hanyalah manusia. Wanita akhir zaman yang mempunyai sejuta harapan. Tak apalah, biarkan Allaah yang memilihkan yang terbaik.
Untukmu yang di sana, maafkan aku. Aku pun tak mengerti, alasan apa yang membuatku begitu yakin padamu. Meski aku tahu, kecil dan tipis harapan kita dapat bersua. Namun aku percaya janji-Nya, dalam Al-Qur'an surat An-Nuur ayat 26.
Dan aku sangat yakin, tak ada yang sulit bagi-Nya untuk mempertemukan dua insan yang saling berjauhan. Seperti aku dan dirimu.
Allaah pasti mengetahui rindu ini, Allaah pasti menghitung setiap doa yang sungguh-sungguh kita panjatkan, demi kebaikan bersama. Aku yakin, sayang. Allaah pasti akan mempertemukan kita, juga mempersatukan kita. Yakinlah, sayang...
Aku selalu menunggu kau datang.
Aaaaa, pasti langsung deg-deg serrrrr deh bacanyaaaaa!!!! ^_^
Niatnya sih untuk memenuhi postingan blog ini saja. Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :)
Barakallaahu fiikum...
Cimahi, 7Agustus2014.
Alhamdulillahirabbil'alamiin, dengan penuh rasa syukur, kutuliskan rasa yang tertata rapi dalam relung hati *ciyeee*.
Kala malam menyapa bintang, rasanya aku ingin terus menatap langit. Berharap tatapanmu dan tatapanku beradu satu di sana. Di belahan bumi lain, aku tahu, kau tengah merindukanku. Begitu juga aku. Hingga nanti kita akan dipertemukan, biarlah rindu ini tetap memuncak, hingga kita dipersatukan di Jannah-Nya.
Ingin rasanya kusebut namamu, yang disusun dari dua puluh enam abjad. Hati ini selalu berdesir lembut kala mengingatmu. Namun, Allaah melarangku untuk merindukanmu saat ini. Maka, kini aku hanya berani merindukan-Nya dan merindukan kekasih-Nya, Baginda Rasulullaah SAW. Aku takut Dia cemburu padaku. Aku takut Dia alihkan pandangan-Nya dariku. Aku takut Dia tak peduli lagi, meski sebenarnya, ketakutan itu tak akan kunjung nyata, kecuali saat hari pembalasan nanti.
Jiwa ini bergetar hebat, kala fatamorgana masa depan hadir membayangiku.
Bukan aku tak ingin mengkhayalkanmu, bukan. Aku hanya tak ingin noktah-noktah rindu perlahan mengotori hatiku. Aku hanya bisa berdiam diri. Mengagumimu, mendoakanmu, dan mendekapmu dalam setiap sujudku.
Entah, bertemu pun belum pernah, apalagi untuk bertegur sapa?
Siapalah diri ini, berani-beraninya mengagumi sosokmu, idaman wanita-wanita shalihah sepanjang masa.
Tapi..... aku hanyalah manusia. Wanita akhir zaman yang mempunyai sejuta harapan. Tak apalah, biarkan Allaah yang memilihkan yang terbaik.
Untukmu yang di sana, maafkan aku. Aku pun tak mengerti, alasan apa yang membuatku begitu yakin padamu. Meski aku tahu, kecil dan tipis harapan kita dapat bersua. Namun aku percaya janji-Nya, dalam Al-Qur'an surat An-Nuur ayat 26.
Dan aku sangat yakin, tak ada yang sulit bagi-Nya untuk mempertemukan dua insan yang saling berjauhan. Seperti aku dan dirimu.
Allaah pasti mengetahui rindu ini, Allaah pasti menghitung setiap doa yang sungguh-sungguh kita panjatkan, demi kebaikan bersama. Aku yakin, sayang. Allaah pasti akan mempertemukan kita, juga mempersatukan kita. Yakinlah, sayang...
Aku selalu menunggu kau datang.
Aaaaa, pasti langsung deg-deg serrrrr deh bacanyaaaaa!!!! ^_^
Niatnya sih untuk memenuhi postingan blog ini saja. Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :)
Barakallaahu fiikum...
Cimahi, 7Agustus2014.
Sabtu, 02 Agustus 2014
Bersyukur dalam Kecewa
Bismillahirrahmaanirrahiim...Kau pernah merasakan kecewa? Ketika harapanmu tak sejalan dengan kenyataan, ketika keinginan tak sama dengan kesanggupan, ketika impian harus hancur begitu saja di tengah jalan.
