Kau...
Sampai kapan meletakkan topeng itu?
Tak lelahkah?
Tak merasa berdosakah?
Berapa kesedihan yang kau sembunyikan dari mereka?
Dari hiruk pikuk keramaian yang nyata kau rasa sepi
Ceritakan pada angin
Jelaskan pada hujan
Teriakkan pada langit senja yang setia menemani mentari untuk tenggelam
Kau...
Tak kasihankah pada dirimu sendiri?
Lihat, mereka pun bisa
Mereka pun mau
Berada di posisinya
Yang kau sayangi saat ini
Lihatlah, sayang
Mereka mencium kebohonganmu
Dustamu segera terkupas
Berkacalah, lihat matamu yang berlinang air mata
Hanya mereka yang mampu menebak kesedihan itu
Senin, 01 Desember 2014
Selasa, 28 Oktober 2014
Ada apa dengan LISAN
Bismillah
Assalaamu'alaikum wr wb.
Akhirnya, setelah beberapa minggu tidak muncul di blog, sore ini saya ingin berbagi seperti biasanya. Kali ini tentang "Lisan".
Memang benar, ya, lidah itu tidak bertulang. Dan yang paling tajam di dunia ini bukanlah pedang, pisau, atau yang lainnya, tapi lidah. Coba, saking bahayanya, lidah dipagari gigi, lalu dilem pula oleh bibir. Memangnya ada apa dengan si "Lidah" ini?
Ternyata, si Lidah ini meski kecil dan di tempat tersembunyi, bisa melukai hati atau perasaan yang letaknya pun tak terlihat. Ish ish...
Saya pernah membaca kalimat, "Berpikir dulu sebelum berbicara", secara tidak langsung, kalimat ini telah menyimpulkan, lidah kita harus disinkronkan dengan otak. Karena, salah-salah, kita bisa menyakiti orang lain. Ibarat kertas yang sudah dicoreti pensil, meski dihapus pasti akan ada bekasnya. Begitu pun dengan hati dan lisan. Meskipun sudah meminta maaf, rasa sakit hati itu belum tentu sepenuhnya hilang.
Dalam peribahasa sunda pun dikatakan, "Basa mah teu kudu meuli". Maksudnya, kita harus bisa menempatkan tata cara bicara kita, pada teman, orang tua, adik, guru, dan yang lainnya. Tidak sulit, kok.
Jika kita mau, kita bisa berusaha untuk menjaga lisan. Bagaimana caranya? Ya yang pertama, pikiran dan hati harus disambungkan terlebih dahulu, harus seimbang. Lihat lawan bicara kita. Kepada orang tua kita harus sopan, kepada teman pun begitu, dan adik juga harus sama rata. Orang yang bahasanya baik, pasti akan mendapat perlakuan baik pula dari siapapun. "Hade tata hade basa".
Marah. Nah, ini, jaga lisannya kalau marah. Diikat kalau bisa, hehe. Karena tak jarang si "Lidah" berulah saat marah. Daripada melukai orang lain, lebih baik diam. Seperlunya. Tak usah bicara banyak-banyak. Beristighfarlah sebanyak-banyaknya. Minta perlindungan dari Alloh dari marah tersebut. Tak jarang pula, dari marah, lalu bertengkar, adu mulut lalu terjadi hal yang tidak diinginkan (semoga Alloh melindungi dari hal tersebut). Itu karena hatinya diisi, dibisiki dan dikelitiki oleh hawa nafsu yang sifatnya sudah manusiawi. Tergantung bagaimana kita menghadapi si Lidah tersebut.
Semoga saya, anda, dan kita semua dapat menjaga lisan, merawat lisan dan menghiasi lisan dengan yang baik-baik. Insyaa Alloh.
*yang benar datangnya dari Alloh, yang salahnya murni dari saya sendiri.
Semoga bermanfaat.
Wassalamu'alaikum ^_^
Assalaamu'alaikum wr wb.
Akhirnya, setelah beberapa minggu tidak muncul di blog, sore ini saya ingin berbagi seperti biasanya. Kali ini tentang "Lisan".
