Menemukanmu seperti menemukan jarum di tengah tumpukan jerami.
Menemukanmu seperti pecah bisul yang selama ini menggangguku.
Menemukanmu seperti menemukan kunang-kunang di tengah sawah, menenangkan.
Menemukanmu seperti menatap langit biru dipenuhi gumpalan awan, membahagiakan.
Menantimu seperti menunggu tanggal dua puluh sembilan di bulan Februari.
Menantimu seperti menunggu hujan ditengah kemarau.
Menunggumu seperti berharap sejuk di tengah panas.
Memilihmu seperti menentukan mau surabi yang di mana? Kemudian di kedai yang mana? Kemudian rasa apa? Kemudian pedas atau asin? Kemudian kering atau setengah matang?
Dipilih olehmu seperti apa, ya? Bahagia, itu saja. Sebab bahagia sudah mencakup segalanya. Atas syukur, atas ni'matNya, atas semuanya.
.
.
.
KY. Hari kedua di tahun yang baru.
Tampilkan postingan dengan label Tentang Kamu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Kamu. Tampilkan semua postingan
Senin, 02 Januari 2017
Senin, 01 Desember 2014
Tanya Untuk Kita
Kau...
Sampai kapan meletakkan topeng itu?
Tak lelahkah?
Tak merasa berdosakah?
Berapa kesedihan yang kau sembunyikan dari mereka?
Dari hiruk pikuk keramaian yang nyata kau rasa sepi
Ceritakan pada angin
Jelaskan pada hujan
Teriakkan pada langit senja yang setia menemani mentari untuk tenggelam
Kau...
Tak kasihankah pada dirimu sendiri?
Lihat, mereka pun bisa
Mereka pun mau
Berada di posisinya
Yang kau sayangi saat ini
Lihatlah, sayang
Mereka mencium kebohonganmu
Dustamu segera terkupas
Berkacalah, lihat matamu yang berlinang air mata
Hanya mereka yang mampu menebak kesedihan itu
Sampai kapan meletakkan topeng itu?
Tak lelahkah?
Tak merasa berdosakah?
Berapa kesedihan yang kau sembunyikan dari mereka?
Dari hiruk pikuk keramaian yang nyata kau rasa sepi
Ceritakan pada angin
Jelaskan pada hujan
Teriakkan pada langit senja yang setia menemani mentari untuk tenggelam
Kau...
Tak kasihankah pada dirimu sendiri?
Lihat, mereka pun bisa
Mereka pun mau
Berada di posisinya
Yang kau sayangi saat ini
Lihatlah, sayang
Mereka mencium kebohonganmu
Dustamu segera terkupas
Berkacalah, lihat matamu yang berlinang air mata
Hanya mereka yang mampu menebak kesedihan itu
Minggu, 24 Agustus 2014
Surat Abstrak dibalut Rindu
Bismillah
Assalamu'alaikum, Yaa Habibi.
Bagaimana kabarmu di sana? Maafkan aku, karena aku merindukanmu.
Kau tahu? Air mataku tak sengaja jatuh karena mengingatmu.
Ya, aku tahu, kau pasti tidak ingin melihatku menangis. Tapi apalah dayaku, Sayang? Rindu ini sungguh sangat menyesakkan. Aku juga tidak ingin noktah-noktah rindu itu mengotori hatiku yang seharusnya hanya untuk-Nya, HANYA UNTUK-NYA...
Tapi sungguh, aku tak bisa menyembunyikan gemuruh rindu ini.
Kucoba mengambil air wudu, lalu menghadap-Nya. Berharap rindu ini sedikit mereda, tapi tangis karena rindu itu malah semakin menjadi. Maafkan aku...
Siapalah yang harus bertanggung jawab atas rindu ini. Untuk bertemu saja, kita belum mampu, belum cukup kuat.
Kupupuk rindu ini dengan doa-doa yang selalu kusampaikan pada-Nya, untukmu, Sayang. Apa kau juga begitu? Apa kau juga selalu mendoakanku? Apa kau juga selalu merindukanku?
Ana musytaq ilaika, Yaa Habibi :'(
Aku tak bisa mengatakannya langsung, maka kutulislah kalimat demi kalimat untuk mengungkapkan rasa rindu ini. Karena hanya inilah yang dapat kulakukan untuk meminimalisir rasa rinduku.
Untukmu yang entah di mana, semoga Allaah selalu menjagamu, meridhai segala urusanmu, dan semoga dirimu selalu mengingat-Nya.
Jangan lupakan aku, perjuangkan aku. Kunantikan dirimu di batas waktu.
Salam rindu, dariku, masa depanmu.
Wassalamu'alaikum. <3
Assalamu'alaikum, Yaa Habibi.
Bagaimana kabarmu di sana? Maafkan aku, karena aku merindukanmu.
Kau tahu? Air mataku tak sengaja jatuh karena mengingatmu.
Ya, aku tahu, kau pasti tidak ingin melihatku menangis. Tapi apalah dayaku, Sayang? Rindu ini sungguh sangat menyesakkan. Aku juga tidak ingin noktah-noktah rindu itu mengotori hatiku yang seharusnya hanya untuk-Nya, HANYA UNTUK-NYA...
Tapi sungguh, aku tak bisa menyembunyikan gemuruh rindu ini.
Kucoba mengambil air wudu, lalu menghadap-Nya. Berharap rindu ini sedikit mereda, tapi tangis karena rindu itu malah semakin menjadi. Maafkan aku...
Siapalah yang harus bertanggung jawab atas rindu ini. Untuk bertemu saja, kita belum mampu, belum cukup kuat.
Kupupuk rindu ini dengan doa-doa yang selalu kusampaikan pada-Nya, untukmu, Sayang. Apa kau juga begitu? Apa kau juga selalu mendoakanku? Apa kau juga selalu merindukanku?
Ana musytaq ilaika, Yaa Habibi :'(
Aku tak bisa mengatakannya langsung, maka kutulislah kalimat demi kalimat untuk mengungkapkan rasa rindu ini. Karena hanya inilah yang dapat kulakukan untuk meminimalisir rasa rinduku.
Untukmu yang entah di mana, semoga Allaah selalu menjagamu, meridhai segala urusanmu, dan semoga dirimu selalu mengingat-Nya.
Jangan lupakan aku, perjuangkan aku. Kunantikan dirimu di batas waktu.
Salam rindu, dariku, masa depanmu.
Wassalamu'alaikum. <3
Rabu, 13 Agustus 2014
Namanya juga Hidup
Assalamu'alaikum Wr Wb.
Bismillaah
Puji syukur atas kehadirat Allaah SWT karena atas ni'matnya, saya bisa menyelesaikan tulisan ini dan Anda dapat membaca tulisan saya.
Kali ini, saya ingin menuangkan semua yang ada dalam pikiran saya. Sesuai dengan judulnya, "Namanya juga Hidup".
Ya! Hari ini saya ingin membahas itu. Alasannya? Karena saya sedang galau. *curhatdikit*
Baiklah, kita mulai. . .
Hidup...
Hidup bagaikan roda berputar. Ada kalanya di atas, lalu seiring berjalannya roda tersebut, akan berpindah ke bawah. Ya, seperti itulah kira-kira gambaran tentang hidup.
Ketika di atas, kita dipuja dan dipuji, dipupusti (baca:dihormati), diakui keberadaannya. Seperti pejabat-pejabat tinggi, dosen-dosen terkemuka, orang yang kaya, dan masih banyak lagi. Namun, bukankah itu ujian? Silakan renungkan sendiri.
