Assalamu'alaikum Wr Wb.
Bismillaah
Puji syukur atas kehadirat Allaah SWT karena atas ni'matnya, saya bisa menyelesaikan tulisan ini dan Anda dapat membaca tulisan saya.
Kali ini, saya ingin menuangkan semua yang ada dalam pikiran saya. Sesuai dengan judulnya, "Namanya juga Hidup".
Ya! Hari ini saya ingin membahas itu. Alasannya? Karena saya sedang galau. *curhatdikit*
Baiklah, kita mulai. . .
Hidup...
Hidup bagaikan roda berputar. Ada kalanya di atas, lalu seiring berjalannya roda tersebut, akan berpindah ke bawah. Ya, seperti itulah kira-kira gambaran tentang hidup.
Ketika di atas, kita dipuja dan dipuji, dipupusti (baca:dihormati), diakui keberadaannya. Seperti pejabat-pejabat tinggi, dosen-dosen terkemuka, orang yang kaya, dan masih banyak lagi. Namun, bukankah itu ujian? Silakan renungkan sendiri.
Lalu, ketika sedang di bawah, jangankan untuk menyapa, melirik pun rasanya enggan. Orang-orang merasa diri tak ada pentingnya, tak ada gunanya.
Ya, kejam memang. Namanya juga hidup...
Ada saatnya kita di atas, merasakan indahnya menjadi 'orang penting' yang dikagumi banyak orang, merasakan kasih sayang orang-orang yang 'mungkin' memegang prinsip "Ada gula ada semut". Yap, tak ada yang tahu, kan? :)
Jika yang dulunya dibenci, mungkin kini tengah dicintai. Jika dulu sempat memberi, mungkin kini sedang mengharapkan pemberian orang. Mungkin yang dulu sempat dicintai, kini telah ditinggal pergi. Dan mungkin yang dulu selalu meminta, kini selalu memberi. Satu lagi, agar anak mudanya konek niiihh, mungkin yang dulu menjadi objek yang dilupakan, kini menjadi objek yang selalu diingat. Tak ada yang tahu rencana-Nya. :')
Yaaa, namanya juga hidup! Nikmatilah setiap episodenya. Syukurilah apapun skenario yang telah Allaah rencanakan untukmu. Kelak, semuanya akan indah. Kau akan ceritakan semuanya pada anak dan cucumu. Menjadi cerita yang membuat dadamu membusung, akibat bahagia yang tercipta. Buah dari rasa syukurmu. Buah dari kesabaranmu.
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat
menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.” (Al-Quran Surah An-Nahl [16]: ayat 18)
Namanya juga hidup, kadang menangis, kadang ditangisi. Kadang bersuka cita, kadang berduka cita. Dan tentunya, di balik semua itu, selalu ada makna yang membuatmu tak henti-hentinya untuk bersyukur. Percayalah.
Jangan terus diratapi, tapi teruslah berbenah diri. Jangan terus jatuh, tapi bangun dan bangkit! Dekatilah Allaah, dekatilah Dia yang memberimu hidup. Biarkan Dia memelukmu dengan erat, biarkan Dia mendekapmu di setiap sujudmu, biarkan Dia hapus air matamu di atas sajadah panjang itu. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Namanya juga hidup, kadang asin, kadang manis, kadang pahit, yaaa campur-campur. Karena hidup banyak rasa :v
Dan hidup tak akan selamanya mulus. Life is never flat :D *maapiklanteroooss*
Semangatlah!! Hadapi lika-liku hidup ini! Kamu bisa, KAMU PASTI BISAAAA!!!
Alhamdulillaah, semoga bermanfaat bagi diri dan bagi setiap orang yang membaca postingan in.
Ana uhibbukum fillah~
Wassalamu'alaikum Wr Wb.
Cimahi, 13 Agustus 2014.
Kamelia Yuniar.
Rabu, 13 Agustus 2014
Kamis, 07 Agustus 2014
Untukmu yang Entah Dimana
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Alhamdulillahirabbil'alamiin, dengan penuh rasa syukur, kutuliskan rasa yang tertata rapi dalam relung hati *ciyeee*.
Kala malam menyapa bintang, rasanya aku ingin terus menatap langit. Berharap tatapanmu dan tatapanku beradu satu di sana. Di belahan bumi lain, aku tahu, kau tengah merindukanku. Begitu juga aku. Hingga nanti kita akan dipertemukan, biarlah rindu ini tetap memuncak, hingga kita dipersatukan di Jannah-Nya.
