Menangis
Meleleh
Butiran itu perlahan berjalan di pipiku
Mengalir sakit bagaikan air sungai kematian
Aku terhanyut luka begitu dalam
Dalam, sedalam luka yang aku rasakan
Luka yang menggerogoti tubuhku
yang perlahan membunuh setiap sel yang hidup di sini
Tinggal tulang belulang cinta yang tersisa
Harapan yang sudah mati karena luka
Di mana obat yang selama ini kucari
Aku membutuhkannya
Seolah aku kecanduan luka yang malah menyakitiku
Terlambat, duniaku hampa
Sekarang aku hanya bisa terbaring dalam dunia gelap
Ingin rasanya aku menghilang dari mereka
Ya, luka.
Mereka yang membunuhku
pelan-pelan...
Oleh : Kamelia Yuniar & M Sirod Mustakim
Senin, 03 Februari 2014
Minggu, 26 Januari 2014
Do'a Cinta dalam Keheningan
Yaa Rabb,,
Aku merindukan salah satu hamba-Mu
Hamba-Mu yang selalu berusaha berubah ke arah yang lebih baik
Hamba-Mu yang kini mengisi hatiku
Hamba-Mu yang kukagumi karena ilmu agama-Mu
Hamba-Mu yang tak pernah lelah membantuku untuk berubah
dan hamba-Mu yang kucintai karena-Mu
Yaa Allah
Jika ia yang terbaik untukku, persatukanlah kami
Bantulah aku untuk menyimpan cinta dalam keheningan ini
Pertemukanlah kami dalam sujud panjang kami dengan saling mendoakan
Perkenankanlah aku untuk mengisi hatinya
dengan waktu yang tak terbatas
Izinkanlah aku untuk menjadi yang terakhir dalam hidupnya
Ridhoilah aku dan dia untuk bersama meraih jannah-Mu.
Aamiin Yaa robbal Alamiin.
Aku merindukan salah satu hamba-Mu
Hamba-Mu yang selalu berusaha berubah ke arah yang lebih baik
Hamba-Mu yang kini mengisi hatiku
Hamba-Mu yang kukagumi karena ilmu agama-Mu
Hamba-Mu yang tak pernah lelah membantuku untuk berubah
dan hamba-Mu yang kucintai karena-Mu
Yaa Allah
Jika ia yang terbaik untukku, persatukanlah kami
Bantulah aku untuk menyimpan cinta dalam keheningan ini
Pertemukanlah kami dalam sujud panjang kami dengan saling mendoakan
Perkenankanlah aku untuk mengisi hatinya
dengan waktu yang tak terbatas
Izinkanlah aku untuk menjadi yang terakhir dalam hidupnya
Ridhoilah aku dan dia untuk bersama meraih jannah-Mu.
Aamiin Yaa robbal Alamiin.
Kamis, 23 Januari 2014
Sabtu, 11 Januari 2014
Senin, 23 Desember 2013
Tak Sama Denganku
Hari ini adalah hari ibu. Setiap
orang merayakan hari ibu dengan cara yang berbeda-beda, seperti; memberi kado
untuk ibunya, membereskan pekerjaan rumah, dan masih banyak lagi. Berbeda
denganku, malah aku yang menyusahkan ibu. Boro-boro
memberi hadiah, untuk membantu sedikit pekerjaan ibu saja, aku tak bisa. Aku
terbaring lemas di tempat tidurku, karena sakit yang menderaku. Sakit yang
kuderita sudah berlangsung selama dua minggu. Aku, ayah dan ibu, sudah berusaha
mencari obat untuk menyembuhkan penyakitku. Namun, malang yang diraih,
penyakitku saja tak diketahui namanya, bagaimana bisa mencari obat tanpa tahu
apa yang diderita?
Sendi-sendiku terasa sakit jika
digerakkan, kepalaku pun terasa sakit, suhu badanku selalu melebihi batas
normal. Jika aku berjalan, pandanganku gelap, kabur, semua tampak berputar-putar.