Lalu, ketika sedang di bawah, jangankan untuk menyapa, melirik pun rasanya enggan. Orang-orang merasa diri tak ada pentingnya, tak ada gunanya.
Ya, kejam memang. Namanya juga hidup...
Ada saatnya kita di atas, merasakan indahnya menjadi 'orang penting' yang dikagumi banyak orang, merasakan kasih sayang orang-orang yang 'mungkin' memegang prinsip "Ada gula ada semut". Yap, tak ada yang tahu, kan? :)
Jika yang dulunya dibenci, mungkin kini tengah dicintai. Jika dulu sempat memberi, mungkin kini sedang mengharapkan pemberian orang. Mungkin yang dulu sempat dicintai, kini telah ditinggal pergi. Dan mungkin yang dulu selalu meminta, kini selalu memberi. Satu lagi, agar anak mudanya konek niiihh, mungkin yang dulu menjadi objek yang dilupakan, kini menjadi objek yang selalu diingat. Tak ada yang tahu rencana-Nya. :')
Yaaa, namanya juga hidup! Nikmatilah setiap episodenya. Syukurilah apapun skenario yang telah Allaah rencanakan untukmu. Kelak, semuanya akan indah. Kau akan ceritakan semuanya pada anak dan cucumu. Menjadi cerita yang membuat dadamu membusung, akibat bahagia yang tercipta. Buah dari rasa syukurmu. Buah dari kesabaranmu.
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Quran Surah An-Nahl [16]: ayat 18)
Namanya juga hidup, kadang menangis, kadang ditangisi. Kadang bersuka cita, kadang berduka cita. Dan tentunya, di balik semua itu, selalu ada makna yang membuatmu tak henti-hentinya untuk bersyukur. Percayalah.
Jangan terus diratapi, tapi teruslah berbenah diri. Jangan terus jatuh, tapi bangun dan bangkit! Dekatilah Allaah, dekatilah Dia yang memberimu hidup. Biarkan Dia memelukmu dengan erat, biarkan Dia mendekapmu di setiap sujudmu, biarkan Dia hapus air matamu di atas sajadah panjang itu. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Namanya juga hidup, kadang asin, kadang manis, kadang pahit, yaaa campur-campur. Karena hidup banyak rasa :v
Dan hidup tak akan selamanya mulus. Life is never flat :D *maapiklanteroooss*
Semangatlah!! Hadapi lika-liku hidup ini! Kamu bisa, KAMU PASTI BISAAAA!!!
Alhamdulillaah, semoga bermanfaat bagi diri dan bagi setiap orang yang membaca postingan in.
Ana uhibbukum fillah~
Wassalamu'alaikum Wr Wb.
Cimahi, 13 Agustus 2014.
Kamelia Yuniar.
Bismillaah
Puji syukur atas kehadirat Allaah SWT karena atas ni'matnya, saya bisa menyelesaikan tulisan ini dan Anda dapat membaca tulisan saya.
Kali ini, saya ingin menuangkan semua yang ada dalam pikiran saya. Sesuai dengan judulnya, "Namanya juga Hidup".
Ya! Hari ini saya ingin membahas itu. Alasannya? Karena saya sedang galau. *curhatdikit*
Baiklah, kita mulai. . .
Hidup...
Hidup bagaikan roda berputar. Ada kalanya di atas, lalu seiring berjalannya roda tersebut, akan berpindah ke bawah. Ya, seperti itulah kira-kira gambaran tentang hidup.
Ketika di atas, kita dipuja dan dipuji, dipupusti (baca:dihormati), diakui keberadaannya. Seperti pejabat-pejabat tinggi, dosen-dosen terkemuka, orang yang kaya, dan masih banyak lagi. Namun, bukankah itu ujian? Silakan renungkan sendiri.
Lalu, ketika sedang di bawah, jangankan untuk menyapa, melirik pun rasanya enggan. Orang-orang merasa diri tak ada pentingnya, tak ada gunanya.
Ya, kejam memang. Namanya juga hidup...
Ada saatnya kita di atas, merasakan indahnya menjadi 'orang penting' yang dikagumi banyak orang, merasakan kasih sayang orang-orang yang 'mungkin' memegang prinsip "Ada gula ada semut". Yap, tak ada yang tahu, kan? :)
Jika yang dulunya dibenci, mungkin kini tengah dicintai. Jika dulu sempat memberi, mungkin kini sedang mengharapkan pemberian orang. Mungkin yang dulu sempat dicintai, kini telah ditinggal pergi. Dan mungkin yang dulu selalu meminta, kini selalu memberi. Satu lagi, agar anak mudanya konek niiihh, mungkin yang dulu menjadi objek yang dilupakan, kini menjadi objek yang selalu diingat. Tak ada yang tahu rencana-Nya. :')
Yaaa, namanya juga hidup! Nikmatilah setiap episodenya. Syukurilah apapun skenario yang telah Allaah rencanakan untukmu. Kelak, semuanya akan indah. Kau akan ceritakan semuanya pada anak dan cucumu. Menjadi cerita yang membuat dadamu membusung, akibat bahagia yang tercipta. Buah dari rasa syukurmu. Buah dari kesabaranmu.
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Quran Surah An-Nahl [16]: ayat 18)
Namanya juga hidup, kadang menangis, kadang ditangisi. Kadang bersuka cita, kadang berduka cita. Dan tentunya, di balik semua itu, selalu ada makna yang membuatmu tak henti-hentinya untuk bersyukur. Percayalah.
Jangan terus diratapi, tapi teruslah berbenah diri. Jangan terus jatuh, tapi bangun dan bangkit! Dekatilah Allaah, dekatilah Dia yang memberimu hidup. Biarkan Dia memelukmu dengan erat, biarkan Dia mendekapmu di setiap sujudmu, biarkan Dia hapus air matamu di atas sajadah panjang itu. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Namanya juga hidup, kadang asin, kadang manis, kadang pahit, yaaa campur-campur. Karena hidup banyak rasa :v
Dan hidup tak akan selamanya mulus. Life is never flat :D *maapiklanteroooss*
Semangatlah!! Hadapi lika-liku hidup ini! Kamu bisa, KAMU PASTI BISAAAA!!!
Alhamdulillaah, semoga bermanfaat bagi diri dan bagi setiap orang yang membaca postingan in.
Ana uhibbukum fillah~
Wassalamu'alaikum Wr Wb.
Cimahi, 13 Agustus 2014.
Kamelia Yuniar.
Kamis, 07 Agustus 2014
Untukmu yang Entah Dimana
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Alhamdulillahirabbil'alamiin, dengan penuh rasa syukur, kutuliskan rasa yang tertata rapi dalam relung hati *ciyeee*.
Kala malam menyapa bintang, rasanya aku ingin terus menatap langit. Berharap tatapanmu dan tatapanku beradu satu di sana. Di belahan bumi lain, aku tahu, kau tengah merindukanku. Begitu juga aku. Hingga nanti kita akan dipertemukan, biarlah rindu ini tetap memuncak, hingga kita dipersatukan di Jannah-Nya.
Ingin rasanya kusebut namamu, yang disusun dari dua puluh enam abjad. Hati ini selalu berdesir lembut kala mengingatmu. Namun, Allaah melarangku untuk merindukanmu saat ini. Maka, kini aku hanya berani merindukan-Nya dan merindukan kekasih-Nya, Baginda Rasulullaah SAW. Aku takut Dia cemburu padaku. Aku takut Dia alihkan pandangan-Nya dariku. Aku takut Dia tak peduli lagi, meski sebenarnya, ketakutan itu tak akan kunjung nyata, kecuali saat hari pembalasan nanti.