Ingin rasanya kusebut namamu, yang disusun dari dua puluh enam abjad. Hati ini selalu berdesir lembut kala mengingatmu. Namun, Allaah melarangku untuk merindukanmu saat ini. Maka, kini aku hanya berani merindukan-Nya dan merindukan kekasih-Nya, Baginda Rasulullaah SAW. Aku takut Dia cemburu padaku. Aku takut Dia alihkan pandangan-Nya dariku. Aku takut Dia tak peduli lagi, meski sebenarnya, ketakutan itu tak akan kunjung nyata, kecuali saat hari pembalasan nanti.
Jiwa ini bergetar hebat, kala fatamorgana masa depan hadir membayangiku.
Bukan aku tak ingin mengkhayalkanmu, bukan. Aku hanya tak ingin noktah-noktah rindu perlahan mengotori hatiku. Aku hanya bisa berdiam diri. Mengagumimu, mendoakanmu, dan mendekapmu dalam setiap sujudku.
Entah, bertemu pun belum pernah, apalagi untuk bertegur sapa?
Siapalah diri ini, berani-beraninya mengagumi sosokmu, idaman wanita-wanita shalihah sepanjang masa.
Tapi..... aku hanyalah manusia. Wanita akhir zaman yang mempunyai sejuta harapan. Tak apalah, biarkan Allaah yang memilihkan yang terbaik.
Untukmu yang di sana, maafkan aku. Aku pun tak mengerti, alasan apa yang membuatku begitu yakin padamu. Meski aku tahu, kecil dan tipis harapan kita dapat bersua. Namun aku percaya janji-Nya, dalam Al-Qur'an surat An-Nuur ayat 26.
Dan aku sangat yakin, tak ada yang sulit bagi-Nya untuk mempertemukan dua insan yang saling berjauhan. Seperti aku dan dirimu.
Allaah pasti mengetahui rindu ini, Allaah pasti menghitung setiap doa yang sungguh-sungguh kita panjatkan, demi kebaikan bersama. Aku yakin, sayang. Allaah pasti akan mempertemukan kita, juga mempersatukan kita. Yakinlah, sayang...
Aku selalu menunggu kau datang.
Aaaaa, pasti langsung deg-deg serrrrr deh bacanyaaaaa!!!! ^_^
Niatnya sih untuk memenuhi postingan blog ini saja. Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :)
Barakallaahu fiikum...
Cimahi, 7Agustus2014.
Alhamdulillahirabbil'alamiin, dengan penuh rasa syukur, kutuliskan rasa yang tertata rapi dalam relung hati *ciyeee*.
Kala malam menyapa bintang, rasanya aku ingin terus menatap langit. Berharap tatapanmu dan tatapanku beradu satu di sana. Di belahan bumi lain, aku tahu, kau tengah merindukanku. Begitu juga aku. Hingga nanti kita akan dipertemukan, biarlah rindu ini tetap memuncak, hingga kita dipersatukan di Jannah-Nya.
Ingin rasanya kusebut namamu, yang disusun dari dua puluh enam abjad. Hati ini selalu berdesir lembut kala mengingatmu. Namun, Allaah melarangku untuk merindukanmu saat ini. Maka, kini aku hanya berani merindukan-Nya dan merindukan kekasih-Nya, Baginda Rasulullaah SAW. Aku takut Dia cemburu padaku. Aku takut Dia alihkan pandangan-Nya dariku. Aku takut Dia tak peduli lagi, meski sebenarnya, ketakutan itu tak akan kunjung nyata, kecuali saat hari pembalasan nanti.
Jiwa ini bergetar hebat, kala fatamorgana masa depan hadir membayangiku.
Bukan aku tak ingin mengkhayalkanmu, bukan. Aku hanya tak ingin noktah-noktah rindu perlahan mengotori hatiku. Aku hanya bisa berdiam diri. Mengagumimu, mendoakanmu, dan mendekapmu dalam setiap sujudku.
Entah, bertemu pun belum pernah, apalagi untuk bertegur sapa?
Siapalah diri ini, berani-beraninya mengagumi sosokmu, idaman wanita-wanita shalihah sepanjang masa.
Tapi..... aku hanyalah manusia. Wanita akhir zaman yang mempunyai sejuta harapan. Tak apalah, biarkan Allaah yang memilihkan yang terbaik.
