Sabtu, 23 Agustus 2014

Hal Kecil yang Sering dianggap Remeh


Sumber Foto: News.com. Lokasi: CK-PWI Jln Asia Afrika, Bandung.

Bismillah
Assalamu’alaikum wr wb.
Allahumma shalli ‘alaa sayyidina Muhammad wa’alaa alii sayyidina Muhammad.
 Alhamdulillahirabbil’alamiin, akhirnya selesai juga tulisan ini, dan kini sudah dapat dibaca oleh mata anda.
                Saya ingin berbagi cerita tentang kejadian Selasa lalu (19 Agustus 2014). Hari itu, seperti biasa, saya tengah melaksanakan prakerin (Praktik Kerja Industri), demi memenuhi tugas di SMK. Saya mendengar ponsel saya berdering, tanda pesan masuk. Ternyata teman saya. Ia mengajak untuk menjenguk ketua organisasi yang masih rekan saya juga, di salah satu Rumah Sakit Negeri di Bandung. Awalnya saya menolak, dengan alasan prakerin. Tapi, akhirnya saya luluh juga karena saya pun rindu pada ketua organisasi tersebut. Etsss, ketuanya wanita, ya. ehehe. Maka saya pun mengiyakannya.
                “Bilang gak, ya, sama mamah? Duh, mana sore, takut dimarahin… tapi gak apa-apalah. Bismillah, pasti boleh.” Perang pemikiran pun berlangsung. Dan saya selalu ingat, ridha Allaah karena ridha orang tua. Meski sedikit was-was, saya tetap meminta izin pada ibu saya, meskipun tak ada balasan. Mungkin sibuk.
                Pukul 15.45 saya dipersilakan pulang oleh pembimbing perusahaan. Sinyal mulai memburuk. Pesan yang saya kirim tidak sampai dengan selamat. Ya sudah, shalat ashar dulu.
                Usai melaksanakan shalat, ponsel saya masih seperti bangkai. Saya coba telepon lalu saya matikan. Teman saya balik menelepon, lalu bertanya keberadaan saya. Akhirnya, ia pun berangkat dari tempat dia bersemedi *apaan?* menuju tempat magang saya.
                Waktu menunjukkan pukul 16.30.  Saya menunggu di pinggir jalan kantor. Duduk di dekat kolam yang tak ada ikannya, sambil memasang headset dan mendengarkan beberapa suara yang ada dalam ponsel.
                Tiba-tiba, ada yang bergetar di dalam, “Peruuuttt, kebiasaan!” badan saya selalu lemas ketika menjelang maghrib. Mungkin butuh asupan tenaga dari makanan, yaa :D ekeke. Oke lanjut. Kebetulan, eh gak ada yang kebetulan, ya? Ganti. Di sebelah kantor, ada sebuah mini market yang biasa disebut Circle-K atau CK. Saya pun langsung memburunya demi perut saya tercinta…
                Sepotong roti coklat seharga lima ribu lima ratus pun saya beli, untuk mengembalikan tenaga dalam tubuh saya. Sedikit mahal, sih. Biasanya, harga roti sebesar itu hanya seribu rupiah. Maklum, di kota… Sambil menunggu kembalian, saya melihat orang-orang yang sedang menonton pertandingan Persib (saya lupa lawannya siapa waktu itu) di ruangan sebelah. Circle-K, selain menyediakan makanan, minuman dan barang lainnya, juga menyediakan tempat untuk beristirahat. Lengkap dengan meja, kursi dan televisi.. Karena urusan saya sudah selesai, saya pun keluar.
                Tepat di depan CK, ada tempat duduk yang terbuat dari semen. Saya pun diam dan duduk di situ. Melahap roti tersebut dan menikmati setiap potong yang masuk ke dalam mulut.