Jiwa ini bergetar hebat, kala fatamorgana masa depan hadir membayangiku.
Bukan aku tak ingin mengkhayalkanmu, bukan. Aku hanya tak ingin noktah-noktah rindu perlahan mengotori hatiku. Aku hanya bisa berdiam diri. Mengagumimu, mendoakanmu, dan mendekapmu dalam setiap sujudku.
Entah, bertemu pun belum pernah, apalagi untuk bertegur sapa?
Siapalah diri ini, berani-beraninya mengagumi sosokmu, idaman wanita-wanita shalihah sepanjang masa.
Tapi..... aku hanyalah manusia. Wanita akhir zaman yang mempunyai sejuta harapan. Tak apalah, biarkan Allaah yang memilihkan yang terbaik.
Untukmu yang di sana, maafkan aku. Aku pun tak mengerti, alasan apa yang membuatku begitu yakin padamu. Meski aku tahu, kecil dan tipis harapan kita dapat bersua. Namun aku percaya janji-Nya, dalam Al-Qur'an surat An-Nuur ayat 26.
Dan aku sangat yakin, tak ada yang sulit bagi-Nya untuk mempertemukan dua insan yang saling berjauhan. Seperti aku dan dirimu.
Allaah pasti mengetahui rindu ini, Allaah pasti menghitung setiap doa yang sungguh-sungguh kita panjatkan, demi kebaikan bersama. Aku yakin, sayang. Allaah pasti akan mempertemukan kita, juga mempersatukan kita. Yakinlah, sayang...
Aku selalu menunggu kau datang.
Aaaaa, pasti langsung deg-deg serrrrr deh bacanyaaaaa!!!! ^_^
Niatnya sih untuk memenuhi postingan blog ini saja. Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :)
Barakallaahu fiikum...
Cimahi, 7Agustus2014.
Alhamdulillahirabbil'alamiin, dengan penuh rasa syukur, kutuliskan rasa yang tertata rapi dalam relung hati *ciyeee*.
Kala malam menyapa bintang, rasanya aku ingin terus menatap langit. Berharap tatapanmu dan tatapanku beradu satu di sana. Di belahan bumi lain, aku tahu, kau tengah merindukanku. Begitu juga aku. Hingga nanti kita akan dipertemukan, biarlah rindu ini tetap memuncak, hingga kita dipersatukan di Jannah-Nya.
Ingin rasanya kusebut namamu, yang disusun dari dua puluh enam abjad. Hati ini selalu berdesir lembut kala mengingatmu. Namun, Allaah melarangku untuk merindukanmu saat ini. Maka, kini aku hanya berani merindukan-Nya dan merindukan kekasih-Nya, Baginda Rasulullaah SAW. Aku takut Dia cemburu padaku. Aku takut Dia alihkan pandangan-Nya dariku. Aku takut Dia tak peduli lagi, meski sebenarnya, ketakutan itu tak akan kunjung nyata, kecuali saat hari pembalasan nanti.
Jiwa ini bergetar hebat, kala fatamorgana masa depan hadir membayangiku.
Bukan aku tak ingin mengkhayalkanmu, bukan. Aku hanya tak ingin noktah-noktah rindu perlahan mengotori hatiku. Aku hanya bisa berdiam diri. Mengagumimu, mendoakanmu, dan mendekapmu dalam setiap sujudku.
Entah, bertemu pun belum pernah, apalagi untuk bertegur sapa?
Siapalah diri ini, berani-beraninya mengagumi sosokmu, idaman wanita-wanita shalihah sepanjang masa.
Tapi..... aku hanyalah manusia. Wanita akhir zaman yang mempunyai sejuta harapan. Tak apalah, biarkan Allaah yang memilihkan yang terbaik.
Untukmu yang di sana, maafkan aku. Aku pun tak mengerti, alasan apa yang membuatku begitu yakin padamu. Meski aku tahu, kecil dan tipis harapan kita dapat bersua. Namun aku percaya janji-Nya, dalam Al-Qur'an surat An-Nuur ayat 26.
Dan aku sangat yakin, tak ada yang sulit bagi-Nya untuk mempertemukan dua insan yang saling berjauhan. Seperti aku dan dirimu.
Allaah pasti mengetahui rindu ini, Allaah pasti menghitung setiap doa yang sungguh-sungguh kita panjatkan, demi kebaikan bersama. Aku yakin, sayang. Allaah pasti akan mempertemukan kita, juga mempersatukan kita. Yakinlah, sayang...
Aku selalu menunggu kau datang.
Aaaaa, pasti langsung deg-deg serrrrr deh bacanyaaaaa!!!! ^_^
Niatnya sih untuk memenuhi postingan blog ini saja. Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :)
Barakallaahu fiikum...
Cimahi, 7Agustus2014.
Rabu, 06 Agustus 2014
APALAGI
Bismillaah
Kata, kalimat, narasi, puisi, telah kutuangkan semuanya.
Dan kau masih belum mengerti juga? Aku harus berbuat apalagi?
Tlah kujelaskan huruf A, huruf B, C hingga Z. Kurang jelaskah maksudku? Baik, kuredam dulu emosiku...
--------WAIT--------
Untuk saat ini, aku tak ingin mengotori hati. Aku sudah muak, lelah, tak ingin lagi mengenal semua virus yang perlahan mematikanku. Ya, bagiku itu virus. Penyakit yang mungkin hanya satu obatnya, yaitu, kepastian.
Penyakit virus merah jambu itu sudah kuderita sejak lama. Jauh sebelum kau datang, jauh sebelum kau katakan "Aku menyayangimu" padaku. Kini, aku menyerah. Kuulang kembali, A-K-U M-E-N-Y-E-R-A-H !
Seringkali aku dicap labil, seringkali aku dijudge plinplan. Sekali aku diam, dua kali aku tak bisa apa-apa, tiga, empat, bahkan lebih dari lima. Kupingku pun panas, sesak, penuh!
Astaghfirullaah...
Maafkan aku, Yaa Rabb...
Tak usah datang sekarang. Bahkan, jika nanti AKU datang, kuperingatkan, SAKITI SAJA! Agar aku tak datang lagi.
Kau pikir aku benang layang-layang? Yang dapat kau tarik ulur???
Kini pikirkanlah kembali. Maaf, jika kalimat yang ini tak pantas untuk kuposting. Sudah terlanjur, mati, rasa ini.
Hanya A-Z yang mampu kutuliskan. Berucap saja tak mampu, lantas harus apalagi untuk menjelaskan semua padamu??????
Kata, kalimat, narasi, puisi, telah kutuangkan semuanya.
Dan kau masih belum mengerti juga? Aku harus berbuat apalagi?
Tlah kujelaskan huruf A, huruf B, C hingga Z. Kurang jelaskah maksudku? Baik, kuredam dulu emosiku...
--------WAIT--------
Untuk saat ini, aku tak ingin mengotori hati. Aku sudah muak, lelah, tak ingin lagi mengenal semua virus yang perlahan mematikanku. Ya, bagiku itu virus. Penyakit yang mungkin hanya satu obatnya, yaitu, kepastian.
Penyakit virus merah jambu itu sudah kuderita sejak lama. Jauh sebelum kau datang, jauh sebelum kau katakan "Aku menyayangimu" padaku. Kini, aku menyerah. Kuulang kembali, A-K-U M-E-N-Y-E-R-A-H !
Seringkali aku dicap labil, seringkali aku dijudge plinplan. Sekali aku diam, dua kali aku tak bisa apa-apa, tiga, empat, bahkan lebih dari lima. Kupingku pun panas, sesak, penuh!