Memang benar, ya, lidah itu tidak bertulang. Dan yang paling tajam di dunia ini bukanlah pedang, pisau, atau yang lainnya, tapi lidah. Coba, saking bahayanya, lidah dipagari gigi, lalu dilem pula oleh bibir. Memangnya ada apa dengan si "Lidah" ini?
Ternyata, si Lidah ini meski kecil dan di tempat tersembunyi, bisa melukai hati atau perasaan yang letaknya pun tak terlihat. Ish ish...
Saya pernah membaca kalimat, "Berpikir dulu sebelum berbicara", secara tidak langsung, kalimat ini telah menyimpulkan, lidah kita harus disinkronkan dengan otak. Karena, salah-salah, kita bisa menyakiti orang lain. Ibarat kertas yang sudah dicoreti pensil, meski dihapus pasti akan ada bekasnya. Begitu pun dengan hati dan lisan. Meskipun sudah meminta maaf, rasa sakit hati itu belum tentu sepenuhnya hilang.
Dalam peribahasa sunda pun dikatakan, "Basa mah teu kudu meuli". Maksudnya, kita harus bisa menempatkan tata cara bicara kita, pada teman, orang tua, adik, guru, dan yang lainnya. Tidak sulit, kok.
Jika kita mau, kita bisa berusaha untuk menjaga lisan. Bagaimana caranya? Ya yang pertama, pikiran dan hati harus disambungkan terlebih dahulu, harus seimbang. Lihat lawan bicara kita. Kepada orang tua kita harus sopan, kepada teman pun begitu, dan adik juga harus sama rata. Orang yang bahasanya baik, pasti akan mendapat perlakuan baik pula dari siapapun. "Hade tata hade basa".
Marah. Nah, ini, jaga lisannya kalau marah. Diikat kalau bisa, hehe. Karena tak jarang si "Lidah" berulah saat marah. Daripada melukai orang lain, lebih baik diam. Seperlunya. Tak usah bicara banyak-banyak. Beristighfarlah sebanyak-banyaknya. Minta perlindungan dari Alloh dari marah tersebut. Tak jarang pula, dari marah, lalu bertengkar, adu mulut lalu terjadi hal yang tidak diinginkan (semoga Alloh melindungi dari hal tersebut). Itu karena hatinya diisi, dibisiki dan dikelitiki oleh hawa nafsu yang sifatnya sudah manusiawi. Tergantung bagaimana kita menghadapi si Lidah tersebut.
Semoga saya, anda, dan kita semua dapat menjaga lisan, merawat lisan dan menghiasi lisan dengan yang baik-baik. Insyaa Alloh.
*yang benar datangnya dari Alloh, yang salahnya murni dari saya sendiri.
Semoga bermanfaat.
Wassalamu'alaikum ^_^
28 Oktober 2014
16.51
Kamelia Yuniar
Minggu, 28 September 2014
Realistis?
"Mi, gini, ya. Hidup ini harus realistis. Jangan sampai, keidealisme-an kamu itu jadi penghalang kamu untuk menggapai masa depan kamu."
Realistis? Bukankah aku benar? Ralat, aku memang tidak sepenuhnya benar. Tapi, setiap orang kan mempunyai caranya masing-masing untuk melakukan sesuatu hal. Contohnya, aku. Menyayanginya dengan cara berdiam diri, mendoakan yang terbaik baginya. Saat yang lain sibuk memberi perhatian pada si 'pacar', aku hanya bisa menitipkan rinduku padaNYA. Karena aku menyadari, aku tak bisa berada di sampingnya untuk saat ini. Apalah arti rindu dan cinta, jika Allaah akan murka padaku, terlebih padanya. Bukankah "Hasbunallaah wa ni'mal wakiil" ? Lantas mengapa semua seakan memojokkanku? Hanya karena aku tak ingin mempunyai status terlarang itu? Aku memang kaum minoritas. Bukan karena aku tak bisa mencintai, bukan karena aku tak menyayanginya. Sama sekali bukan! Justru inilah caraku untuk mencintainya. Lewat lantunan doa yang terselip di setiap sujud panjang itu.