                Sepuluh menit berlalu dan roti saya belum habis. Datanglah empat siswi dengan motornya, yang kelihatannya seusia dengan saya. Sambil menikmati roti, saya perhatikan mereka. Ada yang masih berseragam lengkap, ada yang masih memakai rok abu dengan kaos dan jaket, ada juga yang sudah memakai pakaian main. Mereka pun masuk ke dalam CK.
                Pukul 17.05 akhirnya teman saya DATANG, pemirsaaa. Setelah hampir satu jam saya menunggu. Sampai-sampai tiga bis berjalan melewati pandangan, juga roti yang sudah habis dengan waktu yang lama. Ya sudahlah, yang penting dia datang. Kami pun segera pergi meninggalkan tempat itu menuju Rumah Sakit. Alhamdulillah pergi dan pulang sampai rumah dengan selamat.
***
                Keesokan harinya, ketika sedang berjalan menuju kantor, saya kaget. Kenapa? Ada garis polisi di depan CK yang kemarin saya tempati. Ada tawurankah? Pembunuhan? Atau ada apa???? Kaca-kaca pecah. Ada lubang seperti bekas tembakan. Saya langsung menaikkan kecepatan kaki saya untuk berjalan.
Sesampainya di kantor, “Pak, itu ada apa? Pakai garis polisi segala?”
“Kan ambruk, Neng. Jam setengah lima…” bapak itu pun berbicara dengan yang lain. Saya langsung bergegas menuju ruangan untuk mencari informasi di koran. Ya, saya job di sebuah kantor pusat koran. Jadi, di sana banyak koran. :3
Setelah saya baca, ternyata kejadiannya tepat kemarin sore. Ada sumber yang mengatakan tepat pukul 16.30 itu terjadi, loh, saya masih di sana atuh jam segitu mah? Lalu ada sumber lain yang mengatakan bahwa bangunan itu ambruk pada pukul 17.15. Disebutkan ada delapan orang yang menjadi korban. Namun, hanya luka ringan. Ya tetap saja sakit, kan? Dan katanya, ada tiga remaja putri yang menjadi korban. Mereka dibawa ke klinik terdekat. Apa mungkin anak-anak yang kemarin saya lihat?
Tak henti-hentinya bibir ini bersyukur. Andaikata, saya masih di sana waktu itu, mungkin pecahan kaca sudah menusuk wajah dan tubuh saya. Alhamdulillah. Selesai. Etsss tunggu, jangan dulu tutup blognya. Mari kita ambil sisi positifnya. Saya berpikir, bagaimana jika saya tidak meminta izin waktu itu, apakah Allaah masih menyelamatkan saya dari pecahan kaca tersebut? Rentang waktu saya berangkat ke RS dan kejadian ambruknya bangunan tersebut sangatlah tipis. HANYA SEPULUH MENIT!!
Jangan pernah meremehkan hal kecil, seperti meminta izin kepada orang tua. Meskipun niatnya sudah baik, ingin menjenguk teman yang sakit, tapi jika orang tua tidak mengizinkan, bisa saja waktu itu Allaah menegur saya dengan jatuhnya kepingan kecil nan tajam itu. Saya tidak tahu, apakah siswi-siswi yang kemarin sudah meminta izin atau belum. Ya, semoga saja sudah.
Dalam sebuah hadits dikatakan, “Ridha Allaah berada di atas ridha orang tua, dan laknat Allaah di atas laknat kedua orang tua.” (Buku Indahnya Menjadi Muslimah Sukses, Cantik dan Berkarakter hal 192).
Terima kasih telah meluangkan waktunya untuk membaca. Semoga dapat menjadi bahan renungan, dan bermanfaat bagi saya dan Anda yang membacanya. Wallahu a’lam. Wassalamu’alaikum wr wb.