Astaghfirullaah...
Maafkan aku, Yaa Rabb...
Tak usah datang sekarang. Bahkan, jika nanti AKU datang, kuperingatkan, SAKITI SAJA! Agar aku tak datang lagi.
Kau pikir aku benang layang-layang? Yang dapat kau tarik ulur???
Kini pikirkanlah kembali. Maaf, jika kalimat yang ini tak pantas untuk kuposting. Sudah terlanjur, mati, rasa ini.
Hanya A-Z yang mampu kutuliskan. Berucap saja tak mampu, lantas harus apalagi untuk menjelaskan semua padamu??????
Selasa, 22 Juli 2014
Harapan Kecil yang Besar
Beberapa kali kucoba mengingatnya
Tak paham
Ingatan itu telah rapuh
Bak sarang laba-laba
Terkoyak lalu hancur
Atau mungkin aku terlalu menikmati
Hingga sakit itu sudah tak kuanggap lagi
Bagai debu yang tersapu angin
Lenyap
Kau tak pernah menyadari
Aku sering mengintai duniamu
Dunia nyata
Ataupun dunia mayamu
Hingga aku merasa bahagia
Meski kadang terluka
Aku tak apa-apa
Sungguh
Melihat satu garis senyummu saja
Aku sudah (sangat) bahagia
Kau, yang mampu mengalihkan duniaku
Hanya sekejap saja
Sayangnya, aku hanya seorang wanita
Tak bisa apa-apa
Hanya bisa menanti
Menatap dari jauh
Berdoa dalam sujudku
Meminta yang terbaik pada-Nya
Jika namamu yang tertulis di buku (Lauhul Mahfudz) itu
Semoga Allah mengindahkan kita dalam hati masing-masing
Meski mungkin, hatimu sempat dipinjam yang lain
Namun ku percaya
Kau adalah pria yang setia
Yang akan mencintaiku seutuhnya
Mencintaiku karena-Nya
Dan selalu berusaha agar aku selalu dekat dengan-Nya
Terima kasih
Aku mencintaimu yang mencintaiku karena-Nya~
Tak paham
Ingatan itu telah rapuh
Bak sarang laba-laba
Terkoyak lalu hancur
Atau mungkin aku terlalu menikmati
Hingga sakit itu sudah tak kuanggap lagi
Bagai debu yang tersapu angin
Lenyap
Kau tak pernah menyadari
Aku sering mengintai duniamu
Dunia nyata
Ataupun dunia mayamu
Hingga aku merasa bahagia
Meski kadang terluka
Aku tak apa-apa
Sungguh
Melihat satu garis senyummu saja
Aku sudah (sangat) bahagia
Kau, yang mampu mengalihkan duniaku
Hanya sekejap saja
Sayangnya, aku hanya seorang wanita
Tak bisa apa-apa
Hanya bisa menanti
Menatap dari jauh
Berdoa dalam sujudku
Meminta yang terbaik pada-Nya
Jika namamu yang tertulis di buku (Lauhul Mahfudz) itu
Semoga Allah mengindahkan kita dalam hati masing-masing
Meski mungkin, hatimu sempat dipinjam yang lain
Namun ku percaya
Kau adalah pria yang setia
Yang akan mencintaiku seutuhnya
Mencintaiku karena-Nya
Dan selalu berusaha agar aku selalu dekat dengan-Nya
Terima kasih
Aku mencintaimu yang mencintaiku karena-Nya~
Minggu, 13 Juli 2014
Cinta Sejati itu Menyembuhkan bukan Menyakitkan
Banyak orang mengatakan, "Cinta sejati itu menyembuhkan, bukan menyakitkan."
Aku setuju. Dan jika kau mencintainya, namun hanya derita, resah, dan gelisah yang kau dapat, itu bukan cinta. Menjauhlah. Itu lebih baik daripada harus menyakitinya lebih lama. Kau kira dicintai tanpa mencintai itu perkara 'enak'?
TIDAK! Setiap hari kau harus dihantui perasaan bersalah. Makan pun tak enak, ini lebih dari mencintai tanpa dicintai. Lebih sakit, teramat sakit.
You CAN MOVE ON!
Jangan membuat orang yang kau sayang semakin bersalah atas perasaan yang kau punya. Jika kau sayang, sudahlah, ucapkan dalam hati. Jika kau rindu, ucapkanlah pada pemiliknya, Allah SWT.
Baik, ini bukan perkara mudah, tapi bagi saya ini lebih baik. Ketimbang harus membuat orang lain terluka.
Relakah membuat orang yang kau sayang menangis? Sanggupkah kau untuk menanggung beban kesedihannya?
Cinta takkan egois, Saudaraku.
Semoga menjadi bahan renungan.
Barakallah...
Aku setuju. Dan jika kau mencintainya, namun hanya derita, resah, dan gelisah yang kau dapat, itu bukan cinta. Menjauhlah. Itu lebih baik daripada harus menyakitinya lebih lama. Kau kira dicintai tanpa mencintai itu perkara 'enak'?
TIDAK! Setiap hari kau harus dihantui perasaan bersalah. Makan pun tak enak, ini lebih dari mencintai tanpa dicintai. Lebih sakit, teramat sakit.
You CAN MOVE ON!
Jangan membuat orang yang kau sayang semakin bersalah atas perasaan yang kau punya. Jika kau sayang, sudahlah, ucapkan dalam hati. Jika kau rindu, ucapkanlah pada pemiliknya, Allah SWT.
Baik, ini bukan perkara mudah, tapi bagi saya ini lebih baik. Ketimbang harus membuat orang lain terluka.
Relakah membuat orang yang kau sayang menangis? Sanggupkah kau untuk menanggung beban kesedihannya?
Cinta takkan egois, Saudaraku.
Semoga menjadi bahan renungan.
Barakallah...
Jumat, 11 Juli 2014
Suara yang Tak Tersampaikan
Jika aku menuruti hati kecilku
Sudah sejak lama kukatakan rindu yang bergejolak
Jika aku menuruti bibirku
Sejak awal pun sudah kukatakan sayang padanya
Namun diri
Merasa belum cukup ilmu
Merasa belum cukup pengetahuan
Merasa belum pantas
jika harus bersanding denganmu
Apakah setiap rindu harus diketahui keberadaannya?
Apakah hari itu juga harus kau katakan?
Apakah cinta sama sekali tak bisa terpendam?
Seperti cinta Sayyidina Ali dan Fatimah Az-zahra???
Syetan apa yang membisikkan telingamu?
Hingga kau mengoyak imanku?
Hasutan apalagi yang mereka katakan padamu?
Agar aku pun mengatakan cinta sebelum waktunya?
Aku tak ingin membencimu
Aku pun tak ingin menjauhimu
Aku hanya ingin menegaska
Aku tak seperti mereka
Yang haus akan perhatian dan kasih sayang
Dari kekasih yang entah berjodoh atau tidak
Aku merasa belum cukup
Untuk bersamamu merajut kasih
Aku tahu kau mengerti prinsipku
Tapi tolong, biar aku saja
Biar aku sendiri menikmati perasaan ini
Biar aku saja yang menelan pahit rindu padamu
Saudaraku belum merasakan kasih sayangku
Orang tuaku pun belum sempurna mereguk cinta kasihku
Saudara muslimku pun belum mampu kuperhatikan
Biarlah secara perlahan aku mencintai
Padamu, pada mereka dan padaNYA
Usahlah kau sebut-sebut rindu itu
Aku tahu
Aku merasakan
Aku tak bisa ungkapkan lagi
Aku tak ingin rasa itu hambar nantinya
Bisakah kau mengerti?