Dan jika keesokan harinya sakit itu hilang, dua hari kemudian sakit itu datang kembali.
Haahh, entah apa yang terjadi padaku. Aku hanya bisa berusaha, berdoa dan
bertawakal pada yang telah memberi rasa sakitku ini.
“Muth,
itu buburnya dimakan dulu. Sudah ibu sediakan di atas meja, sudah dengan teh
manisnya, Sayang,” teriak ibu dari dapur.
“Iya,
Bu. Nanti Muthma makan buburnya,” jawabku. Setelah lima menit kemudian, Ibu
menghampiriku. Entah mengapa, beliau langsung memelukku, erat sekali. Tiba-tiba
beliau menangis dan berkata, “Muthma sayang, maafkan Ibu, Nak. Ibu dan Ayah
belum bisa mendeteksi penyakitmu, belum bisa menyembuhkan Muthma. Maafkan kami,
Muth,” ibu tersedu-sedu.
“Ibu,
yang ada juga Muthma yang minta maaf. Karena selalu menyusahkan ibu. Selamat
hari Ibu, ya. Maafkan Muthma yang tidak bisa membantu ibu disaat ibu sibuk,
Muthma selalu merepotkan ibu. Terlebih lagi, akhir-akhir ini kondisi Muthma
yang tidak memungkinkan untuk beraktifitas seperti biasa.” Balasku dengan
senyuman. Ibu memelukku lagi.
Ibu menyuapiku semangkuk bubur. Aku
tahu, sebenarnya ia sedang menangis dalam hatinya. Inilah hebatnya ibuku,
tegar, dan jarang sekali menumpahkan air matanya di depanku ataupun ayah. Ya Allah, maafkan Muthma, maafkan Ibu
Muthma, lindungi Ibu dan Ayah Muthma, batinku.
***
Harusnya hari ini aku datang ke
sekolah untuk mengambil rapotku. Namun karena kondisiku tidak memungkinkan
untuk datang, maka aku hanya bisa berdiam diri di atas pembaringan yang kini
menjadi hantu bagiku. Aku bosan, jenuh, ingin pergi keluar rumah, bermain
bersama teman-temanku. Ah, tidak mungkin.
“Muthma,
ada Bu Siti ke sini. Bareng sama teman-temanmu juga,” ucap ibu dibalik pintu
kamarku. Aku terperanjat. “Hah? Aw…” Sendi-sendiku terasa sakit lagi. Aku
langsung mengenakan hijabku. Ibu mengetuk pintu kamar, lalu kupersilakan masuk.
“Assalamu’alaikum,
Muthma,” terdengar suara Bu Siti yang masuk ke kamarku.
“Wa’alaikumussalam,
Bu. Aaaa… Muthma kangen Ibu dan teman-teman,” tak sadar, bulir air mataku
menetes.
“Muthmaaaaaa….Isti
rindu Muthmaaaa,” terobos Isti dari luar kamar. Isti merupakan sahabat karibku.
Teman terbaik untuk menyimpan cerita dan rahasia-rahasiaku. Ia langsung
memelukku dengan erat. Aku pun membalas pelukannya, berusaha menyembunyikan air
mata di balik pundaknya.
Ibu dan Bu Siti terlihat
berbincang-bincang di ruang tamu, sedangkan aku, melepas rindu dengan sahabat-sahabat
yang ku cintai dan mencintaiku.
“Bu,
Muthmainnah ini adalah anak yang cerdas, kebanggaan saya dan teman-temannya. Ia
berhasil mencapai nilai tertinggi di sekolah.” Bu Siti mengelus-elus kepalaku
seraya tersenyum.
“Beneran,
Bu? Alhamdulillah,” tangisku meledak. Ibu langsung menghampiriku dan mencium
keningku, tak lupa memberi selamat padaku. Ah,
bahagianya, terima kasih Yaa Allah.
***
Setelah beberapa jam kemudian, mereka
berpamitan pulang. Rasanya berat sekali melepas mereka. Isti menyemangatiku
agar cepat sembuh, yang lainnya pun demikian. Aku tak bisa mengantar mereka sampai
depan rumah. Hmmm.