Rabu, 13 Agustus 2014

Namanya juga Hidup

Assalamu'alaikum Wr Wb.

Bismillaah
      Puji syukur atas kehadirat Allaah SWT karena atas ni'matnya, saya bisa menyelesaikan tulisan ini dan Anda dapat membaca tulisan saya.
      Kali ini, saya ingin menuangkan semua yang ada dalam pikiran saya. Sesuai dengan judulnya, "Namanya juga Hidup".
Ya! Hari ini saya ingin membahas itu. Alasannya? Karena saya sedang galau. *curhatdikit*
      Baiklah, kita mulai. . .
Hidup...
      Hidup bagaikan roda berputar. Ada kalanya di atas, lalu seiring berjalannya roda tersebut, akan berpindah ke bawah. Ya, seperti itulah kira-kira gambaran tentang hidup.
Ketika di atas, kita dipuja dan dipuji, dipupusti (baca:dihormati), diakui keberadaannya. Seperti pejabat-pejabat tinggi, dosen-dosen terkemuka, orang yang kaya, dan masih banyak lagi. Namun, bukankah itu ujian? Silakan renungkan sendiri.
Lalu, ketika sedang di bawah, jangankan untuk menyapa, melirik pun rasanya enggan. Orang-orang merasa diri tak ada pentingnya, tak ada gunanya.
     Ya, kejam memang. Namanya juga hidup...
     Ada saatnya kita di atas, merasakan indahnya menjadi 'orang penting' yang dikagumi banyak orang, merasakan kasih sayang orang-orang yang 'mungkin' memegang prinsip "Ada gula ada semut". Yap, tak ada yang tahu, kan? :)
    
     Jika yang dulunya dibenci, mungkin kini tengah dicintai. Jika dulu sempat memberi, mungkin kini sedang mengharapkan pemberian orang. Mungkin yang dulu sempat dicintai, kini telah ditinggal pergi. Dan mungkin yang dulu selalu meminta, kini selalu memberi. Satu lagi, agar anak mudanya konek niiihh, mungkin yang dulu menjadi objek yang dilupakan, kini menjadi objek yang selalu diingat. Tak ada yang tahu rencana-Nya. :')
Yaaa, namanya juga hidup! Nikmatilah setiap episodenya. Syukurilah apapun skenario yang telah Allaah rencanakan untukmu. Kelak, semuanya akan indah. Kau akan ceritakan semuanya pada anak dan cucumu. Menjadi cerita yang membuat dadamu membusung, akibat bahagia yang tercipta. Buah dari rasa syukurmu. Buah dari kesabaranmu.
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Quran Surah An-Nahl [16]: ayat 18)

      Namanya juga hidup, kadang menangis, kadang ditangisi. Kadang bersuka cita, kadang berduka cita. Dan tentunya, di balik semua itu, selalu ada makna yang membuatmu tak henti-hentinya untuk bersyukur. Percayalah.
Jangan terus diratapi, tapi teruslah berbenah diri. Jangan terus jatuh, tapi bangun dan bangkit! Dekatilah Allaah, dekatilah Dia yang memberimu hidup. Biarkan Dia memelukmu dengan erat, biarkan Dia mendekapmu di setiap sujudmu, biarkan Dia hapus air matamu di atas sajadah panjang itu. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
      Namanya juga hidup, kadang asin, kadang manis, kadang pahit, yaaa campur-campur. Karena hidup banyak rasa :v
Dan hidup tak akan selamanya mulus. Life is never flat :D *maapiklanteroooss*
Semangatlah!! Hadapi lika-liku hidup ini! Kamu bisa, KAMU PASTI BISAAAA!!!
Alhamdulillaah, semoga bermanfaat bagi diri dan bagi setiap orang yang membaca postingan in.
Ana uhibbukum fillah~

Wassalamu'alaikum Wr Wb.


Cimahi, 13 Agustus 2014.
Kamelia Yuniar.

Kamis, 07 Agustus 2014

Untukmu yang Entah Dimana

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Alhamdulillahirabbil'alamiin, dengan penuh rasa syukur, kutuliskan rasa yang tertata rapi dalam relung hati *ciyeee*.

Kala malam menyapa bintang, rasanya aku ingin terus menatap langit. Berharap tatapanmu dan tatapanku beradu satu di sana. Di belahan bumi lain, aku tahu, kau tengah merindukanku. Begitu juga aku. Hingga nanti kita akan dipertemukan, biarlah rindu ini tetap memuncak, hingga kita dipersatukan di Jannah-Nya.
Ingin rasanya kusebut namamu, yang disusun dari dua puluh enam abjad. Hati ini selalu berdesir lembut kala mengingatmu. Namun, Allaah melarangku untuk merindukanmu saat ini. Maka, kini aku hanya berani merindukan-Nya dan merindukan kekasih-Nya, Baginda Rasulullaah SAW. Aku takut Dia cemburu padaku. Aku takut Dia alihkan pandangan-Nya dariku. Aku takut Dia tak peduli lagi, meski sebenarnya, ketakutan itu tak akan kunjung nyata, kecuali saat hari pembalasan nanti.