Lantas, apa yang bisa kau lakukan? Meratap? Menangis? Mengurung diri? Putus asa? Atau sampai BOSAN HIDUP?
Membiarkan hatimu mati dibunuh mimpi...
Astaghfirullaah.
Inikah diri yang selalu mengaku sebagai hamba? Inikah diri yang selalu berkata cinta pada Rabbnya? Tapi hanya karena takdir, hanya karena kenyataan, diri ini menyiksa diri, terus meratapi nasib yang memang sudah qada dan qadarnya?
Allaahu akbar...
Biarkanlah kecewa itu ada dalam hatimu, setelah kau menikmatinya, kuburlah jauh dalam hatimu. Enyahkan dalam pikiranmu. Aku tahu, itu tak semudah membalikkan kedua telapak tangan. Tak semudah aku mengatakannya, karena aku pun sama, aku pun manusia yang pernah merasakan perihnya dikecewakan. Namun apalah daya...
Mungkin di balik rasa kecewa itu, terdapat kekuatan yang begitu besar agar kita bisa lebih hati-hati. Dalam hal apa?? Jelas, dalam segala hal.
Kecewa karena memilih yang salah, kecewa karena tak bisa menggapai harapan, kecewa karena seseorang, dan masih banyak lagi cabang kecewa yang mungkin kau rasakan. Aku paham, sakit, sangaaat sakit.
Apa kecewa itu harus berjamur dalam hati? Ketika dikecewakan orang-orang tersayang (baca: sahabat, keluarga, kekasih), rasanya... seperti luka yang dibasuh oleh air cuka, lalu ditaburi garam (oke ini lebay). Kau bisa apa??
Waktu telah berputar, bukan?
Kau akan terus berkutat dengan rasa kecewamu? Kau rela hidupmu terus dibayangi oleh rasa kecewa?
BANGKITLAH! Aku tahu, ini cukup sulit. Hidup memang tak semudah kata-kata bijak para motivator yang menjamur di muka bumi ini, tapi kalimat-kalimat mereka ada benarnya.
Dan cobalah, buka Al-Qur'an (bagi yang muslim) surat Al-Baqarah ayat 216
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allaah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui,"
lalu ayat 286
"Allaah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."
Allaahu akbar!!
Dalam surat-surat cintaNya (baca: Al-Qur'an) pun, sudah jelas. Kalau tidak sanggup, Allaah pun tak akan memberi rasa kecewa itu. Tapi karena kau sanggup, jadi Allaah berikan perasaan tersebut.
Sakit itu hanya secuil, dibandingkan dengan nikmat-nikmat yang Allaah berikan pada kita semua.
"Lalu nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" (Ar-Rahmaan:13)
Sudahkah engkau bersyukur hari ini? Boleh jadi, karena kurangnya rasa syukur kita, rasa kecewa itu diturunkan.
Tamparan bagiku dan bagi yang membaca tulisanku. Apapun yang Allaah berikan, entah itu perasaan, barang, dan sebagainya, ingatlah bersyukur. Ingatkan pula pada yang lain.
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih." (Q.S Ibrahim:7)
Alhamdulillaahirabbil'alamiin.
Masih dirundung rasa kecewa? Sudah, lupakanlah. Masih banyak yang harus kau bahagiakan, masih banyak orang yang ingin membahagiakanmu. Waktumu terlalu berharga. Doakanlah selalu orang-orang yang telah membuatmu kecewa. Semoga mereka selalu dilindungi-Nya. Doakan yang baik, ya :)
Mohon maaf jika tulisanku ada yang tak berkenan di hati. Ini hanya ungkapan hati yang tak terucapkan.
Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca. Semoga bermanfaat :)
Cimahi, 2 Agustus 2014
Kamelia Yuniar.
(Perwakilan hati-hati yang telah dikecewakan) :') ^^
Jumat, 25 Juli 2014
Untuk Mamah dan Bapak Tercinta
Bismillah
Yaa Robb, kau titipkan aku rasa cinta yang begitu indah. UntukMu, dan untuk kedua orang tuaku. Kau telah memberiku nikmat tanpa batas. Kau beri aku kasih sayang orang tua yang tak terhingga. Mereka rela bekerja banting tulang demi menyekolahkanku. Demi kehidupanku di masa yang akan datang.