Ya, mengapa aku harus khawatir? Bukankah Allaah telah menyiapkan yang terbaik untuk yang terbaik pula? Yang aku tahu, lelaki senakal apapun, pasti menginginkan wanita yang baik. Bukan begitu, wahai kaum Adam?? Lantas mengapa seolah aku ini fanatik sekali terhadap 'anti pacaran'?? Memang benar kata Imam Syafi'i, "Perkataanku benar tapi ada titik salahnya, dan perkataan orang lain salah tapi ada titik benarnya", tapi, apa dalam masalah kegiatan berdua-duaan dengan non mahram itu benar?
Bukan aku sok benar, aku juga sedang dan akan selalu mencintai seseorang. Dan kerap kali memikirkannya ketika hendak tidur. Kata siapa aku shalihah? Jauh dari kata itu. Tapi, aku ingin memperbaiki status yang Allaah beri, sebagai 'Hamba'. Apakah layak, seorang hamba, selalu mengingkari aturan Rabb-nya? Apakah layak, seorang hamba, tidak taat pada Rabb-nya? Sungguh, tidak layak sama sekali.
Jadi? Siapa yang harus realistis? Tak melulu soal cinta pada lawan jenis, kan? Cukuplah kini Allaah dulu, Allaah terus, dan Allaah lagi. Coba melakukan pendekatan dengan-Nya. Berkhalwat dengan-Nya. Silakan tafakuri kalimat ini, "Satu cobaan yang Allaah beri, sejuta kebaikan yang Allaah ganti."
KURANG BAIK APA? :'( *Ngomong depan cermin*
Ya, biarkan aku dengan caraku sendiri, dengan keREALISTISanku. Hasbiyallaah~
Realistis? Bukankah aku benar? Ralat, aku memang tidak sepenuhnya benar. Tapi, setiap orang kan mempunyai caranya masing-masing untuk melakukan sesuatu hal. Contohnya, aku. Menyayanginya dengan cara berdiam diri, mendoakan yang terbaik baginya. Saat yang lain sibuk memberi perhatian pada si 'pacar', aku hanya bisa menitipkan rinduku padaNYA. Karena aku menyadari, aku tak bisa berada di sampingnya untuk saat ini. Apalah arti rindu dan cinta, jika Allaah akan murka padaku, terlebih padanya. Bukankah "Hasbunallaah wa ni'mal wakiil" ? Lantas mengapa semua seakan memojokkanku? Hanya karena aku tak ingin mempunyai status terlarang itu? Aku memang kaum minoritas. Bukan karena aku tak bisa mencintai, bukan karena aku tak menyayanginya. Sama sekali bukan! Justru inilah caraku untuk mencintainya. Lewat lantunan doa yang terselip di setiap sujud panjang itu.
Ya, mengapa aku harus khawatir? Bukankah Allaah telah menyiapkan yang terbaik untuk yang terbaik pula? Yang aku tahu, lelaki senakal apapun, pasti menginginkan wanita yang baik. Bukan begitu, wahai kaum Adam?? Lantas mengapa seolah aku ini fanatik sekali terhadap 'anti pacaran'?? Memang benar kata Imam Syafi'i, "Perkataanku benar tapi ada titik salahnya, dan perkataan orang lain salah tapi ada titik benarnya", tapi, apa dalam masalah kegiatan berdua-duaan dengan non mahram itu benar?
Bukan aku sok benar, aku juga sedang dan akan selalu mencintai seseorang. Dan kerap kali memikirkannya ketika hendak tidur. Kata siapa aku shalihah? Jauh dari kata itu. Tapi, aku ingin memperbaiki status yang Allaah beri, sebagai 'Hamba'. Apakah layak, seorang hamba, selalu mengingkari aturan Rabb-nya? Apakah layak, seorang hamba, tidak taat pada Rabb-nya? Sungguh, tidak layak sama sekali.