Tiba-tiba saja, sakit kepalaku
mencapai puncaknya. Aku berteriak memanggil ibu. Dengan sigap, ibu berlari ke
arah kamarku dan mencari apa yang telah membuatku begini.
“Bu,
kepala Muthma, Bu! Sakiiiiitttt…..” teriakku tak kuasa menahan kesakitan. Ibu
terlihat panik. Beliau langsung menelepon rumah sakit untuk mengirim ambulan ke
rumahku. Tak lama kemudian, sampailah mobil yang menyeramkan itu, tepat di
halaman depan rumahku.
Aku masih merintih, masih kesakitan.
Rasanya kepalaku ingin meledak, dan akan memuntahkan penyakit-penyakit yang absurd itu. Sesampainya di sana, aku
langsung dilarikan ke Unit Gawat Darurat (UGD). Terdengar suara ibu
memanggil-manggil namaku sambil merogoh sakunya untuk mengambil ponsel miliknya.
Ibu segera menelepon ayah. Setelah itu, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi,
karena di sini, mulai….gelap.
***
“Muthmaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, anakku
sayang, cantik, sholehah, kenapa pergi mendahului Ibu, Nak?” Ibu Muthma
menangis sejadi-jadinya. Ayah Muthma tepat di sampingnya hanya bisa
menepuk-nepuk pundaknya dan memeluknya. Betapa tidak? Ibu Muthma kehilangan
anak yang begitu dicintainya. Sebelum mengembuskan nafas terakhirnya, Muthma
sempat berbisik pada sang Ibu, “Bu, selamat hari Mamah, ya. Muthma sayang Ibu.
Ibu sayang Muthma, kan? Maafkan semua kesalahan Muthma. Muthma telah berdosa
karena menyusahkan Ibu dan Ayah. Astagfirullahal’adzim,”
Muthma anak sholehah ini, berhasil
mengucapkan kalimat syahadat di akhir hidupnya, dituntun oleh orang terkasih,
yakni ayahnya. Begitu banyak teman, sanak saudara, kerabat, bahkan orang yang
hanya kenal selewat pun datang untuk mengantarkan Muthma ke tempat
peristirahatan terakhirnya. Semua orang kehilangan Muthma, namun, inilah yang
terbaik untuk Muthma.
-Sekian- :)
Jumat, 06 Desember 2013
Satu Hari Bersama Ayah
Pandanganku mulai kabur. Semua tampak gelap. Aku tak mampu lagi menahan beban di pundakku. Dan akhirnya tubuh ini pun lemas, rapuh, kemudian...terjatuh.
***
Aku terbangun dari tidur panjangku. Rasanya kenyang sekali aku tidur, gumamku. Aku pun beranjak dari tempat tidur yang biasanya membuatku jengkel dengan suara berisiknya. Terasa sedikit janggal di pagi ini. Ah, apa peduliku?
“Yah, pintu kamar sudah dibenarkan? Ini dicat ulang, ya?” teriakku seraya memegang daun pintu kamarku. Ayah pun menghampiriku.
“Sudah, peri cantikku,” senyum Ayah mengembang, membuat pandanganku tak ingin lepas dari wajahnya.
“Terima kasih, Yah,” pelukku hangat. “Ibu sudah bangun, Yah?” tanyaku sambil berjalan menuju meja makan.
“Sudah. Ibumu sedang menyiapkan air minum di dapur.” Ayah berjalan menuju pintu dapur. Kulihat bayangan Ayah yang sedang mengusap kepala Ibu. Ayah dan Ibu saling menyayangi. Aku tersenyum kecil, melihat fenomena yang sudah sering terjadi di rumah ini. Dari dapur, Ibu berjalan membawa air teh manis hangat. Ah, kesukaanku. Menu hari ini adalah tahu dan tempe goreng, ditambah sambel kecap buatan ibu. Kami bertiga makan dengan lahapnya.