Tapi apa aku ini, Ya Robb? Sering aku membuat cairan kristal itu menetes dari pelupuk matanya..
Sering aku menyakiti hatinya. Anak macam apa aku ini, Ya Robb?
Apa yang bisa kuperbuat agar mereka bahagia? Setitik saja kebahagiaan itu rasanya sulit sekali kuberikan pada mereka. Padahal mereka begitu bersemangat membuatku bahagia...
Mamah, yang sering berusaha menjadi penggemar setiaku. Tak jarang, ia selalu mengagumi karya-karyaku. Meski dengan kalimat yang tak halus untuk kudengar. Tapi aku tahu, ia ingin aku menjadi lebih baik. Beliau rela bangun pagi untuk menyiapkan semuanya, lantas pergi mencari pundi-pundi uang untuk kami --aku dan adikku--.
Bapak, yang kesabarannya membuatku kagum. Jarang mengeluh, meski dalam hatinya aku tahu, ia ingin sekali membahagiakanku seperti ayah-ayah yang lainnya.
Tapi itulah mereka, kesederhanaannya mampu membuatku merasa nyaman. Mampu membuatku merasa dicintai, ketika yang lain tak mau mendengar.
Aku bisa apa, Ya Robb? Ucapan maaf pun rasanya takkan mampu mengganti rasa sakit yang telah mereka rasakan.
Rasanya ingin sekali tangan ini memeluk erat tubuhnya, dan berkata, "Aku bangga menjadi anak mamah dan bapak," lalu ku kecup tangannya yang mulai berkeriput.
Ingin rasanya menggantikan rutinitas mereka yang begitu menguras tenaga. Kemudian menukarnya dengan beberapa lembar uang.
Apa aku telah menzholimi mereka, Ya Robb? Tangan ini sama sekali belum pernah menyeka air mata mereka.
Bibir ini sungguh kelu, saat ingin meminta maaf.
Ya Robb, muliakan kedua orang tuaku. Sayangilah mereka melebihi sayangku untuknya.
Sungguh, aku sangat menyayangi mereka. Aku hanya bisa berbicara lewat kata, lewat narasi. Selebihnya, aku hanya bisa diam. Aku diam karena aku sayang, aku tak ingin lisanku menyakiti mereka lebih banyak lagi.
Ya Robb, izinkan aku membahagiakan mereka, mengangkat derajat mereka di sisiMu. Kumohon permudahkanlah...
Aamiin..
Yaa Robb, kau titipkan aku rasa cinta yang begitu indah. UntukMu, dan untuk kedua orang tuaku. Kau telah memberiku nikmat tanpa batas. Kau beri aku kasih sayang orang tua yang tak terhingga. Mereka rela bekerja banting tulang demi menyekolahkanku. Demi kehidupanku di masa yang akan datang.
Tapi apa aku ini, Ya Robb? Sering aku membuat cairan kristal itu menetes dari pelupuk matanya..
Sering aku menyakiti hatinya. Anak macam apa aku ini, Ya Robb?
Apa yang bisa kuperbuat agar mereka bahagia? Setitik saja kebahagiaan itu rasanya sulit sekali kuberikan pada mereka. Padahal mereka begitu bersemangat membuatku bahagia...
Mamah, yang sering berusaha menjadi penggemar setiaku. Tak jarang, ia selalu mengagumi karya-karyaku. Meski dengan kalimat yang tak halus untuk kudengar. Tapi aku tahu, ia ingin aku menjadi lebih baik. Beliau rela bangun pagi untuk menyiapkan semuanya, lantas pergi mencari pundi-pundi uang untuk kami --aku dan adikku--.
Bapak, yang kesabarannya membuatku kagum. Jarang mengeluh, meski dalam hatinya aku tahu, ia ingin sekali membahagiakanku seperti ayah-ayah yang lainnya.
Tapi itulah mereka, kesederhanaannya mampu membuatku merasa nyaman. Mampu membuatku merasa dicintai, ketika yang lain tak mau mendengar.
Aku bisa apa, Ya Robb? Ucapan maaf pun rasanya takkan mampu mengganti rasa sakit yang telah mereka rasakan.