Jiwa ini bergetar hebat, kala fatamorgana masa depan hadir membayangiku.
Bukan aku tak ingin mengkhayalkanmu, bukan. Aku hanya tak ingin noktah-noktah rindu perlahan mengotori hatiku. Aku hanya bisa berdiam diri. Mengagumimu, mendoakanmu, dan mendekapmu dalam setiap sujudku.
   Entah, bertemu pun belum pernah, apalagi untuk bertegur sapa?
   Siapalah diri ini, berani-beraninya mengagumi sosokmu, idaman wanita-wanita shalihah sepanjang masa.
   Tapi..... aku hanyalah manusia. Wanita akhir zaman yang mempunyai sejuta harapan. Tak apalah, biarkan Allaah yang memilihkan yang terbaik.
   Untukmu yang di sana, maafkan aku. Aku pun tak mengerti, alasan apa yang membuatku begitu yakin padamu. Meski aku tahu, kecil dan tipis harapan kita dapat bersua. Namun aku percaya janji-Nya, dalam Al-Qur'an surat An-Nuur ayat 26.
   Dan aku sangat yakin, tak ada yang sulit bagi-Nya untuk mempertemukan dua insan yang saling berjauhan. Seperti aku dan dirimu.
   Allaah pasti mengetahui rindu ini, Allaah pasti menghitung setiap doa yang sungguh-sungguh kita panjatkan, demi kebaikan bersama. Aku yakin, sayang. Allaah pasti akan mempertemukan kita, juga mempersatukan kita. Yakinlah, sayang...
Aku selalu menunggu kau datang.


Aaaaa, pasti langsung deg-deg serrrrr deh bacanyaaaaa!!!! ^_^
Niatnya sih untuk memenuhi postingan blog ini saja. Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :)
Barakallaahu fiikum...


Cimahi, 7Agustus2014.

Rabu, 06 Agustus 2014

APALAGI

Bismillaah

Kata, kalimat, narasi, puisi, telah kutuangkan semuanya.
Dan kau masih belum mengerti juga? Aku harus berbuat apalagi?
Tlah kujelaskan huruf A, huruf B, C hingga Z. Kurang jelaskah maksudku? Baik, kuredam dulu emosiku...

--------WAIT--------


        Untuk saat ini, aku tak ingin mengotori hati. Aku sudah muak, lelah, tak ingin lagi mengenal semua virus yang perlahan mematikanku. Ya, bagiku itu virus. Penyakit yang mungkin hanya satu obatnya, yaitu, kepastian.
Penyakit virus merah jambu itu sudah kuderita sejak lama. Jauh sebelum kau datang, jauh sebelum kau katakan "Aku menyayangimu" padaku. Kini, aku menyerah. Kuulang kembali, A-K-U       M-E-N-Y-E-R-A-H !
        Seringkali aku dicap labil, seringkali aku dijudge plinplan. Sekali aku diam, dua kali aku tak bisa apa-apa, tiga, empat, bahkan lebih dari lima. Kupingku pun panas, sesak, penuh!
Astaghfirullaah...
      Maafkan aku, Yaa Rabb...
Tak usah datang sekarang. Bahkan, jika nanti AKU datang, kuperingatkan, SAKITI SAJA! Agar aku tak datang lagi.
Kau pikir aku benang layang-layang? Yang dapat kau tarik ulur???
Kini pikirkanlah kembali. Maaf, jika kalimat yang ini tak pantas untuk kuposting. Sudah terlanjur, mati, rasa ini.
Hanya A-Z yang mampu kutuliskan. Berucap saja tak mampu, lantas harus apalagi untuk menjelaskan semua padamu??????

Sabtu, 02 Agustus 2014

Bersyukur dalam Kecewa

Bismillahirrahmaanirrahiim...