Untukmu yang di sana, maafkan aku. Aku pun tak mengerti, alasan apa yang membuatku begitu yakin padamu. Meski aku tahu, kecil dan tipis harapan kita dapat bersua. Namun aku percaya janji-Nya, dalam Al-Qur'an surat An-Nuur ayat 26.
Dan aku sangat yakin, tak ada yang sulit bagi-Nya untuk mempertemukan dua insan yang saling berjauhan. Seperti aku dan dirimu.
Allaah pasti mengetahui rindu ini, Allaah pasti menghitung setiap doa yang sungguh-sungguh kita panjatkan, demi kebaikan bersama. Aku yakin, sayang. Allaah pasti akan mempertemukan kita, juga mempersatukan kita. Yakinlah, sayang...
Aku selalu menunggu kau datang.
Aaaaa, pasti langsung deg-deg serrrrr deh bacanyaaaaa!!!! ^_^
Niatnya sih untuk memenuhi postingan blog ini saja. Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :)
Barakallaahu fiikum...
Cimahi, 7Agustus2014.
Rabu, 06 Agustus 2014
APALAGI
Bismillaah
Kata, kalimat, narasi, puisi, telah kutuangkan semuanya.
Dan kau masih belum mengerti juga? Aku harus berbuat apalagi?
Tlah kujelaskan huruf A, huruf B, C hingga Z. Kurang jelaskah maksudku? Baik, kuredam dulu emosiku...
--------WAIT--------
Untuk saat ini, aku tak ingin mengotori hati. Aku sudah muak, lelah, tak ingin lagi mengenal semua virus yang perlahan mematikanku. Ya, bagiku itu virus. Penyakit yang mungkin hanya satu obatnya, yaitu, kepastian.
Penyakit virus merah jambu itu sudah kuderita sejak lama. Jauh sebelum kau datang, jauh sebelum kau katakan "Aku menyayangimu" padaku. Kini, aku menyerah. Kuulang kembali, A-K-U M-E-N-Y-E-R-A-H !
Seringkali aku dicap labil, seringkali aku dijudge plinplan. Sekali aku diam, dua kali aku tak bisa apa-apa, tiga, empat, bahkan lebih dari lima. Kupingku pun panas, sesak, penuh!
Astaghfirullaah...
Maafkan aku, Yaa Rabb...
Tak usah datang sekarang. Bahkan, jika nanti AKU datang, kuperingatkan, SAKITI SAJA! Agar aku tak datang lagi.
Kau pikir aku benang layang-layang? Yang dapat kau tarik ulur???
Kini pikirkanlah kembali. Maaf, jika kalimat yang ini tak pantas untuk kuposting. Sudah terlanjur, mati, rasa ini.
Hanya A-Z yang mampu kutuliskan. Berucap saja tak mampu, lantas harus apalagi untuk menjelaskan semua padamu??????
Kata, kalimat, narasi, puisi, telah kutuangkan semuanya.
Dan kau masih belum mengerti juga? Aku harus berbuat apalagi?
Tlah kujelaskan huruf A, huruf B, C hingga Z. Kurang jelaskah maksudku? Baik, kuredam dulu emosiku...
--------WAIT--------
Untuk saat ini, aku tak ingin mengotori hati. Aku sudah muak, lelah, tak ingin lagi mengenal semua virus yang perlahan mematikanku. Ya, bagiku itu virus. Penyakit yang mungkin hanya satu obatnya, yaitu, kepastian.
Penyakit virus merah jambu itu sudah kuderita sejak lama. Jauh sebelum kau datang, jauh sebelum kau katakan "Aku menyayangimu" padaku. Kini, aku menyerah. Kuulang kembali, A-K-U M-E-N-Y-E-R-A-H !
Seringkali aku dicap labil, seringkali aku dijudge plinplan. Sekali aku diam, dua kali aku tak bisa apa-apa, tiga, empat, bahkan lebih dari lima. Kupingku pun panas, sesak, penuh!
Astaghfirullaah...
Maafkan aku, Yaa Rabb...
Tak usah datang sekarang. Bahkan, jika nanti AKU datang, kuperingatkan, SAKITI SAJA! Agar aku tak datang lagi.
Kau pikir aku benang layang-layang? Yang dapat kau tarik ulur???
Kini pikirkanlah kembali. Maaf, jika kalimat yang ini tak pantas untuk kuposting. Sudah terlanjur, mati, rasa ini.