Rasanya ingin sekali tangan ini memeluk erat tubuhnya, dan berkata, "Aku bangga menjadi anak mamah dan bapak," lalu ku kecup tangannya yang mulai berkeriput.
Ingin rasanya menggantikan rutinitas mereka yang begitu menguras tenaga. Kemudian menukarnya dengan beberapa lembar uang.
Apa aku telah menzholimi mereka, Ya Robb? Tangan ini sama sekali belum pernah menyeka air mata mereka.
Bibir ini sungguh kelu, saat ingin meminta maaf.
Ya Robb, muliakan kedua orang tuaku. Sayangilah mereka melebihi sayangku untuknya.
Sungguh, aku sangat menyayangi mereka. Aku hanya bisa berbicara lewat kata, lewat narasi. Selebihnya, aku hanya bisa diam. Aku diam karena aku sayang, aku tak ingin lisanku menyakiti mereka lebih banyak lagi.
Ya Robb, izinkan aku membahagiakan mereka, mengangkat derajat mereka di sisiMu. Kumohon permudahkanlah...
Aamiin..
Selasa, 22 Juli 2014
Harapan Kecil yang Besar
Beberapa kali kucoba mengingatnya
Tak paham
Ingatan itu telah rapuh
Bak sarang laba-laba
Terkoyak lalu hancur
Atau mungkin aku terlalu menikmati
Hingga sakit itu sudah tak kuanggap lagi
Bagai debu yang tersapu angin
Lenyap
Kau tak pernah menyadari
Aku sering mengintai duniamu
Dunia nyata
Ataupun dunia mayamu
Hingga aku merasa bahagia
Meski kadang terluka
Aku tak apa-apa
Sungguh
Melihat satu garis senyummu saja
Aku sudah (sangat) bahagia
Kau, yang mampu mengalihkan duniaku
Hanya sekejap saja
Sayangnya, aku hanya seorang wanita
Tak bisa apa-apa
Hanya bisa menanti
Menatap dari jauh
Berdoa dalam sujudku
Meminta yang terbaik pada-Nya
Jika namamu yang tertulis di buku (Lauhul Mahfudz) itu
Semoga Allah mengindahkan kita dalam hati masing-masing
Meski mungkin, hatimu sempat dipinjam yang lain
Namun ku percaya
Kau adalah pria yang setia
Yang akan mencintaiku seutuhnya
Mencintaiku karena-Nya
Dan selalu berusaha agar aku selalu dekat dengan-Nya
Terima kasih
Aku mencintaimu yang mencintaiku karena-Nya~
Tak paham
Ingatan itu telah rapuh
Bak sarang laba-laba
Terkoyak lalu hancur
Atau mungkin aku terlalu menikmati
Hingga sakit itu sudah tak kuanggap lagi
Bagai debu yang tersapu angin
Lenyap
Kau tak pernah menyadari
Aku sering mengintai duniamu
Dunia nyata
Ataupun dunia mayamu
Hingga aku merasa bahagia
Meski kadang terluka
Aku tak apa-apa
Sungguh
Melihat satu garis senyummu saja
Aku sudah (sangat) bahagia
Kau, yang mampu mengalihkan duniaku
Hanya sekejap saja
Sayangnya, aku hanya seorang wanita
Tak bisa apa-apa
Hanya bisa menanti
Menatap dari jauh
Berdoa dalam sujudku
Meminta yang terbaik pada-Nya
Jika namamu yang tertulis di buku (Lauhul Mahfudz) itu
Semoga Allah mengindahkan kita dalam hati masing-masing
Meski mungkin, hatimu sempat dipinjam yang lain
Namun ku percaya
Kau adalah pria yang setia
Yang akan mencintaiku seutuhnya
Mencintaiku karena-Nya
Dan selalu berusaha agar aku selalu dekat dengan-Nya
Terima kasih
Aku mencintaimu yang mencintaiku karena-Nya~
Rabu, 09 Juli 2014
Hijrahku
Jalan hijrah yang berliku
Tak semulus yang ku kira
Tikungan tajam yang kualami
Membuatku harus terjatuh dan terjatuh lagi
Jalan hijrah yang tak mudah
Terkadang harus ada tangisan
Deraian air mata
Harus meninggalkan kebiasaan yang dulu aku kerjakan
Tapi tak diridhoi-Nya
Jalan hijrah yang ku tempuh
Jalannya tak lurus
Jalannya tak mulus
Jalan hijrah
Tak pernah ada yang mudah
Tak ada yang tak tajam
Tak ada yang tak berjurang
Hijrah
Terkadang aku harus menangis
Terkadang aku harus merintih
Meronta-ronta
Mengapa aku harus hijrah?