Sudah sejak lama kukatakan rindu yang bergejolak
Jika aku menuruti bibirku
Sejak awal pun sudah kukatakan sayang padanya
Namun diri
Merasa belum cukup ilmu
Merasa belum cukup pengetahuan
Merasa belum pantas
jika harus bersanding denganmu
Apakah setiap rindu harus diketahui keberadaannya?
Apakah hari itu juga harus kau katakan?
Apakah cinta sama sekali tak bisa terpendam?
Seperti cinta Sayyidina Ali dan Fatimah Az-zahra???
Syetan apa yang membisikkan telingamu?
Hingga kau mengoyak imanku?
Hasutan apalagi yang mereka katakan padamu?
Agar aku pun mengatakan cinta sebelum waktunya?
Aku tak ingin membencimu
Aku pun tak ingin menjauhimu
Aku hanya ingin menegaska
Aku tak seperti mereka
Yang haus akan perhatian dan kasih sayang
Dari kekasih yang entah berjodoh atau tidak
Aku merasa belum cukup
Untuk bersamamu merajut kasih
Aku tahu kau mengerti prinsipku
Tapi tolong, biar aku saja
Biar aku sendiri menikmati perasaan ini
Biar aku saja yang menelan pahit rindu padamu
Saudaraku belum merasakan kasih sayangku
Orang tuaku pun belum sempurna mereguk cinta kasihku
Saudara muslimku pun belum mampu kuperhatikan
Biarlah secara perlahan aku mencintai
Padamu, pada mereka dan padaNYA
Usahlah kau sebut-sebut rindu itu
Aku tahu
Aku merasakan
Aku tak bisa ungkapkan lagi
Aku tak ingin rasa itu hambar nantinya
Bisakah kau mengerti?
Jumat, 04 Juli 2014
Untuk Separuh Hati
Bismillah
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
Kalian pernah memiliki perasaan yang tak bisa diungkapkan?
Bagaimana rasanya?
Masya Allah, nikmaaaatttttt sekali.
Sementara yang lain sibuk mengungkapkan perasaannya, kau hanya bisa mendoakannya. Hanya bisa memeluknya dalam doamu.
Sesekali kau sapa, meski mungkin sebenarnya itu dapat mengganggu hatinya, atau bahkan imannya. Astaghfirullah. Tapi, rindu memang sudah tak bisa dielakkan lagi, tak bisa ditolerir lagi...
Terkadang ia sisipkan amarahnya karena ketidaktegasanmu, namun apa kau tahu yang sebenarnya? Sungguh, ia benar-benar peduli padamu. Tanpa harus kujelaskan lagi, seseorang yang seperti itu, perasaannya bisa lebih-lebih darimu. Peduli takkan pernah tumbuh tanpa kasih sayang. Peduli merupakan perasaan sayang yang tersembunyi.
Ia mungkin tak tahu bagaimana cara mengungkapkannya, atau mungkin malu pada Rabbnya. Karena ia sendiri belum mampu mencintai-Nya secara sempurna, bagaimana bisa ia mencintaimu?
Untuk separuh hati yang kini tengah gelisah.
Kau tak perlu tahu semuanya, karena tak semua perasaan mampu dikatakan, tak semua lisan fasih untuk mengucapkan. Pun tak semua rindu dapat tersampaikan.
Untuk separuh hati yang kini masih remang.
Pikirkan masa depan, cerahkan hatimu. Isilah dengan tilawah Al-Qur'an, in syaa Allah hati akan tenang, IN SYAA ALLAH...
Untuk separuh hati yang kini kian meradang.
Kuharap, kau tak terlalu memaksa hati. Allah bisa dengan mudahnya mengembalikan hatimu seperti semula.
Yang terlihat dingin, mungkin dalam sujudnya selalu mendoakan.
Atau yang agresif, mungkin menyisipkan yang lain dalam hatinya. Hanya Allah dan diri sendirilah yang tahu.
Mungkin yang terlihat dingin, mencoba menghindar dari rasa sakit yang mungkin juga pernah mengecap hatimu, mencoba melindungimu dari kecewa yang berkepanjangan.
Semoga hatimu dan hatinya saling melindungi. Suatu hari, jawaban dari setiap sujud panjangmu akan terungkap, bersamaan dengan kualitas dirimu. Apakah lebih baik atau sebaliknya...
Wallahu a'lam.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi wabarakaatuh.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
Kalian pernah memiliki perasaan yang tak bisa diungkapkan?
Bagaimana rasanya?
Masya Allah, nikmaaaatttttt sekali.
Sementara yang lain sibuk mengungkapkan perasaannya, kau hanya bisa mendoakannya. Hanya bisa memeluknya dalam doamu.
Sesekali kau sapa, meski mungkin sebenarnya itu dapat mengganggu hatinya, atau bahkan imannya. Astaghfirullah. Tapi, rindu memang sudah tak bisa dielakkan lagi, tak bisa ditolerir lagi...
Terkadang ia sisipkan amarahnya karena ketidaktegasanmu, namun apa kau tahu yang sebenarnya? Sungguh, ia benar-benar peduli padamu. Tanpa harus kujelaskan lagi, seseorang yang seperti itu, perasaannya bisa lebih-lebih darimu. Peduli takkan pernah tumbuh tanpa kasih sayang. Peduli merupakan perasaan sayang yang tersembunyi.
Ia mungkin tak tahu bagaimana cara mengungkapkannya, atau mungkin malu pada Rabbnya. Karena ia sendiri belum mampu mencintai-Nya secara sempurna, bagaimana bisa ia mencintaimu?
Untuk separuh hati yang kini tengah gelisah.
Kau tak perlu tahu semuanya, karena tak semua perasaan mampu dikatakan, tak semua lisan fasih untuk mengucapkan. Pun tak semua rindu dapat tersampaikan.
Untuk separuh hati yang kini masih remang.
Pikirkan masa depan, cerahkan hatimu. Isilah dengan tilawah Al-Qur'an, in syaa Allah hati akan tenang, IN SYAA ALLAH...
Untuk separuh hati yang kini kian meradang.
Kuharap, kau tak terlalu memaksa hati. Allah bisa dengan mudahnya mengembalikan hatimu seperti semula.
Yang terlihat dingin, mungkin dalam sujudnya selalu mendoakan.
Atau yang agresif, mungkin menyisipkan yang lain dalam hatinya. Hanya Allah dan diri sendirilah yang tahu.
Mungkin yang terlihat dingin, mencoba menghindar dari rasa sakit yang mungkin juga pernah mengecap hatimu, mencoba melindungimu dari kecewa yang berkepanjangan.
Semoga hatimu dan hatinya saling melindungi. Suatu hari, jawaban dari setiap sujud panjangmu akan terungkap, bersamaan dengan kualitas dirimu. Apakah lebih baik atau sebaliknya...
Wallahu a'lam.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi wabarakaatuh.
Minggu, 22 Juni 2014
Jangan Jatuh Cinta Tapi Bangun Cinta
Di sini pernah ada rasa mengagumi
Rasa ingin memilikimu
Memasukkanmu ke dalam hati ini
Menjadi penghuni...
Mencoba berlindung di balik fitrahnya hati
Untuk mencari pembenaran diri
Namun ternyata semua hanya permainan nafsu
Untuk memburu cinta yang semu
Aku...tertipu
Tuhanku, berikanku cinta
Yang kau titipkan
Bukan cinta yang pernah kutanam 2x
Aku ingin rasa cinta ini
Masih menjadi cinta perawan
Cinta yang hanya aku berikan
Saat ijab qabul telah tertunaikan 2x
(Musik)
Tuhanku berikanku cinta yang kau titipkan
Bukan cinta yang pernah kutanam 5x
Pada seseorang..pada seseorang...