Hanya A-Z yang mampu kutuliskan. Berucap saja tak mampu, lantas harus apalagi untuk menjelaskan semua padamu??????
Sabtu, 02 Agustus 2014
Bersyukur dalam Kecewa
Bismillahirrahmaanirrahiim...Kau pernah merasakan kecewa? Ketika harapanmu tak sejalan dengan kenyataan, ketika keinginan tak sama dengan kesanggupan, ketika impian harus hancur begitu saja di tengah jalan.
Lantas, apa yang bisa kau lakukan? Meratap? Menangis? Mengurung diri? Putus asa? Atau sampai BOSAN HIDUP?
Membiarkan hatimu mati dibunuh mimpi...
Astaghfirullaah.
Inikah diri yang selalu mengaku sebagai hamba? Inikah diri yang selalu berkata cinta pada Rabbnya? Tapi hanya karena takdir, hanya karena kenyataan, diri ini menyiksa diri, terus meratapi nasib yang memang sudah qada dan qadarnya?
Allaahu akbar...
Biarkanlah kecewa itu ada dalam hatimu, setelah kau menikmatinya, kuburlah jauh dalam hatimu. Enyahkan dalam pikiranmu. Aku tahu, itu tak semudah membalikkan kedua telapak tangan. Tak semudah aku mengatakannya, karena aku pun sama, aku pun manusia yang pernah merasakan perihnya dikecewakan. Namun apalah daya...
Mungkin di balik rasa kecewa itu, terdapat kekuatan yang begitu besar agar kita bisa lebih hati-hati. Dalam hal apa?? Jelas, dalam segala hal.
Kecewa karena memilih yang salah, kecewa karena tak bisa menggapai harapan, kecewa karena seseorang, dan masih banyak lagi cabang kecewa yang mungkin kau rasakan. Aku paham, sakit, sangaaat sakit.
Apa kecewa itu harus berjamur dalam hati? Ketika dikecewakan orang-orang tersayang (baca: sahabat, keluarga, kekasih), rasanya... seperti luka yang dibasuh oleh air cuka, lalu ditaburi garam (oke ini lebay). Kau bisa apa??
Waktu telah berputar, bukan?
Kau akan terus berkutat dengan rasa kecewamu? Kau rela hidupmu terus dibayangi oleh rasa kecewa?
BANGKITLAH! Aku tahu, ini cukup sulit. Hidup memang tak semudah kata-kata bijak para motivator yang menjamur di muka bumi ini, tapi kalimat-kalimat mereka ada benarnya.
Dan cobalah, buka Al-Qur'an (bagi yang muslim) surat Al-Baqarah ayat 216
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allaah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui,"
lalu ayat 286
"Allaah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."
Allaahu akbar!!
Dalam surat-surat cintaNya (baca: Al-Qur'an) pun, sudah jelas. Kalau tidak sanggup, Allaah pun tak akan memberi rasa kecewa itu. Tapi karena kau sanggup, jadi Allaah berikan perasaan tersebut.
Sakit itu hanya secuil, dibandingkan dengan nikmat-nikmat yang Allaah berikan pada kita semua.
"Lalu nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" (Ar-Rahmaan:13)
Sudahkah engkau bersyukur hari ini? Boleh jadi, karena kurangnya rasa syukur kita, rasa kecewa itu diturunkan.
Tamparan bagiku dan bagi yang membaca tulisanku. Apapun yang Allaah berikan, entah itu perasaan, barang, dan sebagainya, ingatlah bersyukur. Ingatkan pula pada yang lain.
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih." (Q.S Ibrahim:7)
Alhamdulillaahirabbil'alamiin.
Masih dirundung rasa kecewa? Sudah, lupakanlah. Masih banyak yang harus kau bahagiakan, masih banyak orang yang ingin membahagiakanmu. Waktumu terlalu berharga. Doakanlah selalu orang-orang yang telah membuatmu kecewa. Semoga mereka selalu dilindungi-Nya. Doakan yang baik, ya :)
Mohon maaf jika tulisanku ada yang tak berkenan di hati. Ini hanya ungkapan hati yang tak terucapkan.
Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca. Semoga bermanfaat :)
Cimahi, 2 Agustus 2014
Kamelia Yuniar.