Jadi? Siapa yang harus realistis? Tak melulu soal cinta pada lawan jenis, kan? Cukuplah kini Allaah dulu, Allaah terus, dan Allaah lagi. Coba melakukan pendekatan dengan-Nya. Berkhalwat dengan-Nya. Silakan tafakuri kalimat ini, "Satu cobaan yang Allaah beri, sejuta kebaikan yang Allaah ganti."
KURANG BAIK APA? :'( *Ngomong depan cermin*
Ya, biarkan aku dengan caraku sendiri, dengan keREALISTISanku. Hasbiyallaah~
Rabu, 03 September 2014
Daun-daun Berguguran
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu’alaikum wr wb.
Allahumma shalli ‘ala
sayyidina Muhammad wa ‘alaa ali sayyidina Muhammad. Allahumma yassir wa laa
tuassir. Aamiin.
Alhamdulillah, salah
satu catatan saya untuk memenuhi blog ini pun rampung sudah. Selamat membaca ^^
***
“Satu-satu, daun-daun, berguguran
tinggalkan tangkainya…”
Sepenggal lirik lagu lawas
yang saya tuliskan ini, sudah lama tak terdengar. Tiba-tiba saja, saya teringat
lagu ini. Bukan hanya karena saya rindu masa kecil saya, tetapi, karena
perlahan, sahabat-sahabat saya mulai berguguran. Ambigu, ya? Berguguran di sini
bukan berguguran mati karena perang seperti Israel dan Palestina, tapi, mereka
berguguran mati karena kalah perang melawan nafsunya. Mungkin dalam tulisan
saya ini akan ada yang tersinggung. Maafkan saya.
Dulu, kami –saya dan sahabat-sahabat saya—
mempunyai prinsip yang sama. Kalau zaman sekarang sih biasa dibilang “Jomblo
Sampai Sah dan Halal” atau biasa disingkat “JOSSH”. Kami memupuk perasaan ini
dan meluruskannya agar tidak menjadi salah. Tak ubahnya seperti remaja lain. Meski
berprinsip seperti itu, kami juga manusia, bisa jatuh cinta. Hanya saja, kami
tak menyalurkan cinta ini ke jalan yang “mungkin” Allaah tak suka (baca:
pacaran).
Bukan satu atau dua cara yang syetan
lakukan untuk membujuk kami. Dimulai dari cara yang lumrah, sampai cara yang
islami seperti membangunkan untuk sahur, tahajjud, mengingatkan shalat, dan
masih banyak lagi. Ternyata syetan pun terselip di sana. Ada debar rasa dalam
hati, menganggap dirinyalah yang paling shalih/shalihah. Tak sadar, hal itu
dapat mengurangi niat beribadah karena Allaah, juga dapat mengotori hati. Ya
mungkin harus disapu, dipel atau direnovasi hatinya… -_- Salah fokus. Oke maaf,
ini bukan rumah, ya?
Tak sedikit aktivis-aktivis dakwah yang
dulunya menolak PACARAN, pada akhirnya termakan oleh kata-katanya sendiri.
Tidak! Mereka bukan munafik! Saya tekankan, BUKAN MUNAFIK! Mereka sedang diuji,
dan rekan seperjuangan mereka pun sedang diuji. Bukan maksud saya untuk membela
mereka. Karena jujur, saya sendiri tak rela melihat sobat karib dunia akhirat
saya harus masuk ke dalam jurang kemaksiatan.
Saya merasa gagal menjadi seorang teman.
Saya memang ada hak untuk marah, tapi, siapalah saya? Perkataan orang yang
munafik seperti saya ini, jarang ada yang mau mendengarkan. Saya hanya bisa
mengajak, mengajak dan mengajak orang lain. Diri sendiri saja masih berjalan
merangkak untuk kembali ke jalan-Nya. Tapi, biarlah. Biarlah ajakan ini menjadi
motivasi untuk diri saya juga.
Satu persatu sobat saya, menghalalkan
aktivitas itu. “Daun-daun berguguran
tinggalkan tangkainya.” Manusia-manusia itu diibaratkan sebagai sehelai
daun, dan prinsip mereka adalah tangkainya. Maka, benarlah lagu tersebut, daun-daun itu berguguran tinggalkan tangkainya. Manusia-manusia itu
tak kuat, belum cukup mampu mempertahankan prinsipnya.