Aku adalah anak semata wayang. Terkadang aku merasa kesepian. Tak ada teman yang bisa kuajak bermain, karena di sini, mayoritas adalah mahasiswa.
“Yah, nanti siang kita jalan-jalan, yuk?” ajakku pada Ayah.
“Ke mana, Cantik?” tanya Ayah.
“Ke taman saja, Yah,” jawabku. Ayah mengangguk, sepertinya ia setuju dengan ajakanku. Tidak biasanya ia langsung setuju, karena Ayah orang yang tidak terlalu suka dengan jalan-jalan. Jika aku bosan di rumah, ia hanya membuat permainan baru. Tapi, tak apalah. Mungkin untuk kali ini, ia ingin membahagiakanku, pikirku.
Selesai makan, ibu membereskan sisa makanan yang ada di atas meja. Aku berlari ke kamar dengan senangnya. Menari di atas kasur, karena Ayah menyetujui rencanaku. Aku pun cepat-cepat mandi, lalu siap-siap untuk pergi ke taman, bersama ayah dan ibu.
***
Sesampainya di taman, Ibu duduk di bangku kayu berwarna putih, menikmati indahnya bunga-bunga cantik yang menyegarkan mata. Sedangkan aku dan ayah, berlari ke sana ke mari. Ayah mengejarku. Meskipun larinya kencang, namun aku tahu, ayah selalu mengalah untukku. Aku berhenti ketika nafas ayah mulai tak beratur.
“Ah, payah nih,” ucapku sambil menjulurkan lidahku. Ayah hanya membalas perkataanku dengan senyuman. Kami pun segera menghampiri Ibu.
Tepat di hadapan kami, ada dua bunga mawar berwarna putih. Mawar yang satu ini berbeda, tak berduri. Wanginya pun begitu lembut. Tak begitu menusuk hidungku. Ayah memetik kedua mawar tersebut.
“Ini untuk Ibu, dan ini untuk peri cantikku,” kata ayah seraya memberikan kedua mawar cantik itu.
“Ah, terima kasih, Yah,” bulir air mataku terjatuh. Ibu hanya tersenyum. Bahagianya diri ini, pikirku.
Ketika sedang memetik bunga mawar yang lain, tiba-tiba tanganku berdarah. Padahal tak ada duri di tangkainya. Dengan sigap, ayah segera mengeluarkan tissu dan mengelap darahku. Ah, ayah, aku kan tidak apa-apa, batinku. Saat ayah sedang mengeluarkan obat merah, ada penjual kembang gula. Entah mengapa rasanya ingin sekali membelinya. Warnanya telah menyihir mataku untuk segera membeli kembang gula tersebut.
“Yah, aku ingin itu,” ucapku sambil menunjuk ke arah kembang gula, yang sedari tadi melambai-lambai.
“Nanti gigimu ompong, Sayang,” senyum Ayah merekah kembali. Aku kesal. Lalu ayahku mengelus kepalaku dan memberi uang untuk kubelikan kembang gula.
“Ah, terima kasih, Ayah,” aku melipat mukaku yang semula kesal, dan melahirkan senyuman kecil untuk Ayah.
Kami sangat menikmati suasana kebersamaan ini. Seingatku, terakhir kami jalan bersama itu ketika aku berumur lima tahun. Hah, sudah sepuluh tahun lamanya kami tak seperti ini. Aku mengabadikan moment ini dengan kamera digitalku. Ketika kami sedang asik menikmati kembang gula, tiba-tiba ada seorang lelaki yang mencurigakan. Ia memakai kemeja putih dan celana putih. Gagah memang, tapi mengapa ia menghampiri kami? Aku mencoba membuang jauh-jauh pikiran jelekku. Perlahan ia mendekati kami dan berbicara pada Ayah. Raut muka ayah tiba-tiba berubah. Aku memperhatikan gerak-gerik bibir ayah.
“Aku belum puas.” Hanya itu gerakan bibir ayah yang dapat kutangkap dengan jelas, karena mereka berbicara jauh dari kami. Lelaki itu pun menjauh dan menunggu di dekat mobil miliknya. Ayah pun menghampiri kami dengan wajah muram.