(Perwakilan hati-hati yang telah dikecewakan) :') ^^
Jumat, 25 Juli 2014
Untuk Mamah dan Bapak Tercinta
Bismillah
Yaa Robb, kau titipkan aku rasa cinta yang begitu indah. UntukMu, dan untuk kedua orang tuaku. Kau telah memberiku nikmat tanpa batas. Kau beri aku kasih sayang orang tua yang tak terhingga. Mereka rela bekerja banting tulang demi menyekolahkanku. Demi kehidupanku di masa yang akan datang.
Tapi apa aku ini, Ya Robb? Sering aku membuat cairan kristal itu menetes dari pelupuk matanya..
Sering aku menyakiti hatinya. Anak macam apa aku ini, Ya Robb?
Apa yang bisa kuperbuat agar mereka bahagia? Setitik saja kebahagiaan itu rasanya sulit sekali kuberikan pada mereka. Padahal mereka begitu bersemangat membuatku bahagia...
Mamah, yang sering berusaha menjadi penggemar setiaku. Tak jarang, ia selalu mengagumi karya-karyaku. Meski dengan kalimat yang tak halus untuk kudengar. Tapi aku tahu, ia ingin aku menjadi lebih baik. Beliau rela bangun pagi untuk menyiapkan semuanya, lantas pergi mencari pundi-pundi uang untuk kami --aku dan adikku--.
Bapak, yang kesabarannya membuatku kagum. Jarang mengeluh, meski dalam hatinya aku tahu, ia ingin sekali membahagiakanku seperti ayah-ayah yang lainnya.
Tapi itulah mereka, kesederhanaannya mampu membuatku merasa nyaman. Mampu membuatku merasa dicintai, ketika yang lain tak mau mendengar.
Aku bisa apa, Ya Robb? Ucapan maaf pun rasanya takkan mampu mengganti rasa sakit yang telah mereka rasakan.
Rasanya ingin sekali tangan ini memeluk erat tubuhnya, dan berkata, "Aku bangga menjadi anak mamah dan bapak," lalu ku kecup tangannya yang mulai berkeriput.
Ingin rasanya menggantikan rutinitas mereka yang begitu menguras tenaga. Kemudian menukarnya dengan beberapa lembar uang.
Apa aku telah menzholimi mereka, Ya Robb? Tangan ini sama sekali belum pernah menyeka air mata mereka.
Bibir ini sungguh kelu, saat ingin meminta maaf.
Ya Robb, muliakan kedua orang tuaku. Sayangilah mereka melebihi sayangku untuknya.
Sungguh, aku sangat menyayangi mereka. Aku hanya bisa berbicara lewat kata, lewat narasi. Selebihnya, aku hanya bisa diam. Aku diam karena aku sayang, aku tak ingin lisanku menyakiti mereka lebih banyak lagi.
Ya Robb, izinkan aku membahagiakan mereka, mengangkat derajat mereka di sisiMu. Kumohon permudahkanlah...
Aamiin..
Yaa Robb, kau titipkan aku rasa cinta yang begitu indah. UntukMu, dan untuk kedua orang tuaku. Kau telah memberiku nikmat tanpa batas. Kau beri aku kasih sayang orang tua yang tak terhingga. Mereka rela bekerja banting tulang demi menyekolahkanku. Demi kehidupanku di masa yang akan datang.
Tapi apa aku ini, Ya Robb? Sering aku membuat cairan kristal itu menetes dari pelupuk matanya..
Sering aku menyakiti hatinya. Anak macam apa aku ini, Ya Robb?
Apa yang bisa kuperbuat agar mereka bahagia? Setitik saja kebahagiaan itu rasanya sulit sekali kuberikan pada mereka. Padahal mereka begitu bersemangat membuatku bahagia...
Mamah, yang sering berusaha menjadi penggemar setiaku. Tak jarang, ia selalu mengagumi karya-karyaku. Meski dengan kalimat yang tak halus untuk kudengar. Tapi aku tahu, ia ingin aku menjadi lebih baik. Beliau rela bangun pagi untuk menyiapkan semuanya, lantas pergi mencari pundi-pundi uang untuk kami --aku dan adikku--.
Bapak, yang kesabarannya membuatku kagum. Jarang mengeluh, meski dalam hatinya aku tahu, ia ingin sekali membahagiakanku seperti ayah-ayah yang lainnya.
Tapi itulah mereka, kesederhanaannya mampu membuatku merasa nyaman. Mampu membuatku merasa dicintai, ketika yang lain tak mau mendengar.
Aku bisa apa, Ya Robb? Ucapan maaf pun rasanya takkan mampu mengganti rasa sakit yang telah mereka rasakan.