GALAU. Hanya kata itulah yang mampu
mengekspresikan hati saya saat ini. Bagaimana nanti jika Allaah bertanya di Yaumul
Hisab? Apa yang akan saya jawab? Bagaimana nasib laporan pertanggungjawaban
saya kelak, jika saya asyik beribadah, sedangkan teman saya dibiarkan melakukan
maksiat? Dibiarkan bersentuhan tangan dengan non-mahramnya, menatapnya dengan
penuh nafsu, dan aaahh masih banyak lagilah. Jahat sekali saya ini, Yaa Robb L
Ampuni diri ini….
Apalah yang bisa kulakukan selain memohon
pada-Nya? Memohon untuk kesadaran rekan-rekan saya. Karena apapun yang saya
katakan, apapun yang saya lakukan, jika Allaah tak ingin memberi hidayah,
sekuat apapun dalil dan alasan saya, tak akanlah hati mereka bergerak untuk
kembali memperbaiki diri.
Meski begitu, saya tak ingin menyerah.
Terkadang saya menyelinap di balik hubungan mereka. Saat mereka bertengkar
dengan ‘kekasih belum halal’nya, saya hadir untuk menjadi pendengar setia.
Terkadang sakit sekali, sakit yang menyayat hati, jiwa, dan raga *okeinilebay*.
Dan disitulah saya beraksi. Ujung-ujungnya saya katakan, “Tuhkaaaan, cowok mah
emang gitu. Itutuh kode ingin putus, bosen sama kamu. Udah, udahan aja,” meski kata-kata
itu hanya masuk ke telinga kanan lalu keluar telinga kiri, yaa tak apalah. Yang
penting saya sudah mengingatkan. Karena yang salah itu adalah membiarkan suatu
kemaksiatan tetap berjalan, dengan sepengetahuan kita. Bisa dibilang pura-pura
buta, pura-pura tuli, pura-pura gagu, dan masih banyak kepura-puraan itu. Tanpa
disadari, kita sudah bersikap apatis terhadap orang-orang terkasih. Bukankah indah,
jika kita nanti dapat berkumpul di Jannah-Nya?
Hmm…ternyata bukan hanya teman penulis
blog ini saja yang mengalami hal yang serupa. Penulisnya –saya sendiri— pun
sering terkena demam cinta, akibat virus merah jambu yang seringkali menyerang
daya tahan iman saya. Namanya juga manusia. Setingkat ulama, ustadz, dan tokoh
agama terkemuka pun, pasti pernah berbuat kesalahan. Dan setiap harinya harus
dibasmi oleh nasihat-nasihat dari Yang Maha Segalanya, dengan cara membaca
kalimat-kalimat indah-Nya. Semua termaktub dalam Al-Qur’anul kariim. Insya
Allaah, hati merasa lebih tenang.
Ingat, kalau ada apa-apa, bilang sama
Allaah, ngadu sama Allaah. Kalau mau apa-apa, mintanya sama Allaah, berdoa sama
Allaah, nanti Allaah beri jalan, Allaah beri perantara. Seperti mendapatkan
sesuatu dari seseorang, uang dari orang tua, udara yang bebas dan gratis di
bumi, matahari yang bersinar menghangatkan badan, kalau bukan Allaah yang memberi semua ini,
lantas siapa lagi? Maka nikmat Tuhanmu yang
manakah yang kamu dustakan?
Jadi, saat saya kecewa pada hati saya,
pada rekan saya, daripada terus menyimpan kecewa, apalagi yang lebih baik
daripada mendoakannya dengan tulus dan ikhlas? Karena hanya Allaah lah Maha
Pembolak-balik hati. Maka, janganlah men-judge
seseorang dari masa lalunya yang kelam. Siapa yang tahu bila suatu saat nanti
orang tersebut akan menjadi kekasih Allaah? Kekasih yang dirindukan syurga, dan
kekasih yang dicari-cari oleh para malaikat.