Pada seseorang
Kamis, 19 Juni 2014
Sepatah Harapanku
Allah, terima kasih telah Kau titipkan perasaan ini
TanpaMu, aku tak kuasa menahan deburan rasa
TanpaMu, aku tak sanggup menahan rindu
Namun, ayat-ayatMu menguatkanku
Kau mantapkan hati ini
Allah, terima kasih
Kau telah mengirimkan seseorang yang kucintai dan mencintaiku
Allah, aku tak tahu, apakah ini hanya sesaat atau selamanya
Yang kutahu, waktu kan jawab semuanya
Allah, jangan sampai rasa ini membuatku berpaling dariMu
Bantu aku mengokohkan pondasi cinta ini karenaMu
Biarkan aku merasakan rindu dengan wajar
Ridhoi kami Yaa Allah
Tuntun kami menuju JannahMu dengan jalan yang benar
Jangan pertemukan kami jika hanya mendatangkan madharat
Istimewakan kami dalam hati masing-masing
Jika kami tak bisa bersatu, lapangkanlah dada ini
Biarkan kami bersatu dengan yang lain
Tanpa menyimpan dendam dalam hati
Tanpa menyakiti hati yang lain
Bersihkan hati kami, Yaa Rabbana...
Yaa Muqallibal Quluub, tsabbit qalbi 'alaa diinika...
TanpaMu, aku tak kuasa menahan deburan rasa
TanpaMu, aku tak sanggup menahan rindu
Namun, ayat-ayatMu menguatkanku
Kau mantapkan hati ini
Allah, terima kasih
Kau telah mengirimkan seseorang yang kucintai dan mencintaiku
Allah, aku tak tahu, apakah ini hanya sesaat atau selamanya
Yang kutahu, waktu kan jawab semuanya
Allah, jangan sampai rasa ini membuatku berpaling dariMu
Bantu aku mengokohkan pondasi cinta ini karenaMu
Biarkan aku merasakan rindu dengan wajar
Ridhoi kami Yaa Allah
Tuntun kami menuju JannahMu dengan jalan yang benar
Jangan pertemukan kami jika hanya mendatangkan madharat
Istimewakan kami dalam hati masing-masing
Jika kami tak bisa bersatu, lapangkanlah dada ini
Biarkan kami bersatu dengan yang lain
Tanpa menyimpan dendam dalam hati
Tanpa menyakiti hati yang lain
Bersihkan hati kami, Yaa Rabbana...
Yaa Muqallibal Quluub, tsabbit qalbi 'alaa diinika...
Sabtu, 14 Juni 2014
Untuk...Yang Terkasih
Kasih...
Aku sering melukis senyummu
Meski sebatas khayalan
Aku sering membayangkan peluhmu
yang terjatuh demi menghidupiku
Aku sering membayangkan tangismu
Ketika kau mulai tak sanggup menghadapi kerasnya hidup
Kasih...
Maafkan aku
Aku pernah melupakanmu
Membiarkan yang lain singgah di dalam hatiku
Tak sadar, jika suatu hari kau kan datang
Menjemputku untuk bersama meraih Jannah-Nya
Kasih...
Siluet amarahmu pernah terlintas di benakku
Jika suatu saat masa laluku terkoyak kembali
Terbuka bersama waktu yang telah berlalu
Maafkan aku yang tak bisa menjaga diri
Bayang fatamorganamu menggoyahkanku
Membuatku tak sabar menantimu
Membuatku letih untuk bertahan dalam kesendirian ini
Kuharap kau tak lelah mencariku
Kasih...
Aku akan berubah untukNya
Memintamu padaNya
Mencarimu karenaNya
Nantikanku..
Imam masa depanku...
Aku sering melukis senyummu
Meski sebatas khayalan
Aku sering membayangkan peluhmu
yang terjatuh demi menghidupiku
Aku sering membayangkan tangismu
Ketika kau mulai tak sanggup menghadapi kerasnya hidup
Kasih...
Maafkan aku
Aku pernah melupakanmu
Membiarkan yang lain singgah di dalam hatiku
Tak sadar, jika suatu hari kau kan datang
Menjemputku untuk bersama meraih Jannah-Nya
Kasih...
Siluet amarahmu pernah terlintas di benakku
Jika suatu saat masa laluku terkoyak kembali
Terbuka bersama waktu yang telah berlalu
Maafkan aku yang tak bisa menjaga diri
Bayang fatamorganamu menggoyahkanku
Membuatku tak sabar menantimu
Membuatku letih untuk bertahan dalam kesendirian ini
Kuharap kau tak lelah mencariku
Kasih...
Aku akan berubah untukNya
Memintamu padaNya
Mencarimu karenaNya
Nantikanku..
Imam masa depanku...
Rindu?
Bismillah.
Kau tahu rindu? Ya, perasaan abstrak itu....abu-abu.
Kau pernah merasakannya?
Seringkali manusia diliputi perasaan rindu. Rindu bertemu dengan Rabbnya, rindu bertemu dengan Rasulullah, rindu pada kedua orang tua, pada sahabat, bahkan pada lawan jenisnya.
Tak usah menggerutu, saat rindu itu mulai menghampirimu. Bersyukurlah, berarti hatimu tidak beku, tidak dingin seperti es batu. Nikmatilah episode-episode rindumu. Kelak, saat sampai di titik klimaks rindu, kau akan menemukan jalan untuk mengakhirinya. Allah yang akan membolak-balikkan hatimu. Dia-lah yang menghendaki apakah rindu itu harus kau rasakan selalu, atau hanya sepotong dari kisah hidupmu.
Pernah bertemu, pernah mengenal, apalagi dengan waktu yang cukup lama. Dengan mudahnya, kau pasti bisa merasakan rindu.
Tapi, tak pernah bertemu, tak pernah bertegur sapa, tapi bisa merasakan rindu? Memangnya bisa? Tentu bisa! Apa kau pernah bertemu dengan Baginda Rasul? Menurutku, belum pernah. Tapi, rindu ingin bertemu dengannya begitu besar.
Tak pernah bertemu, tak pernah mengenal, apalagi bertegur sapa. Kenal saja tidak...
Apakah kau tahu jodohmu yang mana? Yang tinggikah? Yang berkulit putihkah? Yang bermata sipit atau bermata lebar? Lantas, apakah kau pernah bertemu dengannya, lalu menegurnya dengan kalimat, "Hai, jodohku? Kau jangan selingkuh, ya! Aku kan jodohmu." It's so impossible!
Untuk saat ini, hanya Allah-lah yang mengetahui siapa jodohmu. Dan kau hanya bisa merindukannya, menantinya, menunggunya agar segera menjemputmu. Kau pernah merasakan rindu itu? Dan bagaimana rasanya? Perihkah? Sakit? Atau bahkan sampai menyiksamu?
Saat merasakan rindu yang menyakitkan itu, tiada hal yang lebih baik daripada berkhalwat (berdua-duaan) dengan Allah. Bermesraan dengan Allah, dan bercerita pada-Nya. Hanya kau dan Allah saja yang tahu. Kau ingin tahu seberapa nikmatkah hal itu? Tak bisa digambarkan dengan kata-kata.
Allah menciptakan rindu bukan untuk disesali, tapi untuk ditafakuri. Jadikan rindu ini sebagai jalanmu untuk mendekati-Nya. Bukan mendekati dia yang belum halal!