Rasanya ingin sekali tangan ini memeluk erat tubuhnya, dan berkata, "Aku bangga menjadi anak mamah dan bapak," lalu ku kecup tangannya yang mulai berkeriput.
Ingin rasanya menggantikan rutinitas mereka yang begitu menguras tenaga. Kemudian menukarnya dengan beberapa lembar uang.
Apa aku telah menzholimi mereka, Ya Robb? Tangan ini sama sekali belum pernah menyeka air mata mereka.
Bibir ini sungguh kelu, saat ingin meminta maaf.
Ya Robb, muliakan kedua orang tuaku. Sayangilah mereka melebihi sayangku untuknya.
Sungguh, aku sangat menyayangi mereka. Aku hanya bisa berbicara lewat kata, lewat narasi. Selebihnya, aku hanya bisa diam. Aku diam karena aku sayang, aku tak ingin lisanku menyakiti mereka lebih banyak lagi.
Ya Robb, izinkan aku membahagiakan mereka, mengangkat derajat mereka di sisiMu. Kumohon permudahkanlah...
Aamiin..
Selasa, 22 Juli 2014
Harapan Kecil yang Besar
Beberapa kali kucoba mengingatnya
Tak paham
Ingatan itu telah rapuh
Bak sarang laba-laba
Terkoyak lalu hancur
Atau mungkin aku terlalu menikmati
Hingga sakit itu sudah tak kuanggap lagi
Bagai debu yang tersapu angin
Lenyap
Kau tak pernah menyadari
Aku sering mengintai duniamu
Dunia nyata
Ataupun dunia mayamu
Hingga aku merasa bahagia
Meski kadang terluka
Aku tak apa-apa
Sungguh
Melihat satu garis senyummu saja
Aku sudah (sangat) bahagia
Kau, yang mampu mengalihkan duniaku
Hanya sekejap saja
Sayangnya, aku hanya seorang wanita
Tak bisa apa-apa
Hanya bisa menanti
Menatap dari jauh
Berdoa dalam sujudku
Meminta yang terbaik pada-Nya
Jika namamu yang tertulis di buku (Lauhul Mahfudz) itu
Semoga Allah mengindahkan kita dalam hati masing-masing
Meski mungkin, hatimu sempat dipinjam yang lain
Namun ku percaya
Kau adalah pria yang setia
Yang akan mencintaiku seutuhnya
Mencintaiku karena-Nya
Dan selalu berusaha agar aku selalu dekat dengan-Nya
Terima kasih
Aku mencintaimu yang mencintaiku karena-Nya~
Tak paham
Ingatan itu telah rapuh
Bak sarang laba-laba
Terkoyak lalu hancur
Atau mungkin aku terlalu menikmati
Hingga sakit itu sudah tak kuanggap lagi
Bagai debu yang tersapu angin
Lenyap
Kau tak pernah menyadari
Aku sering mengintai duniamu
Dunia nyata
Ataupun dunia mayamu
Hingga aku merasa bahagia
Meski kadang terluka
Aku tak apa-apa
Sungguh
Melihat satu garis senyummu saja
Aku sudah (sangat) bahagia
Kau, yang mampu mengalihkan duniaku
Hanya sekejap saja
Sayangnya, aku hanya seorang wanita
Tak bisa apa-apa
Hanya bisa menanti
Menatap dari jauh
Berdoa dalam sujudku
Meminta yang terbaik pada-Nya
Jika namamu yang tertulis di buku (Lauhul Mahfudz) itu
Semoga Allah mengindahkan kita dalam hati masing-masing
Meski mungkin, hatimu sempat dipinjam yang lain
Namun ku percaya
Kau adalah pria yang setia
Yang akan mencintaiku seutuhnya
Mencintaiku karena-Nya
Dan selalu berusaha agar aku selalu dekat dengan-Nya
Terima kasih
Aku mencintaimu yang mencintaiku karena-Nya~
Minggu, 13 Juli 2014
Bongkahan kalimat yang terpendam
Beberapa bulan terakhir ini, aku merasa istimewa. Dicintai seseorang yang terlihat tulus. Aku tak pernah tahu bagaimana perasaannya. Aku tak pernah tahu apakah lisannya sejalan dengan hatinya? Dan aku tak mau tahu.
Perlahan, cinta itu mulai tumbuh. Puluhan bahkan ratusan kali aku mengelak atas perasaan ini, tapi memang benar. Usahanya untuk membuatku jatuh hati pun berhasil. Aku jatuh cinta lagi. Setelah beberapa tahun lamanya aku tak merasakan dicintai oleh seorang lelaki selain ayah dan adikku.