Tetap doakan rekan yang sedang diuji. Semoga
Allaah menggerakkan hatinya untuk segera bertaubat, taubatan nasuha. Dan doakan
juga untuk saya, semoga Allaah selalu melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya, dan
semoga prinsip saya ini dapat saya pertahankan. Aamiin, semoga doa kalian untuk
saya, dapat sekaligus mendoakan anda juga, insyaa Allaah. Maafkan saya jika
dalam tulisan ini terdapat banyak kesalahan yang membuat kalian tak nyaman. Saya
hanya manusia yang masih dan akan terus belajar. Terima kasih telah menyempatkan
untuk membaca tulisan ini.
Barakallaahu fiikum.
Wallahu a’lam bisshawaab.
Wassalamu’alaikum wr
wb.
Di kamar, 2-3 September
2014.
Minggu, 24 Agustus 2014
Surat Abstrak dibalut Rindu
Bismillah
Assalamu'alaikum, Yaa Habibi.
Bagaimana kabarmu di sana? Maafkan aku, karena aku merindukanmu.
Kau tahu? Air mataku tak sengaja jatuh karena mengingatmu.
Ya, aku tahu, kau pasti tidak ingin melihatku menangis. Tapi apalah dayaku, Sayang? Rindu ini sungguh sangat menyesakkan. Aku juga tidak ingin noktah-noktah rindu itu mengotori hatiku yang seharusnya hanya untuk-Nya, HANYA UNTUK-NYA...
Tapi sungguh, aku tak bisa menyembunyikan gemuruh rindu ini.
Kucoba mengambil air wudu, lalu menghadap-Nya. Berharap rindu ini sedikit mereda, tapi tangis karena rindu itu malah semakin menjadi. Maafkan aku...
Siapalah yang harus bertanggung jawab atas rindu ini. Untuk bertemu saja, kita belum mampu, belum cukup kuat.
Kupupuk rindu ini dengan doa-doa yang selalu kusampaikan pada-Nya, untukmu, Sayang. Apa kau juga begitu? Apa kau juga selalu mendoakanku? Apa kau juga selalu merindukanku?
Ana musytaq ilaika, Yaa Habibi :'(
Aku tak bisa mengatakannya langsung, maka kutulislah kalimat demi kalimat untuk mengungkapkan rasa rindu ini. Karena hanya inilah yang dapat kulakukan untuk meminimalisir rasa rinduku.
Untukmu yang entah di mana, semoga Allaah selalu menjagamu, meridhai segala urusanmu, dan semoga dirimu selalu mengingat-Nya.
Jangan lupakan aku, perjuangkan aku. Kunantikan dirimu di batas waktu.
Salam rindu, dariku, masa depanmu.
Wassalamu'alaikum. <3
Assalamu'alaikum, Yaa Habibi.
Bagaimana kabarmu di sana? Maafkan aku, karena aku merindukanmu.
Kau tahu? Air mataku tak sengaja jatuh karena mengingatmu.
Ya, aku tahu, kau pasti tidak ingin melihatku menangis. Tapi apalah dayaku, Sayang? Rindu ini sungguh sangat menyesakkan. Aku juga tidak ingin noktah-noktah rindu itu mengotori hatiku yang seharusnya hanya untuk-Nya, HANYA UNTUK-NYA...
Tapi sungguh, aku tak bisa menyembunyikan gemuruh rindu ini.
Kucoba mengambil air wudu, lalu menghadap-Nya. Berharap rindu ini sedikit mereda, tapi tangis karena rindu itu malah semakin menjadi. Maafkan aku...
Siapalah yang harus bertanggung jawab atas rindu ini. Untuk bertemu saja, kita belum mampu, belum cukup kuat.
Kupupuk rindu ini dengan doa-doa yang selalu kusampaikan pada-Nya, untukmu, Sayang. Apa kau juga begitu? Apa kau juga selalu mendoakanku? Apa kau juga selalu merindukanku?
Ana musytaq ilaika, Yaa Habibi :'(
Aku tak bisa mengatakannya langsung, maka kutulislah kalimat demi kalimat untuk mengungkapkan rasa rindu ini. Karena hanya inilah yang dapat kulakukan untuk meminimalisir rasa rinduku.