“Maafkan Ayah, Bu, Ris.” Ayah mulai menitikkan air mata. “Waktu Ayah sudah habis, ayah harus pergi,” lanjut Ayah yang mulai mendekap ibu dengan erat. Ibu tak berbicara sepatah katapun.
“Maksud Ayah apa? Waktu Ayah? Memang kenapa? Ayah mau ke mana?” pertanyaanku kulayangkan bertubi-tubi, mencari kejelasan ucapan ayah. “Ayah harus pergi, Nak.” Ayah meninggalkan aku dan Ibu. Entah bagaimana perasaan Ibu saat ini. Terlihat air muka bingung menghinggapi wajahnya. Ini begitu mendadak. Aku tak tahu apa maksud dari perkataan Ayah. Tapi yang jelas, ayah dibawa pergi orang yang tak dikenal itu. Perlahan butiran air mata menetes dan berjalan di pipiku. Hati ini terasa sakit, amat sakit.
***
Aku membuka mata. Ternyata ini hanyalah mimpi! Lega rasanya. Ku kira tadi itu kenyataan. Aku menarik nafas panjang tandakan kelegaan. Tapi, mengapa orang-orang mengerumuniku? Memangnya ada apa? Apa yang terjadi padaku? Tiba-tiba saja aku teringat sesuatu. Kulihat ibu yang berada di hadapanku.
“Bu, ada apa ini?” tanyaku pada Ibu. Aku hanya mendengar ucapan syukur yang keluar dari mulut ibu tanpa menjawab pertanyaanku. “Bu, jawab!” Aku mulai kesal dan mulai khawatir.
“Sabar ya, Risti,” ucap salah seorang tetangga seraya menepuk pundakku. Aku semakin bingung.
“Ayah? Bu, ayah mana? Bu, tadi Risti mimpiin Ayah!” ucapku tergesa-gesa. Akupun ke luar kamar dan mencari Ayah. Aku hanya melihat orang-orang yang memakai pakaian yang serba hitam. “Ini ada apa, sih?” tanyaku lagi. Ibu menghampiriku dan mendekapku dengan erat.
“Ayah sudah tidak di sini, sayang. Ayah sudah menghadap Ilahi,” air mata ibu kian meledak. Tubuhku rasanya melayang. Aku lemas, dan akhirnya ambruk dalam dekapan ibu.
“Ibu jangan bohong! Ayah masih ada, Bu!” Aku terus melakukan pembenaran bahwa ayah masih ada di sini. Tapi, di tengah rumah, kulihat seseorang yang telah dibalut kain kafan. Wajahnya tak asing lagi bagiku, dan itu benar-benar ayah, ayahku tercinta. Aku diam, mematung. Tak tahu harus berbuat apa. Memori masa lalu bersama ayah mulai berjalan di otakku.
Ternyata, mimpiku itu nyata. Satu hari bersama ayah dan bahagia bersamanya. Senyumnya, tutur katanya, dan segala tentang ayah terekam jelas dalam ingatanku. Kurekam semua lewat mataku. Kubiarkan menjadi sebuah cerita yang mengalun indah di dalam hidupku.
“Ayah, mengapa secepat ini?” bisikku pelan.
***
Aku terbangun dari tidur panjangku. Rasanya kenyang sekali aku tidur, gumamku. Aku pun beranjak dari tempat tidur yang biasanya membuatku jengkel dengan suara berisiknya. Terasa sedikit janggal di pagi ini. Ah, apa peduliku?
“Yah, pintu kamar sudah dibenarkan? Ini dicat ulang, ya?” teriakku seraya memegang daun pintu kamarku. Ayah pun menghampiriku.
“Sudah, peri cantikku,” senyum Ayah mengembang, membuat pandanganku tak ingin lepas dari wajahnya.
“Terima kasih, Yah,” pelukku hangat. “Ibu sudah bangun, Yah?” tanyaku sambil berjalan menuju meja makan.