Kebahagiaan menyelimutiku. Meski terkadang aku harus merasakan bimbang akibat perasaanku sendiri. Aku gagal fokus. Cinta memang tak bisa dipaksakan, tidak bisa langsung datang hanya beberapa minggu atau bulan.
Aku terus berusaha mencintainya. Berharap perasaan itu setara dengan apa yang ia berikan. Namun, semakin kupaksakan, yang kurasa bukan lagi cinta, tapi kasihan. Ya, aku memang jahat. Tapi apa daya, aku tak bisa berbuat apa-apa.
Menjauh. Memang ini terdengar sakit, bahkan sangat sakit. Tapi, lebih sakit mana dengan mencintainya dengan penuh keraguan? Kegamangan? Kepalsuan dan dusta-dusta yang aku tampakkan padanya?
LEBIH JAHAT MANA? Maka aku putuskan agar dia membenciku. Aku tak peduli apa yang akan orang-orang katakan padaku. Jahat? Tak punya hati? Atau apapun. Aku sungguh TAK PEDULI!
Lelah. Aku selalu dihantui perasaan bersalah. Aku belum bisa mencintainya. Maka aku putuskan untuk mencintaiNYA. Agar aku dapat mencintai seseorang karenaNYA.
JanjiNYA itu pasti. Terdapat dalam QS AN-NUR ayat 26.
Jika dia akan membenciku dan melupakanku, aku tak apa. Memang seharusnya begitu, aku lebih pantas diperlakukan seperti itu. Tapi, tak ada sedikitpun niat untuk menyakitinya. Aku menyayanginya sebagai seorang muslim, sebagai saudara seiman. Apa daya, dia menyayangiku lebih dari itu. Aku tak meminta, aku tak pernah mengemis.
Aku hanya ingin kebahagiaan sebagai wanita pada usiaku. Biarlah aku rubah semua sifat burukku.
Jika ia akan datang kembali, hatinya pasti Allah gerakkan untuk menuju diriku kembali. Namun jika ia sudah terlampau benci, ia pasti tak akan datang kembali. Akan ada yang datang nanti. Entah siapa...
Aku tak ingin mengkhianati pasanganku di masa depan. Maka dari itu, aku ingin menyendiri. Biarlah keluarga dan sahabat yang menemaniku. Tak terkecuali, Allah dan Al-Qur'an. Itulah yang akan menemaniku kelak. Nanti, jika waktunya tiba, seseorang akan datang untuk segera mengkhitbah lalu menikahiku. Jika tidak, biarkanlah aku menjadi bidadari di syurga. Bertemu dengan jodohku di sana. Aamiin Yaa Robbal 'alamiin.
Meski terkesan dewasa, tak apalah. Sudah saatnya aku berpikir seperti ini.
Biarkan ini menjadi pengalaman yang menjadi guru terbaik di masa depanku.
Terima kasih telah datang ke kehidupanku dan memberiku kasih sayang yang tulus, yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Barakallah...
Perlahan, cinta itu mulai tumbuh. Puluhan bahkan ratusan kali aku mengelak atas perasaan ini, tapi memang benar. Usahanya untuk membuatku jatuh hati pun berhasil. Aku jatuh cinta lagi. Setelah beberapa tahun lamanya aku tak merasakan dicintai oleh seorang lelaki selain ayah dan adikku.
Kebahagiaan menyelimutiku. Meski terkadang aku harus merasakan bimbang akibat perasaanku sendiri. Aku gagal fokus. Cinta memang tak bisa dipaksakan, tidak bisa langsung datang hanya beberapa minggu atau bulan.
Aku terus berusaha mencintainya. Berharap perasaan itu setara dengan apa yang ia berikan. Namun, semakin kupaksakan, yang kurasa bukan lagi cinta, tapi kasihan. Ya, aku memang jahat. Tapi apa daya, aku tak bisa berbuat apa-apa.
Menjauh. Memang ini terdengar sakit, bahkan sangat sakit. Tapi, lebih sakit mana dengan mencintainya dengan penuh keraguan? Kegamangan? Kepalsuan dan dusta-dusta yang aku tampakkan padanya?
LEBIH JAHAT MANA? Maka aku putuskan agar dia membenciku. Aku tak peduli apa yang akan orang-orang katakan padaku. Jahat? Tak punya hati? Atau apapun. Aku sungguh TAK PEDULI!