Kau pernah merasakan kecewa? Ketika harapanmu tak sejalan dengan kenyataan, ketika keinginan tak sama dengan kesanggupan, ketika impian harus hancur begitu saja di tengah jalan.
Lantas, apa yang bisa kau lakukan? Meratap? Menangis? Mengurung diri? Putus asa? Atau sampai BOSAN HIDUP?
Membiarkan hatimu mati dibunuh mimpi...

Astaghfirullaah.
Inikah diri yang selalu mengaku sebagai hamba? Inikah diri yang selalu berkata cinta pada Rabbnya? Tapi hanya karena takdir, hanya karena kenyataan, diri ini menyiksa diri, terus meratapi nasib yang memang sudah qada dan qadarnya?
Allaahu akbar...
Biarkanlah kecewa itu ada dalam hatimu, setelah kau menikmatinya, kuburlah jauh dalam hatimu. Enyahkan dalam pikiranmu. Aku tahu, itu tak semudah membalikkan kedua telapak tangan. Tak semudah aku mengatakannya, karena aku pun sama, aku pun manusia yang pernah merasakan perihnya dikecewakan. Namun apalah daya...
Mungkin di balik rasa kecewa itu, terdapat kekuatan yang begitu besar agar kita bisa lebih hati-hati. Dalam hal apa?? Jelas, dalam segala hal.

Kecewa karena memilih yang salah, kecewa karena tak bisa menggapai harapan, kecewa karena seseorang, dan masih banyak lagi cabang kecewa yang mungkin kau rasakan. Aku paham, sakit, sangaaat sakit.
Apa kecewa itu harus berjamur dalam hati? Ketika dikecewakan orang-orang tersayang (baca: sahabat, keluarga, kekasih), rasanya... seperti luka yang dibasuh oleh air cuka, lalu ditaburi garam (oke ini lebay). Kau bisa apa??

Waktu telah berputar, bukan?
Kau akan terus berkutat dengan rasa kecewamu? Kau rela hidupmu terus dibayangi oleh rasa kecewa?
BANGKITLAH! Aku tahu, ini cukup sulit. Hidup memang tak semudah kata-kata bijak para motivator yang menjamur di muka bumi ini, tapi kalimat-kalimat mereka ada benarnya.
Dan cobalah, buka Al-Qur'an (bagi yang muslim) surat Al-Baqarah ayat 216
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allaah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui,"
lalu ayat 286
"Allaah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."

Allaahu akbar!!
Dalam surat-surat cintaNya (baca: Al-Qur'an) pun, sudah jelas. Kalau tidak sanggup, Allaah pun tak akan memberi rasa kecewa itu. Tapi karena kau sanggup, jadi Allaah berikan perasaan tersebut.
Sakit itu hanya secuil, dibandingkan dengan nikmat-nikmat yang Allaah berikan pada kita semua.
"Lalu nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" (Ar-Rahmaan:13)

Sudahkah engkau bersyukur hari ini? Boleh jadi, karena kurangnya rasa syukur kita, rasa kecewa itu diturunkan.
Tamparan bagiku dan bagi yang membaca tulisanku. Apapun yang Allaah berikan, entah itu perasaan, barang, dan sebagainya, ingatlah bersyukur. Ingatkan pula pada yang lain.
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih." (Q.S Ibrahim:7)
Alhamdulillaahirabbil'alamiin.
Masih dirundung rasa kecewa? Sudah, lupakanlah. Masih banyak yang harus kau bahagiakan, masih banyak orang yang ingin membahagiakanmu. Waktumu terlalu berharga. Doakanlah selalu orang-orang yang telah membuatmu kecewa. Semoga mereka selalu dilindungi-Nya. Doakan yang baik, ya :)

Mohon maaf jika tulisanku ada yang tak berkenan di hati. Ini hanya ungkapan hati yang tak terucapkan.
Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca. Semoga bermanfaat :)


Cimahi, 2 Agustus 2014
Kamelia Yuniar.
(Perwakilan hati-hati yang telah dikecewakan) :') ^^