Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Januari 2017

Menemukanmu

Menemukanmu seperti menemukan jarum di tengah tumpukan jerami.
Menemukanmu seperti pecah bisul yang selama ini menggangguku.
Menemukanmu seperti menemukan kunang-kunang di tengah sawah, menenangkan.
Menemukanmu seperti menatap langit biru dipenuhi gumpalan awan, membahagiakan.
Menantimu seperti menunggu tanggal dua puluh sembilan di bulan Februari.
Menantimu seperti menunggu hujan ditengah kemarau.
Menunggumu seperti berharap sejuk di tengah panas.
Memilihmu seperti menentukan mau surabi yang di mana? Kemudian di kedai yang mana? Kemudian rasa apa? Kemudian pedas atau asin? Kemudian kering atau setengah matang?
Dipilih olehmu seperti apa, ya? Bahagia, itu saja. Sebab bahagia sudah mencakup segalanya. Atas syukur, atas ni'matNya, atas semuanya.
.
.
.
KY. Hari kedua di tahun yang baru.

Selasa, 29 September 2015

Pendatang Baru

Lembayung tak dapat kusaksikan lagi
Malam setiap hari
Aku rindu senja
Aku rindu jingga
Mentari tak nampak lagi
Aku rindu pagi
Aku rindu mega
Birunya langit
Ah, apa daya
Sebatas tunanetra pendatang baru.

Senin, 01 Desember 2014

Tanya Untuk Kita

Kau...
Sampai kapan meletakkan topeng itu?
Tak lelahkah?
Tak merasa berdosakah?
Berapa kesedihan yang kau sembunyikan dari mereka?
Dari hiruk pikuk keramaian yang nyata kau rasa sepi
Ceritakan pada angin
Jelaskan pada hujan
Teriakkan pada langit senja yang setia menemani mentari untuk tenggelam

Kau...
Tak kasihankah pada dirimu sendiri?
Lihat, mereka pun bisa
Mereka pun mau
Berada di posisinya
Yang kau sayangi saat ini

Lihatlah, sayang
Mereka mencium kebohonganmu
Dustamu segera terkupas
Berkacalah, lihat matamu yang berlinang air mata
Hanya mereka yang mampu menebak kesedihan itu

Rabu, 09 Juli 2014

Hijrahku

Jalan hijrah yang berliku
Tak semulus yang ku kira
Tikungan tajam yang kualami
Membuatku harus terjatuh dan terjatuh lagi

Jalan hijrah yang tak mudah
Terkadang harus ada tangisan
Deraian air mata
Harus meninggalkan kebiasaan yang dulu aku kerjakan
Tapi tak diridhoi-Nya

Jalan hijrah yang ku tempuh
Jalannya tak lurus
Jalannya tak mulus

Jalan hijrah
Tak pernah ada yang mudah
Tak ada yang tak tajam
Tak ada yang tak berjurang

Hijrah
Terkadang aku harus menangis
Terkadang aku harus merintih
Meronta-ronta
Mengapa aku harus hijrah?

Hijrah
Agar bisa lebih baik
Agar bisa lebih baik
Agar bisa lebih baik
Itulah jawabannya
Agar lebih disayang Dia
Rabb semesta alam

Hijrahku
Memang tak semudah yang kuduga
Jalannya berliku tajam
Penuh onak dan duri

Meski harus meninggalkan aktivitas dunia yang fana
Yang menyenangkan
Asal Allah sayang, aku tak apa...
Allah, bantu aku dan saudara/saudariku untuk berhijrah
Kami rindu padaMU...

Selasa, 11 Maret 2014

Inilah Maksudku

Bukan maksudku menyakitimu
Juga mematahkan harapanmu
Tapi aku juga menyayangimu
Dan aku tak ingin kau terus berlarut

Percayalah, kau orang baik
Kau pantas mendapat yang lebih
Kalaupun kau takdirku,
suatu saat kita akan bertemu
di sebuah janji suci yang kau ikrarkan

Percayalah, jauh di lubuk hatiku
Aku pun menyayangimu
Tapi aku berbeda
Beginilah caraku menyalurkan perasaanku
Semoga kau mengerti

Senin, 03 Februari 2014

Tentang Luka

Menangis
Meleleh
Butiran itu perlahan berjalan di pipiku
Mengalir sakit bagaikan air sungai kematian
Aku terhanyut luka begitu dalam
Dalam, sedalam luka yang aku rasakan
Luka yang menggerogoti tubuhku
yang perlahan membunuh setiap sel yang hidup di sini
Tinggal tulang belulang cinta yang tersisa
Harapan yang sudah mati karena luka
Di mana obat yang selama ini kucari
Aku membutuhkannya
Seolah aku kecanduan luka yang malah menyakitiku
Terlambat, duniaku hampa
Sekarang aku hanya bisa terbaring dalam dunia gelap
Ingin rasanya aku menghilang dari mereka
Ya, luka.
Mereka yang membunuhku
pelan-pelan...

Oleh : Kamelia Yuniar & M Sirod Mustakim