Lelah. Aku selalu dihantui perasaan bersalah. Aku belum bisa mencintainya. Maka aku putuskan untuk mencintaiNYA. Agar aku dapat mencintai seseorang karenaNYA.
JanjiNYA itu pasti. Terdapat dalam QS AN-NUR ayat 26.
Jika dia akan membenciku dan melupakanku, aku tak apa. Memang seharusnya begitu, aku lebih pantas diperlakukan seperti itu. Tapi, tak ada sedikitpun niat untuk menyakitinya. Aku menyayanginya sebagai seorang muslim, sebagai saudara seiman. Apa daya, dia menyayangiku lebih dari itu. Aku tak meminta, aku tak pernah mengemis.
Aku hanya ingin kebahagiaan sebagai wanita pada usiaku. Biarlah aku rubah semua sifat burukku.
Jika ia akan datang kembali, hatinya pasti Allah gerakkan untuk menuju diriku kembali. Namun jika ia sudah terlampau benci, ia pasti tak akan datang kembali. Akan ada yang datang nanti. Entah siapa...
Aku tak ingin mengkhianati pasanganku di masa depan. Maka dari itu, aku ingin menyendiri. Biarlah keluarga dan sahabat yang menemaniku. Tak terkecuali, Allah dan Al-Qur'an. Itulah yang akan menemaniku kelak. Nanti, jika waktunya tiba, seseorang akan datang untuk segera mengkhitbah lalu menikahiku. Jika tidak, biarkanlah aku menjadi bidadari di syurga. Bertemu dengan jodohku di sana. Aamiin Yaa Robbal 'alamiin.
Meski terkesan dewasa, tak apalah. Sudah saatnya aku berpikir seperti ini.
Biarkan ini menjadi pengalaman yang menjadi guru terbaik di masa depanku.
Terima kasih telah datang ke kehidupanku dan memberiku kasih sayang yang tulus, yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Barakallah...
Cinta Sejati itu Menyembuhkan bukan Menyakitkan
Banyak orang mengatakan, "Cinta sejati itu menyembuhkan, bukan menyakitkan."
Aku setuju. Dan jika kau mencintainya, namun hanya derita, resah, dan gelisah yang kau dapat, itu bukan cinta. Menjauhlah. Itu lebih baik daripada harus menyakitinya lebih lama. Kau kira dicintai tanpa mencintai itu perkara 'enak'?
TIDAK! Setiap hari kau harus dihantui perasaan bersalah. Makan pun tak enak, ini lebih dari mencintai tanpa dicintai. Lebih sakit, teramat sakit.
You CAN MOVE ON!
Jangan membuat orang yang kau sayang semakin bersalah atas perasaan yang kau punya. Jika kau sayang, sudahlah, ucapkan dalam hati. Jika kau rindu, ucapkanlah pada pemiliknya, Allah SWT.
Baik, ini bukan perkara mudah, tapi bagi saya ini lebih baik. Ketimbang harus membuat orang lain terluka.
Relakah membuat orang yang kau sayang menangis? Sanggupkah kau untuk menanggung beban kesedihannya?
Cinta takkan egois, Saudaraku.
Semoga menjadi bahan renungan.
Barakallah...
Aku setuju. Dan jika kau mencintainya, namun hanya derita, resah, dan gelisah yang kau dapat, itu bukan cinta. Menjauhlah. Itu lebih baik daripada harus menyakitinya lebih lama. Kau kira dicintai tanpa mencintai itu perkara 'enak'?
TIDAK! Setiap hari kau harus dihantui perasaan bersalah. Makan pun tak enak, ini lebih dari mencintai tanpa dicintai. Lebih sakit, teramat sakit.
You CAN MOVE ON!
Jangan membuat orang yang kau sayang semakin bersalah atas perasaan yang kau punya. Jika kau sayang, sudahlah, ucapkan dalam hati. Jika kau rindu, ucapkanlah pada pemiliknya, Allah SWT.
Baik, ini bukan perkara mudah, tapi bagi saya ini lebih baik. Ketimbang harus membuat orang lain terluka.
Relakah membuat orang yang kau sayang menangis? Sanggupkah kau untuk menanggung beban kesedihannya?
Cinta takkan egois, Saudaraku.
Semoga menjadi bahan renungan.
Barakallah...
Langganan:
Komentar (Atom)