Hijrah
Agar bisa lebih baik
Agar bisa lebih baik
Agar bisa lebih baik
Itulah jawabannya
Agar lebih disayang Dia
Rabb semesta alam
Hijrahku
Memang tak semudah yang kuduga
Jalannya berliku tajam
Penuh onak dan duri
Meski harus meninggalkan aktivitas dunia yang fana
Yang menyenangkan
Asal Allah sayang, aku tak apa...
Allah, bantu aku dan saudara/saudariku untuk berhijrah
Kami rindu padaMU...
Tak semulus yang ku kira
Tikungan tajam yang kualami
Membuatku harus terjatuh dan terjatuh lagi
Jalan hijrah yang tak mudah
Terkadang harus ada tangisan
Deraian air mata
Harus meninggalkan kebiasaan yang dulu aku kerjakan
Tapi tak diridhoi-Nya
Jalan hijrah yang ku tempuh
Jalannya tak lurus
Jalannya tak mulus
Jalan hijrah
Tak pernah ada yang mudah
Tak ada yang tak tajam
Tak ada yang tak berjurang
Hijrah
Terkadang aku harus menangis
Terkadang aku harus merintih
Meronta-ronta
Mengapa aku harus hijrah?
Hijrah
Agar bisa lebih baik
Agar bisa lebih baik
Agar bisa lebih baik
Itulah jawabannya
Agar lebih disayang Dia
Rabb semesta alam
Hijrahku
Memang tak semudah yang kuduga
Jalannya berliku tajam
Penuh onak dan duri
Meski harus meninggalkan aktivitas dunia yang fana
Yang menyenangkan
Asal Allah sayang, aku tak apa...
Allah, bantu aku dan saudara/saudariku untuk berhijrah
Kami rindu padaMU...
Kamis, 19 Juni 2014
Sepatah Harapanku
Allah, terima kasih telah Kau titipkan perasaan ini
TanpaMu, aku tak kuasa menahan deburan rasa
TanpaMu, aku tak sanggup menahan rindu
Namun, ayat-ayatMu menguatkanku
Kau mantapkan hati ini
Allah, terima kasih
Kau telah mengirimkan seseorang yang kucintai dan mencintaiku
Allah, aku tak tahu, apakah ini hanya sesaat atau selamanya
Yang kutahu, waktu kan jawab semuanya
Allah, jangan sampai rasa ini membuatku berpaling dariMu
Bantu aku mengokohkan pondasi cinta ini karenaMu
Biarkan aku merasakan rindu dengan wajar
Ridhoi kami Yaa Allah
Tuntun kami menuju JannahMu dengan jalan yang benar
Jangan pertemukan kami jika hanya mendatangkan madharat
Istimewakan kami dalam hati masing-masing
Jika kami tak bisa bersatu, lapangkanlah dada ini
Biarkan kami bersatu dengan yang lain
Tanpa menyimpan dendam dalam hati
Tanpa menyakiti hati yang lain
Bersihkan hati kami, Yaa Rabbana...
Yaa Muqallibal Quluub, tsabbit qalbi 'alaa diinika...
TanpaMu, aku tak kuasa menahan deburan rasa
TanpaMu, aku tak sanggup menahan rindu
Namun, ayat-ayatMu menguatkanku
Kau mantapkan hati ini
Allah, terima kasih
Kau telah mengirimkan seseorang yang kucintai dan mencintaiku
Allah, aku tak tahu, apakah ini hanya sesaat atau selamanya
Yang kutahu, waktu kan jawab semuanya
Allah, jangan sampai rasa ini membuatku berpaling dariMu
Bantu aku mengokohkan pondasi cinta ini karenaMu
Biarkan aku merasakan rindu dengan wajar
Ridhoi kami Yaa Allah
Tuntun kami menuju JannahMu dengan jalan yang benar
Jangan pertemukan kami jika hanya mendatangkan madharat
Istimewakan kami dalam hati masing-masing
Jika kami tak bisa bersatu, lapangkanlah dada ini
Biarkan kami bersatu dengan yang lain
Tanpa menyimpan dendam dalam hati
Tanpa menyakiti hati yang lain
Bersihkan hati kami, Yaa Rabbana...