Jika rindu boleh terucap saat ini, mungkin kelak telinga ini sudah tak asing lagi mendengarnya.
Jika perasaan sayang ini boleh diumbar-umbar sekarang, mungkin dua atau tiga tahun lagi, hati akan segera berkarat.
Semua ada waktunya.
Biarkan rindu ini menggebu-gebu dalam hati. Mengungkapkan perasaan memang tidak salah, tapi merindukannya dalam diam mungkin lebih baik. Tak ada yang salah dalam cinta atau pun rindu, karena itu merupakan fitrahnya manusia, tinggal bagaimana cara kita menghadapi perasaan tersebut. Wallahu a'lam.
Alhamdulillah.
Kau tahu rindu? Ya, perasaan abstrak itu....abu-abu.
Kau pernah merasakannya?
Seringkali manusia diliputi perasaan rindu. Rindu bertemu dengan Rabbnya, rindu bertemu dengan Rasulullah, rindu pada kedua orang tua, pada sahabat, bahkan pada lawan jenisnya.
Tak usah menggerutu, saat rindu itu mulai menghampirimu. Bersyukurlah, berarti hatimu tidak beku, tidak dingin seperti es batu. Nikmatilah episode-episode rindumu. Kelak, saat sampai di titik klimaks rindu, kau akan menemukan jalan untuk mengakhirinya. Allah yang akan membolak-balikkan hatimu. Dia-lah yang menghendaki apakah rindu itu harus kau rasakan selalu, atau hanya sepotong dari kisah hidupmu.
Pernah bertemu, pernah mengenal, apalagi dengan waktu yang cukup lama. Dengan mudahnya, kau pasti bisa merasakan rindu.
Tapi, tak pernah bertemu, tak pernah bertegur sapa, tapi bisa merasakan rindu? Memangnya bisa? Tentu bisa! Apa kau pernah bertemu dengan Baginda Rasul? Menurutku, belum pernah. Tapi, rindu ingin bertemu dengannya begitu besar.
Tak pernah bertemu, tak pernah mengenal, apalagi bertegur sapa. Kenal saja tidak...
Apakah kau tahu jodohmu yang mana? Yang tinggikah? Yang berkulit putihkah? Yang bermata sipit atau bermata lebar? Lantas, apakah kau pernah bertemu dengannya, lalu menegurnya dengan kalimat, "Hai, jodohku? Kau jangan selingkuh, ya! Aku kan jodohmu." It's so impossible!
Untuk saat ini, hanya Allah-lah yang mengetahui siapa jodohmu. Dan kau hanya bisa merindukannya, menantinya, menunggunya agar segera menjemputmu. Kau pernah merasakan rindu itu? Dan bagaimana rasanya? Perihkah? Sakit? Atau bahkan sampai menyiksamu?
Saat merasakan rindu yang menyakitkan itu, tiada hal yang lebih baik daripada berkhalwat (berdua-duaan) dengan Allah. Bermesraan dengan Allah, dan bercerita pada-Nya. Hanya kau dan Allah saja yang tahu. Kau ingin tahu seberapa nikmatkah hal itu? Tak bisa digambarkan dengan kata-kata.
Allah menciptakan rindu bukan untuk disesali, tapi untuk ditafakuri. Jadikan rindu ini sebagai jalanmu untuk mendekati-Nya. Bukan mendekati dia yang belum halal!
Jika rindu boleh terucap saat ini, mungkin kelak telinga ini sudah tak asing lagi mendengarnya.
Jika perasaan sayang ini boleh diumbar-umbar sekarang, mungkin dua atau tiga tahun lagi, hati akan segera berkarat.
Semua ada waktunya.
Biarkan rindu ini menggebu-gebu dalam hati. Mengungkapkan perasaan memang tidak salah, tapi merindukannya dalam diam mungkin lebih baik. Tak ada yang salah dalam cinta atau pun rindu, karena itu merupakan fitrahnya manusia, tinggal bagaimana cara kita menghadapi perasaan tersebut. Wallahu a'lam.
Alhamdulillah.
Kamis, 29 Mei 2014
Selamat Jalan Masa Lalu
Seringkali kita dibuat gelisah apabila tak sengaja menengok lagi ke belakang. Lebih tepatnya, masa lalu. Usahlah resah dengan kejadian yang sudah lampau. Kau punya masa depan yang indah. Kau harus pandai memilih yang terbaik untuk hidupmu kelak. Dan yang pasti, jadilah yang terbaik. Hidup ini sangat indah, relakah engkau menghabiskan waktumu dengan meng'galau'kannya? Waktu hidup di dunia ini terlalu singkat, relakah engkau menyia-nyiakannya dengan selalu memikirkan masa lalu? Tak sayangkah engkau pada dirimu sendiri? Menelan sakit yang selalu kau buat, menyimpan sedih yang kau pendam. Lihat sekelilingmu, mereka sangat menyayangimu. Orang tuamu, sahabatmu, dan ingat, ada TUHANMU, ALLOH SWT. THINK SMART! You must be moved on! Be the best, and you will get the best! In syaa Alloh :))
Selasa, 11 Maret 2014
Inilah Maksudku
Bukan maksudku menyakitimu
Juga mematahkan harapanmu
Tapi aku juga menyayangimu
Dan aku tak ingin kau terus berlarut
Percayalah, kau orang baik
Kau pantas mendapat yang lebih
Kalaupun kau takdirku,
suatu saat kita akan bertemu
di sebuah janji suci yang kau ikrarkan
Percayalah, jauh di lubuk hatiku
Aku pun menyayangimu
Tapi aku berbeda
Beginilah caraku menyalurkan perasaanku
Semoga kau mengerti
Juga mematahkan harapanmu
Tapi aku juga menyayangimu
Dan aku tak ingin kau terus berlarut
Percayalah, kau orang baik
Kau pantas mendapat yang lebih
Kalaupun kau takdirku,
suatu saat kita akan bertemu
di sebuah janji suci yang kau ikrarkan
Percayalah, jauh di lubuk hatiku
Aku pun menyayangimu
Tapi aku berbeda
Beginilah caraku menyalurkan perasaanku
Semoga kau mengerti
Rabu, 29 Mei 2013
Kini Dia yang Lain Hadir
Hari ini dia datang. Dia telah merebut hatiku darinya. Aku sudah mencoba untuk merubah haluanku, tak ingin lagi merasakan bagaimana itu jatuh cinta. Namun kehadirannya telah menghapus tanggapanku.
Sebagian perasaanku tlah terbawa olehnya, aku tak bisa menyangkal tentang perasaan ini. Aku jatuh cinta lagi. Sosoknya mampu membuatku terkagum-kagum. Aku tak melihat seberapa tampan wajahnya, dan memang ia tak tampan. Aku tidak memiliki alasan yang kuat mengapa aku memiliki perasaan ini padanya..
Aku hanya tau, saat ini aku menyukainya, meski aku tak tau apakah ia akan menyukaiku atau tidak. Tak peduli apapun yang kan terjadi, yang jelas dia selalu membuatku merasa nyaman, selalu mengerti apa yang terjadi padaku. Kurasa perasaan ini terlalu cepat untuk hadir, tapi apa yang bisa aku perbuat? Aku tak cukup kuat untuk melawan perasaan ini...
Sebagian perasaanku tlah terbawa olehnya, aku tak bisa menyangkal tentang perasaan ini. Aku jatuh cinta lagi. Sosoknya mampu membuatku terkagum-kagum. Aku tak melihat seberapa tampan wajahnya, dan memang ia tak tampan. Aku tidak memiliki alasan yang kuat mengapa aku memiliki perasaan ini padanya..