Untukmu yang entah di mana, semoga Allaah selalu menjagamu, meridhai segala urusanmu, dan semoga dirimu selalu mengingat-Nya.
Jangan lupakan aku, perjuangkan aku. Kunantikan dirimu di batas waktu.
Salam rindu, dariku, masa depanmu.
Wassalamu'alaikum. <3
Sabtu, 23 Agustus 2014
Hal Kecil yang Sering dianggap Remeh
| Sumber Foto: News.com. Lokasi: CK-PWI Jln Asia Afrika, Bandung. |
Bismillah
Assalamu’alaikum wr wb.
Allahumma shalli ‘alaa sayyidina
Muhammad wa’alaa alii sayyidina Muhammad.
Alhamdulillahirabbil’alamiin,
akhirnya selesai juga tulisan ini, dan kini sudah dapat dibaca oleh mata anda.
Saya
ingin berbagi cerita tentang kejadian Selasa lalu (19 Agustus 2014). Hari itu,
seperti biasa, saya tengah melaksanakan prakerin (Praktik Kerja Industri), demi
memenuhi tugas di SMK. Saya mendengar ponsel saya berdering, tanda pesan masuk.
Ternyata teman saya. Ia mengajak untuk menjenguk ketua organisasi yang masih
rekan saya juga, di salah satu Rumah Sakit Negeri di Bandung. Awalnya saya menolak,
dengan alasan prakerin. Tapi, akhirnya saya luluh juga karena saya pun rindu
pada ketua organisasi tersebut. Etsss, ketuanya wanita, ya. ehehe. Maka saya
pun mengiyakannya.
“Bilang
gak, ya, sama mamah? Duh, mana sore, takut dimarahin… tapi gak apa-apalah.
Bismillah, pasti boleh.” Perang pemikiran pun berlangsung. Dan saya selalu
ingat, ridha Allaah karena ridha orang tua. Meski sedikit was-was, saya tetap
meminta izin pada ibu saya, meskipun tak ada balasan. Mungkin sibuk.
Pukul
15.45 saya dipersilakan pulang oleh pembimbing perusahaan. Sinyal mulai
memburuk. Pesan yang saya kirim tidak sampai dengan selamat. Ya sudah, shalat ashar dulu.
Usai
melaksanakan shalat, ponsel saya masih seperti bangkai. Saya coba telepon lalu
saya matikan. Teman saya balik menelepon, lalu bertanya keberadaan saya.
Akhirnya, ia pun berangkat dari tempat dia bersemedi *apaan?* menuju tempat
magang saya.
Waktu
menunjukkan pukul 16.30. Saya menunggu
di pinggir jalan kantor. Duduk di dekat kolam yang tak ada ikannya, sambil
memasang headset dan mendengarkan
beberapa suara yang ada dalam ponsel.
Tiba-tiba,
ada yang bergetar di dalam, “Peruuuttt, kebiasaan!” badan saya selalu lemas ketika
menjelang maghrib. Mungkin butuh asupan tenaga dari makanan, yaa :D ekeke. Oke
lanjut. Kebetulan, eh gak ada yang kebetulan, ya? Ganti. Di sebelah kantor, ada
sebuah mini market yang biasa disebut Circle-K
atau CK. Saya pun langsung memburunya demi perut saya tercinta…
Sepotong
roti coklat seharga lima ribu lima ratus pun saya beli, untuk mengembalikan
tenaga dalam tubuh saya. Sedikit mahal, sih. Biasanya, harga roti sebesar itu
hanya seribu rupiah. Maklum, di kota… Sambil menunggu kembalian, saya melihat
orang-orang yang sedang menonton pertandingan Persib (saya lupa lawannya siapa
waktu itu) di ruangan sebelah. Circle-K,
selain menyediakan makanan, minuman dan barang lainnya, juga menyediakan tempat
untuk beristirahat. Lengkap dengan meja, kursi dan televisi.. Karena urusan
saya sudah selesai, saya pun keluar.