Yaa Muqallibal Quluub, tsabbit qalbi 'alaa diinika...
Sabtu, 14 Juni 2014
Untuk...Yang Terkasih
Kasih...
Aku sering melukis senyummu
Meski sebatas khayalan
Aku sering membayangkan peluhmu
yang terjatuh demi menghidupiku
Aku sering membayangkan tangismu
Ketika kau mulai tak sanggup menghadapi kerasnya hidup
Kasih...
Maafkan aku
Aku pernah melupakanmu
Membiarkan yang lain singgah di dalam hatiku
Tak sadar, jika suatu hari kau kan datang
Menjemputku untuk bersama meraih Jannah-Nya
Kasih...
Siluet amarahmu pernah terlintas di benakku
Jika suatu saat masa laluku terkoyak kembali
Terbuka bersama waktu yang telah berlalu
Maafkan aku yang tak bisa menjaga diri
Bayang fatamorganamu menggoyahkanku
Membuatku tak sabar menantimu
Membuatku letih untuk bertahan dalam kesendirian ini
Kuharap kau tak lelah mencariku
Kasih...
Aku akan berubah untukNya
Memintamu padaNya
Mencarimu karenaNya
Nantikanku..
Imam masa depanku...
Aku sering melukis senyummu
Meski sebatas khayalan
Aku sering membayangkan peluhmu
yang terjatuh demi menghidupiku
Aku sering membayangkan tangismu
Ketika kau mulai tak sanggup menghadapi kerasnya hidup
Kasih...
Maafkan aku
Aku pernah melupakanmu
Membiarkan yang lain singgah di dalam hatiku
Tak sadar, jika suatu hari kau kan datang
Menjemputku untuk bersama meraih Jannah-Nya
Kasih...
Siluet amarahmu pernah terlintas di benakku
Jika suatu saat masa laluku terkoyak kembali
Terbuka bersama waktu yang telah berlalu
Maafkan aku yang tak bisa menjaga diri
Bayang fatamorganamu menggoyahkanku
Membuatku tak sabar menantimu
Membuatku letih untuk bertahan dalam kesendirian ini
Kuharap kau tak lelah mencariku
Kasih...
Aku akan berubah untukNya
Memintamu padaNya
Mencarimu karenaNya
Nantikanku..
Imam masa depanku...
Minggu, 26 Januari 2014
Do'a Cinta dalam Keheningan
Yaa Rabb,,
Aku merindukan salah satu hamba-Mu
Hamba-Mu yang selalu berusaha berubah ke arah yang lebih baik
Hamba-Mu yang kini mengisi hatiku
Hamba-Mu yang kukagumi karena ilmu agama-Mu
Hamba-Mu yang tak pernah lelah membantuku untuk berubah
dan hamba-Mu yang kucintai karena-Mu
Yaa Allah
Jika ia yang terbaik untukku, persatukanlah kami
Bantulah aku untuk menyimpan cinta dalam keheningan ini
Pertemukanlah kami dalam sujud panjang kami dengan saling mendoakan
Perkenankanlah aku untuk mengisi hatinya
dengan waktu yang tak terbatas
Izinkanlah aku untuk menjadi yang terakhir dalam hidupnya
Ridhoilah aku dan dia untuk bersama meraih jannah-Mu.
Aamiin Yaa robbal Alamiin.
Aku merindukan salah satu hamba-Mu
Hamba-Mu yang selalu berusaha berubah ke arah yang lebih baik
Hamba-Mu yang kini mengisi hatiku
Hamba-Mu yang kukagumi karena ilmu agama-Mu
Hamba-Mu yang tak pernah lelah membantuku untuk berubah
dan hamba-Mu yang kucintai karena-Mu
Yaa Allah
Jika ia yang terbaik untukku, persatukanlah kami
Bantulah aku untuk menyimpan cinta dalam keheningan ini
Pertemukanlah kami dalam sujud panjang kami dengan saling mendoakan
Perkenankanlah aku untuk mengisi hatinya
dengan waktu yang tak terbatas
Izinkanlah aku untuk menjadi yang terakhir dalam hidupnya
Ridhoilah aku dan dia untuk bersama meraih jannah-Mu.
Aamiin Yaa robbal Alamiin.
Langganan:
Postingan (Atom)