“Sudah. Ibumu sedang menyiapkan air minum di dapur.” Ayah berjalan menuju pintu dapur. Kulihat bayangan Ayah yang sedang mengusap kepala Ibu. Ayah dan Ibu saling menyayangi. Aku tersenyum kecil, melihat fenomena yang sudah sering terjadi di rumah ini. Dari dapur, Ibu berjalan membawa air teh manis hangat. Ah, kesukaanku. Menu hari ini adalah tahu dan tempe goreng, ditambah sambel kecap buatan ibu. Kami bertiga makan dengan lahapnya.
Aku adalah anak semata wayang. Terkadang aku merasa kesepian. Tak ada teman yang bisa kuajak bermain, karena di sini, mayoritas adalah mahasiswa.
“Yah, nanti siang kita jalan-jalan, yuk?” ajakku pada Ayah.
“Ke mana, Cantik?” tanya Ayah.
“Ke taman saja, Yah,” jawabku. Ayah mengangguk, sepertinya ia setuju dengan ajakanku. Tidak biasanya ia langsung setuju, karena Ayah orang yang tidak terlalu suka dengan jalan-jalan. Jika aku bosan di rumah, ia hanya membuat permainan baru. Tapi, tak apalah. Mungkin untuk kali ini, ia ingin membahagiakanku, pikirku.
Selesai makan, ibu membereskan sisa makanan yang ada di atas meja. Aku berlari ke kamar dengan senangnya. Menari di atas kasur, karena Ayah menyetujui rencanaku. Aku pun cepat-cepat mandi, lalu siap-siap untuk pergi ke taman, bersama ayah dan ibu.
***
Sesampainya di taman, Ibu duduk di bangku kayu berwarna putih, menikmati indahnya bunga-bunga cantik yang menyegarkan mata. Sedangkan aku dan ayah, berlari ke sana ke mari. Ayah mengejarku. Meskipun larinya kencang, namun aku tahu, ayah selalu mengalah untukku. Aku berhenti ketika nafas ayah mulai tak beratur.
“Ah, payah nih,” ucapku sambil menjulurkan lidahku. Ayah hanya membalas perkataanku dengan senyuman. Kami pun segera menghampiri Ibu.
Tepat di hadapan kami, ada dua bunga mawar berwarna putih. Mawar yang satu ini berbeda, tak berduri. Wanginya pun begitu lembut. Tak begitu menusuk hidungku. Ayah memetik kedua mawar tersebut.
“Ini untuk Ibu, dan ini untuk peri cantikku,” kata ayah seraya memberikan kedua mawar cantik itu.
“Ah, terima kasih, Yah,” bulir air mataku terjatuh. Ibu hanya tersenyum. Bahagianya diri ini, pikirku.
Ketika sedang memetik bunga mawar yang lain, tiba-tiba tanganku berdarah. Padahal tak ada duri di tangkainya. Dengan sigap, ayah segera mengeluarkan tissu dan mengelap darahku. Ah, ayah, aku kan tidak apa-apa, batinku. Saat ayah sedang mengeluarkan obat merah, ada penjual kembang gula. Entah mengapa rasanya ingin sekali membelinya. Warnanya telah menyihir mataku untuk segera membeli kembang gula tersebut.
“Yah, aku ingin itu,” ucapku sambil menunjuk ke arah kembang gula, yang sedari tadi melambai-lambai.
“Nanti gigimu ompong, Sayang,” senyum Ayah merekah kembali. Aku kesal. Lalu ayahku mengelus kepalaku dan memberi uang untuk kubelikan kembang gula.
“Ah, terima kasih, Ayah,” aku melipat mukaku yang semula kesal, dan melahirkan senyuman kecil untuk Ayah.