Aku hanya tau, saat ini aku menyukainya, meski aku tak tau apakah ia akan menyukaiku atau tidak. Tak peduli apapun yang kan terjadi, yang jelas dia selalu membuatku merasa nyaman, selalu mengerti apa yang terjadi padaku. Kurasa perasaan ini terlalu cepat untuk hadir, tapi apa yang bisa aku perbuat? Aku tak cukup kuat untuk melawan perasaan ini...
Selasa, 21 Mei 2013
Sosoknya
![]() |
| MissYou |
Dia, yang mengajarkanku arti kesetiaan
Dia pula yang mengajariku tentang arti ketulusan
Meski dialah satu-satunya orang yang mampu membuatku terluka
Dia, yang memberiku cinta
Dia, yang memberiku kasih
Meski kasihnya tak sebesar Tuhanku dan orangtuaku
Anam, panggil saja dia Anam
Sosok penuh tanda tanya namun penuh arti
Sulit dimengerti namun sulit tuk dibenci
Dia yang selalu kutulis selama ini
Inspirasi terbesar dalam cerita
Alur yang membingungkan dan penuh tantangan
Menguras emosi dan air mata
Meski dia tlah bersamanya,
kusebut slalu namanya di setiap do'aku
Di setiap sujud panjangku
Tipis harapan, namun inilah ketulusan
Dia telah mewarnai hidupku
Kumohon, jangan paksa aku tuk cari yang lain
Walau itu mungkin lebih baik
Tapi bagiku dialah yang terbaik
Anam...
Jumat, 17 Mei 2013
Kenangan
Kau ingat sayang?
Janji setia sehidup semati
dan mencintaiku setulus hati
Kau genggam erat tanganku
Bahagia tak terkira
Dicintai orang yang dicinta
Kau lelah sayang??
Hingga tak lagi mencintaiku
Bahkan pergi dan tak kembali
Apa kau lupa tuk temani aku?
Apa kau lupa cara memanjakanku?
Mengapa kau ingkari janji?
Tidak inginkah kau melihatku?
Tuk yang terakhir saja
Aku ingin melihat senyummu
dan memelukmu
Satu kali lagi sayang, sebelum waktuku habis
Aku rindu...
Rindu kenangan kita di masa lalu
Meski mungkin rinduku ini tak kau isi lagi
Meski kuharus menahan egoku
Kuakui ku masih menyayangimu..
Janji setia sehidup semati
dan mencintaiku setulus hati
Kau genggam erat tanganku
Bahagia tak terkira
Dicintai orang yang dicinta
Kau lelah sayang??
Hingga tak lagi mencintaiku
Bahkan pergi dan tak kembali
Apa kau lupa tuk temani aku?
Apa kau lupa cara memanjakanku?
Mengapa kau ingkari janji?
Tidak inginkah kau melihatku?
Tuk yang terakhir saja
Aku ingin melihat senyummu
dan memelukmu
Satu kali lagi sayang, sebelum waktuku habis
Aku rindu...
Rindu kenangan kita di masa lalu
Meski mungkin rinduku ini tak kau isi lagi
Meski kuharus menahan egoku
Kuakui ku masih menyayangimu..
Sabtu, 04 Mei 2013
Kumohon bawalah Kembali
Merindukanmu seakan menjadi suatu keharusan, yang jika diabaikan akan berubah menjadi bibit penyakit yang menjalar ke seluruh tubuh. Aku sudah berusaha keras untuk mengubur angan dan masa lalu, tapi apalah dayaku, kau masih selalu berputar di dalam otakku.
Kau muncul ketika aku sudah mulai menghilangkan jejakmu dalam hatiku. Aku hanya bisa menangis, menangis dan menangis. Mungkin di sana perlahan kau pun mencoba menghapus dan menghilangkan jejakku dalam hatimu. Tapi yang perlu aku pertanyakan, mengapa semudah itu kau melupakan aku? Meniadakan perasaan itu padaku? Apa sebelumnya memang kau tak pernah serius padaku? Jawab !
Tega kah engkau melihatku seperti ini? Dulu kau pernah berkata kau tak ingin kehilanganku sampai kapanpun! Ini ? Begini? Perlu aku ungkit kembali?
Aku bukan manusia kuat, bukan wanita tegar seperti wanita dalam sinetron-sinetron itu, kau harus tahu aku ini mudah menangis, mudah marah dan tak suka jika dibiarkan!
Aku sudah berusaha, segala cara telah kuupayakan agar aku tak lagi mengingatmu. Tapi memang dasarnya hatiku terlalu lama tertanam namamu, sehingga saat ini kau selalu ku kenang. Senyumanmu, tangisanmu, tawamu, romantismu, egoismu, ah ini memang terkesan membuang waktuku ! Percuma, kau telah berambisi mendapatkannya, bukan aku.
Kumohon bawa kembali nama yang dulu kau patri dalam hatiku, aku tak sanggup bila harus terus dibayang-bayangi wajah dan namamu, kumohon kembalikan lagi separuh hatiku. Jangan kau simpan untuk kepentingan pribadimu agar kau bisa kembali sesuka hatimu. Aku bukan pelarianmu, bukan simpanan pelepas kekosonganmu! Aku lelah diperlakukan seperti ini, kumohon jika kau akan menetap disini menetaplah dan jika akan pergi, pergilah sesukamu.
Aku masih ingin sendiri, jika kau ingin datang lagi aku mungkin takkan peduli. Allah Maha membolak-balikkan hati :')
Kau muncul ketika aku sudah mulai menghilangkan jejakmu dalam hatiku. Aku hanya bisa menangis, menangis dan menangis. Mungkin di sana perlahan kau pun mencoba menghapus dan menghilangkan jejakku dalam hatimu. Tapi yang perlu aku pertanyakan, mengapa semudah itu kau melupakan aku? Meniadakan perasaan itu padaku? Apa sebelumnya memang kau tak pernah serius padaku? Jawab !
Tega kah engkau melihatku seperti ini? Dulu kau pernah berkata kau tak ingin kehilanganku sampai kapanpun! Ini ? Begini? Perlu aku ungkit kembali?
Aku bukan manusia kuat, bukan wanita tegar seperti wanita dalam sinetron-sinetron itu, kau harus tahu aku ini mudah menangis, mudah marah dan tak suka jika dibiarkan!
Aku sudah berusaha, segala cara telah kuupayakan agar aku tak lagi mengingatmu. Tapi memang dasarnya hatiku terlalu lama tertanam namamu, sehingga saat ini kau selalu ku kenang. Senyumanmu, tangisanmu, tawamu, romantismu, egoismu, ah ini memang terkesan membuang waktuku ! Percuma, kau telah berambisi mendapatkannya, bukan aku.
Kumohon bawa kembali nama yang dulu kau patri dalam hatiku, aku tak sanggup bila harus terus dibayang-bayangi wajah dan namamu, kumohon kembalikan lagi separuh hatiku. Jangan kau simpan untuk kepentingan pribadimu agar kau bisa kembali sesuka hatimu. Aku bukan pelarianmu, bukan simpanan pelepas kekosonganmu! Aku lelah diperlakukan seperti ini, kumohon jika kau akan menetap disini menetaplah dan jika akan pergi, pergilah sesukamu.
Aku masih ingin sendiri, jika kau ingin datang lagi aku mungkin takkan peduli. Allah Maha membolak-balikkan hati :')
Langganan:
Komentar (Atom)