Tepat
di depan CK, ada tempat duduk yang terbuat dari semen. Saya pun diam dan duduk
di situ. Melahap roti tersebut dan menikmati setiap potong yang masuk ke dalam
mulut.
Sepuluh
menit berlalu dan roti saya belum habis. Datanglah empat siswi dengan motornya,
yang kelihatannya seusia dengan saya. Sambil menikmati roti, saya perhatikan
mereka. Ada yang masih berseragam lengkap, ada yang masih memakai rok abu
dengan kaos dan jaket, ada juga yang sudah memakai pakaian main. Mereka pun
masuk ke dalam CK.
Pukul
17.05 akhirnya teman saya DATANG, pemirsaaa. Setelah hampir satu jam saya
menunggu. Sampai-sampai tiga bis berjalan melewati pandangan, juga roti yang
sudah habis dengan waktu yang lama. Ya sudahlah, yang penting dia datang. Kami
pun segera pergi meninggalkan tempat itu menuju Rumah Sakit. Alhamdulillah
pergi dan pulang sampai rumah dengan selamat.
***
Keesokan
harinya, ketika sedang berjalan menuju kantor, saya kaget. Kenapa? Ada garis
polisi di depan CK yang kemarin saya tempati. Ada tawurankah? Pembunuhan? Atau ada apa???? Kaca-kaca pecah. Ada
lubang seperti bekas tembakan. Saya langsung menaikkan kecepatan kaki saya
untuk berjalan.
Sesampainya di
kantor, “Pak, itu ada apa? Pakai garis polisi segala?”
“Kan ambruk,
Neng. Jam setengah lima…” bapak itu pun berbicara dengan yang lain. Saya
langsung bergegas menuju ruangan untuk mencari informasi di koran. Ya, saya job di sebuah kantor pusat koran. Jadi,
di sana banyak koran. :3
Setelah saya baca,
ternyata kejadiannya tepat kemarin sore. Ada sumber yang mengatakan tepat pukul
16.30 itu terjadi, loh, saya masih di
sana atuh jam segitu mah? Lalu ada sumber lain yang mengatakan bahwa
bangunan itu ambruk pada pukul 17.15. Disebutkan ada delapan orang yang menjadi
korban. Namun, hanya luka ringan. Ya tetap saja sakit, kan? Dan katanya, ada
tiga remaja putri yang menjadi korban. Mereka dibawa ke klinik terdekat. Apa mungkin anak-anak yang kemarin saya
lihat?
Tak
henti-hentinya bibir ini bersyukur. Andaikata, saya masih di sana waktu itu,
mungkin pecahan kaca sudah menusuk wajah dan tubuh saya. Alhamdulillah.
Selesai. Etsss tunggu, jangan dulu tutup blognya. Mari kita ambil sisi
positifnya. Saya berpikir, bagaimana jika saya tidak meminta izin waktu itu,
apakah Allaah masih menyelamatkan saya dari pecahan kaca tersebut? Rentang
waktu saya berangkat ke RS dan kejadian ambruknya bangunan tersebut sangatlah
tipis. HANYA SEPULUH MENIT!!
Jangan pernah
meremehkan hal kecil, seperti meminta izin kepada orang tua. Meskipun niatnya
sudah baik, ingin menjenguk teman yang sakit, tapi jika orang tua tidak
mengizinkan, bisa saja waktu itu Allaah menegur saya dengan jatuhnya kepingan
kecil nan tajam itu. Saya tidak tahu, apakah siswi-siswi yang kemarin sudah
meminta izin atau belum. Ya, semoga saja sudah.
Dalam sebuah
hadits dikatakan, “Ridha Allaah berada di atas ridha orang tua, dan laknat
Allaah di atas laknat kedua orang tua.” (Buku
Indahnya Menjadi Muslimah Sukses, Cantik dan Berkarakter hal 192).
Terima kasih
telah meluangkan waktunya untuk membaca. Semoga dapat menjadi bahan renungan,
dan bermanfaat bagi saya dan Anda yang membacanya. Wallahu a’lam.
Wassalamu’alaikum wr wb.
Langganan:
Komentar (Atom)