Kami sangat menikmati suasana kebersamaan ini. Seingatku, terakhir kami jalan bersama itu ketika aku berumur lima tahun. Hah, sudah sepuluh tahun lamanya kami tak seperti ini. Aku mengabadikan moment ini dengan kamera digitalku. Ketika kami sedang asik menikmati kembang gula, tiba-tiba ada seorang lelaki yang mencurigakan. Ia memakai kemeja putih dan celana putih. Gagah memang, tapi mengapa ia menghampiri kami? Aku mencoba membuang jauh-jauh pikiran jelekku. Perlahan ia mendekati kami dan berbicara pada Ayah. Raut muka ayah tiba-tiba berubah. Aku memperhatikan gerak-gerik bibir ayah.
“Aku belum puas.” Hanya itu gerakan bibir ayah yang dapat kutangkap dengan jelas, karena mereka berbicara jauh dari kami. Lelaki itu pun menjauh dan menunggu di dekat mobil miliknya. Ayah pun menghampiri kami dengan wajah muram.
“Maafkan Ayah, Bu, Ris.” Ayah mulai menitikkan air mata. “Waktu Ayah sudah habis, ayah harus pergi,” lanjut Ayah yang mulai mendekap ibu dengan erat. Ibu tak berbicara sepatah katapun.
“Maksud Ayah apa? Waktu Ayah? Memang kenapa? Ayah mau ke mana?” pertanyaanku kulayangkan bertubi-tubi, mencari kejelasan ucapan ayah. “Ayah harus pergi, Nak.” Ayah meninggalkan aku dan Ibu. Entah bagaimana perasaan Ibu saat ini. Terlihat air muka bingung menghinggapi wajahnya. Ini begitu mendadak. Aku tak tahu apa maksud dari perkataan Ayah. Tapi yang jelas, ayah dibawa pergi orang yang tak dikenal itu. Perlahan butiran air mata menetes dan berjalan di pipiku. Hati ini terasa sakit, amat sakit.
***
Aku membuka mata. Ternyata ini hanyalah mimpi! Lega rasanya. Ku kira tadi itu kenyataan. Aku menarik nafas panjang tandakan kelegaan. Tapi, mengapa orang-orang mengerumuniku? Memangnya ada apa? Apa yang terjadi padaku? Tiba-tiba saja aku teringat sesuatu. Kulihat ibu yang berada di hadapanku.
“Bu, ada apa ini?” tanyaku pada Ibu. Aku hanya mendengar ucapan syukur yang keluar dari mulut ibu tanpa menjawab pertanyaanku. “Bu, jawab!” Aku mulai kesal dan mulai khawatir.
“Sabar ya, Risti,” ucap salah seorang tetangga seraya menepuk pundakku. Aku semakin bingung.
“Ayah? Bu, ayah mana? Bu, tadi Risti mimpiin Ayah!” ucapku tergesa-gesa. Akupun ke luar kamar dan mencari Ayah. Aku hanya melihat orang-orang yang memakai pakaian yang serba hitam. “Ini ada apa, sih?” tanyaku lagi. Ibu menghampiriku dan mendekapku dengan erat.
“Ayah sudah tidak di sini, sayang. Ayah sudah menghadap Ilahi,” air mata ibu kian meledak. Tubuhku rasanya melayang. Aku lemas, dan akhirnya ambruk dalam dekapan ibu.
“Ibu jangan bohong! Ayah masih ada, Bu!” Aku terus melakukan pembenaran bahwa ayah masih ada di sini. Tapi, di tengah rumah, kulihat seseorang yang telah dibalut kain kafan. Wajahnya tak asing lagi bagiku, dan itu benar-benar ayah, ayahku tercinta. Aku diam, mematung. Tak tahu harus berbuat apa. Memori masa lalu bersama ayah mulai berjalan di otakku.
Ternyata, mimpiku itu nyata. Satu hari bersama ayah dan bahagia bersamanya. Senyumnya, tutur katanya, dan segala tentang ayah terekam jelas dalam ingatanku. Kurekam semua lewat mataku. Kubiarkan menjadi sebuah cerita yang mengalun indah di dalam hidupku.
“Ayah, mengapa secepat ini?” bisikku pelan.
Antologi Pertamaku
Aku, Kamu, dan Kisah Kita
Buku Antologi Cerpenku dan beberapa penulis lainnya.
Grab it Fast!! Tersedia d Gramedia kesayanganmu.
Penulis : (@trice_fakhri) Abdullah al-Fakhri – (@agistazulfa) Agista Zulfa Dini – (@telescope_s) Anita Agustina – (@arohbana) Isnaini Saroh – (@kamelia_ynr) Kamelia Yuniar – (@dillaasril) Naylatul Fhadilla – (@rrahmaniazzahra) Rrahmania Zzahra – (@krisan_putih) Septiani Ananda Putri – (@eghicugik) Sesty Regiani Ladirum – (@shofa_Fi) Shofa Faridah Istiqomah – (@windazizty) Winda Zizty – (@youlwib11) Yulianto Wibowo
Penerbit : Penerbit Matahari
Terbit : September 2013
Harga : Rp. 39.500
“Seperti menjenguk masa lalu, menyingkap selubung yang menirai lekuk-lekuk dunia remaja.” – @1bichara (Khrisna Pabichara), Penulis bestseller Sepatu Dahlan.
Putih abu-abu.
Adalah masa yang tak akan pernah terlupakan.
Masa itu juga yang mengenalkan cinta.
Indah dan penuh warna.
Membuat hati senang, kesal, suka, sakit, kecewa, dan bahagia.
Pada akhirnya, putih abu-abu akan membuat kita dewasa dan membuat kita paham apa arti cinta yang sesungguhnya.
“Semangat jiwa muda terasa dalam rangkaian kisah-kisahnya. Mengingatkan kembali pada serunya masa SMA, saat cita-cita digantungkan setinggi langit, saat pertama kali belajar memahami arti cinta, persahabatan, dan kesetiaan sesungguhnya.” – @rumieko (Arumi E), Penulis Cinta Bersemi di Putih Abu-Abu & Tahajud Cinta di Kota New York.
Minggu, 17 November 2013
Salahkah aku, Tuhan?
Kau sarankan aku untuk memilih yang baik agamanya
Lantas kupilih dia untukku
Bukan karena ketampanannya
Bukan karena hartanya
Bukan karena tahtanya
Namun karena luas ilmu agamanya
Kami pun bertemu
Tapi di waktu yang tidak tepat
Ya Allah, aku mencintainya karenaMU
Karena ilmu agamaMU.
Aku ingin dia menjadi imamku kelak
Salahkah aku, Ya Allah?
Salahkah aku yang mencintainya?
Salahkah aku yang berharap lebih padanya?
Salahkah jika aku mencintai seseorang seperti dia?
Tak pantaskah aku bersanding dengannya?
Ampuni aku jika aku salah
Tegur aku, Ya Rabb!
Gantilah dengan yang lebih baik
Jika kataMU, bukan dia yang kubutuhkan
Meski dia yang kuinginkan
Tegarkan aku..
Tegarkan aku..
Yaa Muqollibal qulub tsabbit qolbi a'la diinik.. Aamiin Allohuma Aamiin
Lantas kupilih dia untukku
Bukan karena ketampanannya
Bukan karena hartanya
Bukan karena tahtanya
Namun karena luas ilmu agamanya
Kami pun bertemu
Tapi di waktu yang tidak tepat
Ya Allah, aku mencintainya karenaMU
Karena ilmu agamaMU.
Aku ingin dia menjadi imamku kelak
Salahkah aku, Ya Allah?
Salahkah aku yang mencintainya?
Salahkah aku yang berharap lebih padanya?
Salahkah jika aku mencintai seseorang seperti dia?
Tak pantaskah aku bersanding dengannya?
Ampuni aku jika aku salah
Tegur aku, Ya Rabb!
Gantilah dengan yang lebih baik
Jika kataMU, bukan dia yang kubutuhkan
Meski dia yang kuinginkan
Tegarkan aku..
Tegarkan aku..
Yaa Muqollibal qulub tsabbit qolbi a'la diinik.. Aamiin Allohuma Aamiin
Langganan:
Komentar (Atom)


